Film & Karya dalam Film Indonesia Terbaik 2018

Film Indonesia Terbaik 2018Tiga tahun terakhir, bahagia sekali rasanya menjadi penikmat karya sinema kita. Kabar paling menggembirakan tentu adalah jumlah penjualan tiket kita sepanjang tahun 2018 yang mencapai 50 juta. Sebuah pencapaian lainnya adalah produksi yang terus meningkat, meski sayangnya belum diikuti peningkatan jumlah layar yang signifikan sehingga seringkali meninggalkan pembagian porsi dan masa tayang yang belum layak, serta sebagian besarnya diisi oleh satu genre saja: horor (yang tidak dikerjakan dengan baik sehingga nyaris membuat saya menyerah). Pun dalam kualitasnya, rasanya karya sinema kita yang dirilis di tahun 2018 belumlah dapat sebaik yang dirilis di tahun 2017, meski tetap baik dan memberikan pengalaman yang menyenangkan. Apalagi, dengan eksplorasi tema yang terus berjalan, perlahan tapi pasti. Untuk semua itu, saya sangat bersyukur.

Sebagai salah satu apresiasi, seperti yang sudah saya lakukan beberapa tahun terakhir, saya mencoba menuliskan kembali daftar karya sinema kita yang berhasil memberikan pengalaman terbaik bagi saya setahun ini. Seperti tahun lalu juga, catatan ini diisi oleh lima belas film dan catatan tambahan mengenai karya-karya terbaik dalam film dari nama-nama yang telah membuat karya sinema kita menjadi lebih baik. Semuanya ditulis berdasarkan 112 film yang saya tonton di bioskop dan ruang-ruang pemutaran sepanjang tahun ini. Ini dia.

  1. Keluarga Cemara

    Film Keluarga CemaraDrama keluarga dengan kemampuan menguras tangis yang mematikan. Jarang ada dalam sinema kita. Suka sekali dengan kekuatan interaksi Abah, Emak, Euis, dan Ara yang terasa tulus dan sangat nyata. Tempat belajar yang baik dan hangat untuk keluarga.

  2. Kulari ke Pantai

    Kulari ke Pantai

    Bahagia sekali rasanya bisa menonton film anak pada kualitas terbaiknya setelah sekian lama. Film perjalanan yang dapat menjadi tempat belajar, tidak hanya untuk anak-anak yang mengikutinya, melainkan juga orang dewasa yang membersamainya. Sepulangnya, saya begitu bersyukur bisa menyerap kebaikan yang ada di dalamnya. Kita perlu lebih banyak lagi film seperti ini.

  3. Aruna & Lidahnya

    Aruna dan LidahnyaSebuah racikan unik dalam etalase hidangan sinema kita. Cinta yang berpadu dengan medis, penyelidikan, kuliner, dan politik. Manis-canggung, kaya rasa, menggelitik, dan terasa akrab. Seperti resep turun-temurun yang dimasakkan Ibu di rumah sehari-hari. Bahan utamanya: sentuhan Edwin yang tidak biasa dan terasa asli, Dian-Nicho-Oka-Hannah yang cair dan hangat, lagu tema menyentuh dan penuh nuansa, footage masakan asli nusantara, dan “breaking the fourth wall” penuh ekspresi dari Aruna.

  4. #TemanTapiMenikahTeman Tapi Menikah

    Hangat, lucu, dan… ada manis-manisnya gitu. Adipati-Vanessa lebur sekali sebagai teman dekat yang memendam rasa sekian lama. Film cinta yang ritme perjalanannya sungguh asik disimak dan diikuti. Bisa dibilang, salah satu yang terbaik dari kita sejauh ini. Pengalaman “jatuh cinta” yang menyenangkan.

  5. Love for Sale

    Love for SaleAda perpaduan meramu senyum yang pas antara hal-hal kecil ala Andi Bachtiar dan kehangatan khas Visinema. Kisah cinta dewasa yang tidak biasa dan dihidupi proses bertumbuh seorang manusia. Karya sinema yang dapat mengajak kita merasa senang dan patah bersama karakter yang di dalamnya.

  6. Sekala Niskala

    Sekala NiskalaPuisi yang dituturkan melalui tari, gambar, artistik, dan bahasa sinema lainnya yang sangat padu dan indah, dalam kesederhanaan. Bisa jadi sulit dipahami, tapi dapat dirasakan sebagai pengalaman sinematik yang jarang kita temui.

  7. The Night Comes for Us

    The Night Comes for UsMenontonnya dalam layar kecil Netflix di notebook saja sudah membuat saya bergidik akibat semua kegilaan yang ada di dalamnya. Sebuah parade baku-hantam-hancurkan dari seorang Timo Tjahjanto berwujud pilihan aksi, koreografi, dan gerak kamera yang tidak biasa dan belum tentu berani diambil oleh pekarya Hollywood sekali pun. Gila dan penuh darah.

  8. Petualangan Menangkap Petir

    Kisah mengejar mimpi yang segar dan menyenangkan. Karakter-karakter anaknya diperankan dengan sangat baik oleh Bima Azriel, Fatih Unru, dan kawan-kawannya. Apalagi, tema “membuat film” yang dibicarakannya jugalah hal yang masih jarang. Meski masih bermain aman dalam menjawab pertanyaan yang dimunculkannya sejak awal, Petualangan Menangkap Petir jelas masihlah film anak yang diperlukan.

  9. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

    Wiro Sableng

    Sesuai judulnya, “Wiro Sableng” adalah film yang punya kualitas tata produksi sableng. Keseluruhan filmnya adalah pembuktian bahwa film silat kita dengan segala karakteristiknya dapat menjelma sebagai sebuah karya yang mengagumkan jika dikerjakan dengan niatan dan usaha yang baik. Masih meninggalkan beberapa catatan, tetapi jelas sudah menjadi langkah pertama yang baik dan sangat penting untuk karya-karya kita yang serupa setelah ini.

  10. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta

    Film Sultan Agung

    Senang rasanya bisa menonton kolosal yang jarang ada dalam sinema kita belakangan ini. Terlebih, Hanung memutuskan menjadikannya sebagai biopik yang tidak melakukan glorifikasi terhadap sosok yang dikisahkannya. Memperkecil jarak kita yang menonton dengan cerita yang ada di dalamnya. Sayangnya, masa dewasa Sultan Agung tidak berhasil dituturkan sebaik masa mudanya. Meninggalkan rasa penasaran mengenai keagungan salah seorang raja Jawa yang paling dikenal sepanjang sejarah tersebut.

  11. Sebelum Iblis Menjemput

    Sebelum Iblis Menjemput

    Karya lainnya dari Timo Tjahjanto. Sebuah teror yang brutal dan punya kesan yang kuat. Pun beberapa momennya berhasil memberi pengalaman takut hingga bergidik. Sayangnya, Timo seperti kewalahan dalam mempertahankan tensi yang sejak awal memang diniatkan untuk digedor habis-habisan sehingga tensinya tidak cukup terjaga. Pevita dan Chelsea ternyata cocok sekali di genre horor. Kejutan!

  12. Rompis

    Film Rompis

    Film cinta yang hampir seluruh aspeknya dikerjakan dengan baik dan benar sehingga menghasilkan film cinta dewasa muda yang sangat menyenangkan. Puisi-puisi di dalamnya tidak hanya sebuah tempelan, tetapi cara bertutur yang memang diperlukan. Sama sekali tidak picisan. Monty Tiwa berhasil menuturkannya secara matang dan natural. Teman Tapi Menikah dalam versi yang berbeda.

  13. Dilan 1990

    Dilan 1990

    Sederhana (bahkan bisa jadi kelewat sederhana), tapi dipenuhi gombalan maut yang dilontarkan Iqbaal Dhiafakhri dengan efektif. Bukti bahwa dia memang salah satu aktor muda yang punya potensi. Didampingi Vanesha Prescilla yang di luar dugaan berhasil menjalin chemistry menggemaskan sepanjang cerita. Meski terasa kurang pendalaman dan terkadang terburu-buru, Dilan 1990 sudah berhasil diselesaikan sebagai film cinta SMA yang manis dan menarik ditonton berulang kali.

  14. Koki-Koki Cilik

    Koki-Koki CilikMeski pun beberapa bagian terasa masih dimasak kurang matang, “Koki-Koki Cilik” berhasil disajikan oleh Ifa Isfansyah sesuai dengan peruntukannya sebagai santapan liburan anak dengan konten yang memang cocok di usianya. Lucu, hangat, baik, dan menyenangkan.

  15. Dear Nathan: Hello Salma

    Dear Nathan Hello SalmaLanjutan kisah cinta Nathan dan Salma yang sebenarnya tidak sebaik sebelumnya, tetapi masih memiliki daya tarik dan karakter khasnya. Momen-momen canggung Nathan bersama Rebecca secara mengejutkan justru punya kesan yang paling kuat, sedikit menutupi momen-momen Nathan bersama Salma. Mungkin saja, Nichol dan Rawles harus menjelajahi peran terpisah untuk sementara agar daya pikat itu kembali lagi nanti.

Senang rasanya dapat menjumpai karya-karya sinema tersebut di ruang-ruang pemutaran sepanjang tahun 2018. Bersama karya-karya lain, yang jika dimasukkan semua akan membuat daftar ini seperti tagihan pemakaian paket data sebuah operator bersama beberapa teman yang menjanjikan potongan harga menggiurkan, semuanya menciptakan pengalaman sinema yang cukup berkesan. Sebuah kabar yang menggembirakan, tentunya, agar (seperti doa saya tahun lalu) tahun depan tidak ada lagi yang mengeluh, “film Indonesia mah begitu-begitu saja”. Semoga 2019 juga tetap seperti itu dan tidak ada lagi film horor sembarangan yang menanti setiap pekan. Sebagai penutup, inilah karya-karya dalam film Indonesia yang telah menghidupi tahun ini dengan pengalaman yang menyenangkan dan terbaik menurut saya. 

Pengarahan

  1. #TemanTapiMenikah – Rako Prijanto
  2. Aruna & Lidahnya – Edwin
  3. Kulari ke Pantai – Riri Riza
  4. Sekala Niskala – Kamila Andini
  5. The Night Comes for Us – Timo Tjahjanto

Pengarahan Pertama

  1. Jelita Sejuba – Ray Nayoan
  2. Keluarga Cemara – Yandy Laurens
  3. Partikelir – Pandji Pragiwaksono
  4. Si Doel the Movie – Rano Karno
  5. Yowis Ben – Bayu Skak (bersama Fajar Nugros)

Pemeranan Utama Pria

  1. #TemanTapiMenikah – Adipati Dolken
  2. Aruna & Lidahnya – Oka Antara
  3. The Gift – Reza Rahadian
  4. Love for Sale – Gading Marten
  5. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta – Ario Bayu

Pemeranan Utama Perempuan

  1. #TemanTapiMenikah – Vanesha Prescilla
  2. Aruna & Lidahnya – Dian Sastrowardoyo
  3. Jelita Sejuba – Putri Marino
  4. Keluarga Cemara – Nirina Zubir
  5. Sebelum Iblis Menjemput – Chelsea Islan

Pemeranan Pendukung Pria

  1. A Man Called Ahok – Denny Sumargo
  2. Aruna & Lidahnya – Nicholas Saputra
  3. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta – Martino Lio
  4. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur – Alex Abbad
  5. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur – Verdi Solaiman

Pemeranan Pendukung Perempuan

  1. Aruna & Lidahnya – Hannah Al Rasyid
  2. Sebelum Iblis Menjemput – Karina Suwandi
  3. Sekala Niskala – Ayu Laksmi
  4. Terbang – Laura Basuki
  5. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 – Marsha Timothy

Pemeranan Perdana Pria

  1. Buffalo Boys – Yoshi Sudarso
  2. Kulari ke Pantai – Suku Dani
  3. Lima – Baskara Mahendra
  4. Sebelum Iblis Menjemput – Samo Rafael
  5. Yowis Ben – Tutus Thomson

Pemeranan Perdana Perempuan

  1. Dilan 1990 – Vanesha Prescilla
  2. Love for Sale – Della Dartyan
  3. Rompis – Adinda Azani
  4. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 – Aghniny Haque
  5. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 – Ruth Marini

Pemeranan Anak-Anak / Remaja

  1. Asal Kau Bahagia – Aurora Ribero
  2. Keluarga Cemara – Adhisty Zara
  3. Keluarga Cemara – Widuri Puteri
  4. Kulari ke Pantai – Maisha Kanna
  5. Kulari ke Pantai – Lil’li Latisha

Naskah

  1. #TemanTapiMenikah – Johanna Wattimena dan Upi
  2. Aruna & Lidahnya – Titien Wattimena
  3. Kulari ke Pantai – Gina S. Noer, Mira Lesmana, Riri Riza, dan Arie Kriting
  4. Keluarga Cemara – Gina S. Noer dan Yandy Laurens
  5. Love for Sale – Andibachtiar Yusuf dan M. Irfan Ramli

Sinematografi

  1. Kafir – Yunus Pasolang
  2. Sebelum Iblis Menjemput – Batara Goempar
  3. Sekala Niskala – Anggi Frisca
  4. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur – Ipung Rachmat Syaiful
  5. The Night Comes for Us – Gunnar Nimpuno

Tata Artistik

  1. Kafir – Frans XR Paat
  2. Sebelum Iblis Menjemput – Antonius Boedy Santoso
  3. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta – Allan Sebastian dan Edy Wibowo
  4. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur – Rico Marpaung dan Tommy D. Setyanto
  5. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 – Adrianto Sinaga

Penyuntingan

  1. #TemanTapiMenikah – Aline Jusria
  2. Aruna & Lidahnya – W. Ichwandiardono
  3. Sekala Niskala – Dinda Amanda dan Dwi Agus Purwanto
  4. Sebelum Iblis Menjemput – Teguh Raharjo
  5. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 – Teguh Raharjo

Musik

  1. Aruna & Lidahnya – Ken Jenie dan Mar Galo
  2. Keluarga Cemara – Ifa Fachir
  3. Kulari ke Pantai – Aksan Sjuman
  4. Rompis – Andi Rianto
  5. Sebelum Iblis Menjemput – Fajar Yuskemal

Lagu Tema

  1. Aruna & Lidahnya (Antara Kita) – Monita Tahalea
  2. Keluarga Cemara (Karena Kita Bersama) – Bunga Citra Lestari
  3. Kulari ke Pantai (Kulari ke Pantai) – RAN
  4. Milly & Mamet (Luruh) – Isyana Sarasvati dan Rara Sekar
  5. Milly & Mamet (Luluh) – Jaz

Baca juga: Film dan Karya dalam Film Indonesia Terbaik 2017

Tinggalkan Balasan