[Review] Baracas – Guyonan Yang Kurang Pantas

BaracasFilm baru saja dimulai. Beberapa guyonan baru saja dilepaskan. Namun, saya masih belum bisa tertawa. Rasanya ada yang salah pada guyonan yang ditawarkan oleh Pidi Baiq sejak awal Baracas diceritakan. Satu-satunya pikiran yang terlintas saat itu adalah, “apakah perempuan yang menonton ini bisa dengan nyaman menikmatinya?”. Padahal, Baracas merupakan salah satu film yang saya antisipasi belakangan ini karena menjadi debut pengarahan dari Pidi Baiq yang banyak digemari karena karyanya. Dilan, terutama.

 

Baracas sendiri menceritakan tentang Barisan Anti Cinta Asmara (Baracas), sebuah kelompok yang didirikan oleh Agus (Ringgo Agus Rahman) sebagai tempat bernaung laki-laki yang patah hati. Tempat memulihkan diri bagi mereka yang merasa tersakiti. Sebuah ide yang sebenarnya menarik. Pun dengan gaya pengarahan Pidi Baiq yang pada awalnya terasa unik. Namun, ketika ditulis dengan cara yang salah, bagi saya, hal yang dibicarakan didalamnya menjadi sulit diterima.

 

Pidi Baiq menempatkan perempuan sebagai ‘lawan’ dalam Baracas. Posisi ini kemudian dituturkan melalui guyonan-guyonan yang tidak pantas, seperti apel pant*t dan asosiasi-asosiasi yang kurang layak. Mewakili sikap dan cara pandang para karakternya terhadap perempuan. Menempatkan mereka dalam guyonan semacam itu rasanya adalah sikap yang kurang pantas.

 

Tidak hanya pada cerita, hal yang sama juga muncul pada beberapa lagu pengiring dari The Panasdalam. Menambahkan ketidakpantasan yang membuat saya menjadi tidak bisa menertawakannya. Terlebih lagi, ada banyak perempuan yang juga ada di sana, menemui hal-hal yang sama, dan saya yakin merasakan ketidaknyamanan yang juga sama.

 

Saat cerita masih bergulir di awal, saya masih mencoba berprasangka baik. Berharap Pidi Baiq memilih pengembangan dan penyelesaian yang dapat menghapuskan seluruh hal kurang pantas sebelumnya. Terlebih lagi kemampuannya sebagai penulis dengan penggemar yang cukup banyak seharusnya dapat memenuhi harapan ini. Ternyata, semua tidak berubah sampai kredit akhir menutup cerita.

 

Alih-alih menyelesaikannya dengan memperbaiki hal-hal tidak pantas yang muncul dalam guyonan-guyonannya sejak awal, Pidi Baiq yang menulis bersama Tubagus Deddy justru menempatkan perempuan sebagai karakter yang tidak simpatik. Mempatkan mereka, sekali lagi, sebagai lawan. Kecuali, satu karakter kecil dalam adegan pengeroyokan. Dibandingkan memperbaiki kesalahan, Baracas lebih memilih untuk asyik sendiri dengan berbagai gimmick yang tidak perlu.

 

Karakter-karakter yang ada di dalamnya juga tidak dapat berbuat banyak menyelamatkan keadaan. Apalagi, beberapa karakter di dalamnya juga kurang punya kejelasan posisi dan andil dalam berjalannya alur cerita. Seperti hanya menjadi tempelan di sana-sini. Ya, Pidi Baiq punya pekerjaan rumah yang cukup besar dalam hal ini.

 

Baracas sebenarnya dapat menjadi debut yang baik bagi Pidi Baiq di ranah sinema jika memilih untuk menuturkannya dengan sikap dan cara yang lebih dewasa. Terbukti, dua kelakarnya yang tidak berhubungan dengan perempuan dapat memancing tawa saya. Dan yang paling penting, ada warna baru yang hadir lewat gaya arahan dan candaan bernuansa Pasundan. Warna baru yang baik untuk perkembangan karya sinema kita. Sayangnya, tidak demikian. Semoga ada perbaikan yang signifikan pada Dilan.

 

★1/2

 

 

Baca juga: Review Mooncake Story

Tinggalkan Balasan