REVIEW: BUKAAN 8

Bukaan 8Saya memacu motor dengan kecepatan penuh. Menembus kemacetan kota Jakarta yang pekan lalu baru saja melalui sebuah proses memilih nama untuk hari esok hingga lima tahun yang akan jelang. Ada yang saya kejar malam itu, yaitu pemutaran perdana film terbaru Angga Dwimas Sasongko, Bukaan 8. Bagi saya, menonton karya sinema Angga akan selalu menjadi pengalaman yang dinanti karena satu hal kecil penting di dalamnya, hati. Maka, senang rasanya ketika pada akhirnya saya dapat tiba sebelum pemutaran dimulai.

 

Bukaan 8 bercerita tentang satu hari penting bagi Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela). Hari itu, Mia direncanakan akan melahirkan anak pertama mereka, manusia kecil yang kehadirannya selalu dinanti oleh setiap pasang manusia yang saling mencintai. Namun, ternyata semua tidak berjalan sebaik yang mereka harapkan. Bukaan 8 akan menceritakan mereka dalam prosesnya menjadi dua orang individu bernama orangtua.

 

Bukaan 8 merupakan curhatan yang dituturkan Angga Dwimas Sasongko sepenuh hati. Seperti yang dia katakan sendiri, seluruh hal yang ada di dalamnya adalah catatan sayang kepada anak pertamanya dan kerinduannya akan pulang. Maka, perjalanan Alam dan Mia di dalamnya kemudian menjadi sesi berbagi tentang cinta dan hadirnya seorang anak. Momen yang rasanya akan menjadi salah satu titik penting dalam hidup seorang manusia.

 

Bukaan 8 akan terasa sangat personal bagi banyak orang. Namun, personalitas itulah yang justru menjadikannya mudah diterima. Melaluinya, Angga menceritakan banyak hal: tanggung jawab sebagai seorang manusia, makna penting atas kehadiran kita dalam media dalam jaringan (juga dunia sebenarnya), proses menerima dan mengalahkan ego, dan tentu saja proses menerima kehadiran baru dalam keluar kecil yang penuh cinta.

 

Menemui manusia-manusia yang ada dalam Bukaan 8 merupakan proses belajar yang menyenangkan karena kita akan menjumpai banyak hal yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Kedekatan itu hadir melalui interaksi twitter yang kritis sekaligus komikal, dialog-dialog Alam pada perjumpaannya dengan banyak kejadian, lalu ikatan percaya dalam keluarga Alam dan Mia yang ditemukan pada proses menjelang persalinan yang genting. Ia juga hadir melalui karakter mbak-mbak hamil naik motor sendirian. Seluruh hal dalam keseharian yang menjadikannya dekat. Personal, tapi tidak lupa pada sekitar. Cerdas dan berhati.

 

Saat menontonnya, perjalanan yang saya alami terasa berbeda dengan perjalanan dalam karya-karya sebelumnya. Sebenarnya, seluruh hal baik yang biasanya ada tetaplah ada. Hanya saja, ada aspek lain yang terasa kental di sana. Kejenakaan. Berkali-kali tawa renyah memenuhi ruang pemutaran sepanjang perjalanan menjelang persalinan Mia. Guyonan-guyonan itu, walau bisa dibilang cukup efektif mencairkan suasana, terkadang juga mengaburkan aspek dramanya. Sedikit catatan yang, kabar baiknya, masih bisa dilupakan berkat cerita yang ditulis dengan baik dan berarti oleh Salman Aristo. Dan tentunya, penampilan mengesankan dari seluruh pemeran yang memenuhi ruang rawat persalinan. Saya, terutama, suka sekali dengan cara Chicco Jerikho menghidupkan karakter Alam dengan eksentrik, tetapi dalam waktu bersamaan terasa rapuh.

 

Lalu, Bukaan 8 pada akhirnya hampir sampai pada akhir persalinan. Dan pada fase ini kita akan mengalami penutupan yang bermakna. Momen perjumpaan dengan anak pertama yang hanya dapat dihadirkan dengan sentuhan khas Angga Dwimas Sasongko. Dan saat credit title muncul menyudahi perjalanan, saya menyaksikan banyak keharuan dan kebahagiaan di sekitar. Bukaan 8 telah berhasil menjadi proses belajar bagi setiap manusia yang menontonnya. Mereka yang sudah menikah dan baru saja menemui anak pertama akan belajar menjalani momen tersebut dengan baik. Mereka yang belum menikah atau sedang menunggu kelahiran anak pertama akan belajar mempersiapkan momen tersebut dengan sempurna. Curhatan yang bermakna dari seorang Angga.

 

★★★★

 

 

Baca juga: Review London Love Story 2

Tinggalkan Balasan