REVIEW – THE BIG SHORT: KERUMITAN YANG MENYENANGKAN

review-film-the-big-short-kinerasya

Ekonomi, adalah salah satu roda yang menggerakkan kereta dunia di belahan dunia mana pun. Maka, ketika roda tersebut gagal berputar dengan baik, dunia akan melaju dengan goncangan yang cukup keras. Krisis ekonomi Amerika yang terjadi pada rentang tengah—akhir dekade 2000-an yang dianggap sebagai salah satu krisis ekonomi terbesar telah menjadi salah satu buktinya. Saat itu, ada kengerian yang merambat dari Amerika ke berbagai belahan dunia. Saya dan mungkin sebagian besar di antara kita mungkin tidak merasakan dengan jelas goncangan itu. Namun, goncangan itu sesungguhnya telah meruntuhkan fondasi-fondasi ekonomi yang terkoneksi langsung dengannya dan membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal. Kengerian itu yang kemudian diangkat oleh Adam McKay (Anchorman, The Other Guys) dalam The Big Short, sebuah adaptasi dari The Big Short: Inside the Doomsday Machine dari Michael Lewis yang ditulis pada tahun 2010.

The Big Short bercerita tentang krisis ekonomi yang melanda Amerika pada fase akhir 2000-an yang salah satunya disebabkan oleh konsumsi melalui kredit yang tidak terkendali dari masyarakat Amerika saat itu. Krisis yang gejala kemunculannya tidak pernah disadari oleh sebagian pakar ekonomi saat itu, tetapi disadari dengan baik oleh Michael Burry (Christian Bale), seorang hedge fund manager dari Scion Capital yang melihat pola kemacetan kredit beberapa tahun menjelang krisis tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk berjudi dengan mengajukan credit default swap, sebuah investasi yang dipandang bodoh saat itu, tetapi akan memberikan keuntungan sangat besar saat kemacetan kredit terjadi. Langkah Burry saat itu disadari dan menginsipirasi beberapa orang lainnya, seperti Mark Baum (Steve Carell), Jarret Vennet (Ryan Gosling), seorang trader dari Deutsche Bank, hedge fund manager dari Front Point Partner, dan duo investor muda Charlie Geller (John Magaro) dan Jamie Shipley (Finn Wittrock) yang dibimbing oleh seorang mantan bankir bernama Ben Rickert (Brad Pitt).

Apa yang diangkat oleh McKay dalam The Big Short, bukanlah sesuatu yang mudah dipahami oleh semua orang, terlebih dengan berjejalnya istilah ekonomi njlimet, seperti credit default swap, collateralized debt obligations (CDO), AAA ratings, dan sub-prime loans, sepanjang cerita. Dan di sinilah McKay tampil sebagai seorang jenius. Ia berhasil menuturkan sebuah kombinasi kalimat-kalimat ekonomi rumit sebagai sebuah cerita yang, meski tetap rumit, menyenangkan untuk didengarkan dan dinikmati. Dan keberaniannya menjelaskan semua itu, mengambil langkah debut drama “rumit” pertamanya setelah mapan dengan guyonan-guyonan ringan adalah sesuatu yang menurut saya sangat layak diapreasiasi.

Mengajarkan krisis ekonomi dengan begitu menyenangkan adalah pekerjaan yang sangat tidak mudah. Saya masih sangat ingat bahwa beberapa tahun lalu saya dan sebagian besar teman yang ada di kelas terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan teori ekonomi makro dan mikro dari guru. Dan asap mengebul keluar dari kepala kami. Naskah yang baik tentu sangat memiliki peran di sini. Dan naskah yang ditulis langsung oleh McKay bersama Charles Randolph (Love & The Other Drugs, The Interpreter) benar-benar mampu menjadikan The Big Short sebagai krisis ekonomi dan Wall Street Story yang “diajarkan” dengan menyenangkan. Pekerjaan yang memang sudah sepantasnya diapresiasi sebagai nomine naskah adaptasi terbaik dalam The 88th Academy Awards.

Salah satu hal yang menjadikan The Big Short terasa sangat menyenangkan, walau (sekali lagi) tetap rumit, adalah gaya bertutur yang brilian dari sang sineas. Gaya “sok asik” yang digunakan oleh McKay untuk bertutur di dalamnya adalah padanan yang tepat untuk konten yang disampaikannya. Footage-footage sisipan, “dosen-dosen” kejutan yang datang dan pergi begitu saja, suara-suara dari sekitar, dan berbagai quote yang digunakan sepanjang film merupakan gaya “sok asik” dalam bercerita yang terasa asik untuk disimak. Berbeda dengan Lucy yang bagi saya justru terasa tidak asik sama sekali. Pada beberapa bagian, McKay juga mengeluarkan kesadaran dalam film untuk berbicara langsung dengan penonton dan menyatu dengan realitas yang sebenarnya. Hal ini bisa jadi adalah salah satu upaya untuk mendekatkan realitas dalam film yang sebenarnya jauh dan asing bagi sebagian besar dari kita. Bahkan, pada beberapa bagian cerita, usaha ini juga digunakan untuk menyampaikan “kejujuran” bahwa yang ada dalam film tidak sepenuhnya sama persis dengan terjadi pada krisis saat itu yang diwakilinya. Tentu, keberhasilan bertutur ini juga tidak terlepas dari peran Hank Corwin dalam penyuntingannya.

The Big Short tidak hanya mampu menceritakan kengerian kejatuhan ekonomi Amerika pada saat itu. Yang menjadikannya lebih menarik adalah kemampuannya untuk menghadirkan dinamika cerita, kemanusiaan, dan emosi di dalamnya. “Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry” adalah salah satu dari banyak upaya, bagi saya, untuk menghadirkan kebenaran atau kemanusiaan di tengah-tengah cerita tentang busuknya dunia ekonomi dunia dan mengambil kesempatan dalam kejatuhan ekonomi yang mengerikan. Cara pandang dan sikap Mark Baum pada hidup dan hubungan emosionalnya dengan saudaranya setidaknya adalah salah satu kehadiran emosi yang sangat nyata dalam drama ekonomi ini.

Segala hal baik dari The Big Short tadi dilengkapi dengan baik dengan penampilan para pemerannya. Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling, Brad Pitt, dan antek-antek “kurang ajar”nya telah membuktikan kemampuannya melalui menampilan yang sangat brilian dan berkarakter. Dan penampilan Bale dengan karakter seperti itu merupakan salah satu yang sangat ditunggu kehadirannya lagi sepanjang cerita. The Big Short adalah film terbaik tentang krisis ekonomi dunia sampai saat ini.

☆☆☆☆
Baca juga: Review Godzilla

 

Tinggalkan Balasan