Review – Bid’ah Cinta

Bid'ah Cinta“Khalida capek Bang. Islamnya Khalida sama Islamnya Abang itu beda”. Dan saya pun tertegun, lalu tersenyum. Kalimat ini dan banyak kalimat lain dalam Bid’ah Cinta rasanya dapat dengan tepat mewakil hal-hal yang terjadi dalam kehidupan beragama di sekitar kita, terutama, hari-hari belakangan ini. Mendengarnya dalam karya sinema religi kita yang seringkali kesulitan dalam mengangkat isu yang relevan membuat saya bahagia.

 

Bid’ah Cinta bercerita mengenai percintaan Khalida dan Kamal, dua anak manusia yang kebetulan berada dalam keluarga dengan prinsip menjalankan Islam yang berbeda. Keluarga Khalida merupakan bagian dari prinsip menjalankan Islam yang sudah turun-temurun dilakukan sejak lama bersama percampurannya dengan budaya masyarakat setempat. Keluarga Kamal, di lain sisi, merupakan bagian dari prinsip menjalankan Islam yang dianggap “murni” mengikuti yang dijalankan Rasullah pada zamannya dan menganggap hal-hal yang tidak ada pada masa itu sebagai bid’ah.

 

Berbekal gagasan mengenai perbedaan, Bid’ah Cinta telah berhasil menjadi sebuah karya sinema yang menarik. Menontonnya akan terasa dekat karena seluruh hal yang terjadi di dalamnya juga merupakan hal yang ada dalam masyarakat kita sejak lama. Hal-hal mengenai perbedaan yang telah menjadikan kita sebagai masyarakat majemuk yang dipandang hebat karena dapat berdampingan dengan rukun dalam begitu banyak perbedaan. Hal-hal sama yang dalam beberapa kesempatan, ketika disulut dengan api kemarahan dan kebencian tak bertanggung jawab, juga dapat menimbulkan perpecahan yang cukup meresahkan.

 

Seluruh dinamika tersebut hidup dalam sebuah kampung kecil di Bid’ah Cinta. Kampung yang serupa dengan banyak kampung di seluruh penjuru negeri kita. Kampung dengan masyarakat berbeda yang sebenarnya sudah hidup tentram sejak lama, tetapi mulai bergejolak ketika pengaruh dari luar masuk ke dalamnya. Pengaruh yang sayangya disikapi dengan kecurigaan dan ketidakmauan berdamai dari masing-masing kelompok yang ada.

 

Sebenarnya, hal yang dibicarakan dalam Bid’ah Cinta berada dalam ranah yang cukup sensitif. Namun, Nurman Hakim bersama Zaim Rofiqi dan Ben Sohib cukup punya kedewasaan untuk membatasi diri sehingga cerita yang melandasinya dapat menempatkan karakter-karakter di dalamnya pada posisi yang adil. Terlebih lagi, ada kehadiran orang-orang di luar pusaran yang menjadikannya lebih humanis. Juga cinta yang seringkali terpinggirkan dalam perselisihan manusia, tetapi seringkali menjadi pereda pada banyak kisahnya.

 

Bid’ah Cinta, sekali lagi, akan terasa dekat ketika disimak. Tidak hanya menampilkan orang-orang yang sudah “hidup berIslam”, tetapi juga muslim yang masih belum menerima Islam dengan baik dalam hidupnya. Orang-orang yang rasanya selalu ada dalam setiap kampung paling Islami sekali pun. Lalu, ia juga tidak hanya mendiskusikan soal-soal agama yang tidak kunjung selesai, tetapi juga humanisme yang hadir di tengah prinsip-prinsip menjalankan agama melalui karakter waria bernama Sandra dan teror kemanusiaan berkedok agama yang beberapa kali terjadi di sekitar kita.

 

Kelemahan Bid’ah Cinta ada pada lompatan cerita yang seringkali mengganggu. Lompatan tersebut menjadikan keseluruhan alurnya kurang lengkap dan terasa jenuh pada beberapa bagian. Selain itu, sebagai film yang mengangkat perbedaan prinsip menjalankan agama, ada kekurangan dalam dialog-dialognya yang beberapa kali kurang mendalam. Misalnya, saat mendiskusikan mengenai ibadah dan bukan ibadah.

 

Bid’ah Cinta, sebagai sebuah karya sinema, memang belumlah sempurna. Namun, tak bisa dimungkiri rasanya, sejak dua tahun lalu Mencari Hilal memberikan pengalaman yang reflektif dan mengesankan, barulah sekarang dua aspek itu kembali hadir dalam karya sinema religi kita. Dalam perbincangannya soal berbeda, Bid’ah Cinta telah berhasil menjadi potret yang lengkap tentang masyarakat Islam di Indonesia dan dinamikanya. Berwarna, renyah, sekaligus menyentuh.

 

★★★1/2

 

 

Baca juga: Review Galih dan Ratna

2 thoughts on “Review – Bid’ah Cinta”

Tinggalkan Balasan