REVIEW – ARRIVAL

Arrival MovieSaya memasuki bioskop dengan perasaan yang teramat senang. Malam itu, akhirnya saya akan menemui karya sci-fi yang sudah dinanti sejak lama. Film yang menceritakan kedatangan alien dengan pendekatan yang berbeda: bahasa. Sebagai seorang sarjana yang akrab dengan bahasa selama 4 tahun studi, mengalaminya dalam genre sci-fi jelas sangat membahagiakan. Maka, di sanalah saya malam itu, duduk dengan hati yang berbinar menunggu pemutaran Arrival.

 

Arrival berkisah tentang satu momen kedatangan 12 UFO (Unidentified Flying Object) di 12 tempat berbeda penjuru dunia. Saat itu, seluruh dunia melakukan pendekatan yang sama, yaitu mengutus para ilmuwan sains dan linguis untuk berkomunikasi dengan para asing di 12 UFO tersebut. Tujuannya adalah mengetahui identitas dan tujuan kedatangan mereka ke bumi.

 

Beberapa tahun terakhir adalah fase yang hebat bagi genre sci-fi sinema dunia. Dan kehadiran Denis Villeneuve dengan Arrival telah membuatnya terasa semakin hebat lagi. Presentasi Villeneuve rasanya selalu terasa mengesankan. Seringkali hening, memang, tapi ada intensitas yang mengikat di sepanjangnya. Intensitas itulah yang hadir dalam Arrival, lalu memberikan kesan lebih mendalam pada seluruh hal yang dibicarakan di dalamnya.

 

Saat menonton Arrival, saya menyadari bahwa pendekatan bahasa yang digunakan dalam tutur ceritanya bukanlah sebuah gimmick saja. Namun, lebih dari itu merupakan pemikiran tentang masa depan dan pernyataan yang tegas tentang peran bahasa dalam menciptakan masa depan. Dan hal itu dihadirkan dengan baik melalui pengantar yang ringan dalam percakapan-percakapan di babak pembuka, adegan-adegan penelitian yang meyakinkan, lalu konklusi yang ditautkan dalam hubungan paling personal seorang manusia: keluarga.

 

Keberhasilan Villeneuve memperbincangkan bahasa dalam genre sci-fi merupakan pencapaian yang mengesankan bagi saya. Kesan yang cukup untuk memunculkan pertanyaan, “berapa ahli bahasa yang dibutuhkan untuk mengerjakan Arrival?”. Namun, Arrival bukan hanya tentang bahasa. Ia juga karya indah tentang manusia dan segala kemanusiaannya. Juga waktu, ilmu, dan cinta. Segala yang terasa cukup kuat ketika dituturkan dalam intensitas milik Villeneuve.

 

Arrival berhasil bukan hanya karena pengarahan hebat dari Villeneuve, melainkan juga karena dihidupi oleh Amy Adams dan musik pengiring Johann Johannsons. Amy memegang peran penting dalam menuturkan aspek bahasa dan keluarga di dalamnya. Dan ia menjawabnya dengan sangat meyakinkan. Gestur dan ekspresinya sebagai linguis dan ibu benar-benar menjelaskan semuanya melebihi kata-kata. Lalu Johannssons, kolaborasinya dengan Villeneuve memang selalu mematikan. Sicario dan Arrival telah menjadi karya nyatanya.

 

Saat kisah kedatangan itu menemui penutupannya, saya tersenyum. Ada tegun yang juga hadir di situ karena Arrival, seperti yang sudah saya tulis tadi, memperbincangkan banyak hal dengan baik. Perbicangan yang seluruhnya bermakna. Tentang manusia yang selalu punya ego, tetapi juga diberikan kekuatan tersembunyi untuk mengalahkannya. Tentang keberanian menghadapi banyak hal yang terkadang kita sudah tahu akhir pahitnya. Tentang bahasa yang sebenarnya dapat menciptakan apa pun jika didekati dengan hati yang benar. Salah satu sci-fi terlengkap yang pernah ada.

 

★★★★1/2

 

 

Baca juga: Review Trolls

 

Tinggalkan Balasan