REVIEW – CAHAYA CINTA PESANTREN

Cahaya Cinta PesantrenSaat Cahaya Cinta Pesantren muncul dalam daftar segera tayang bioskop terdekat, saya menimbang-menimbang. Kita memang sudah memiliki beberapa film berlatar pesantren. Namun, rasanya belum ada di antaranya yang benar-benar berhasil menampilkan kehidupan pesantren dan membuat banyak orang percaya bahwa pesantren adalah tempat yang baik untuk seorang anak bertumbuh sebagai manusia. Pencapaian terbaik di antaranya, Perempuan Berkalung Sorban, lebih cenderung menyampaikan kritik. Negeri 5 Menara sebenarnya sudah cukup baik, tapi bagi saya belum terlalu memuaskan. Maka, saat melihat Cahaya Cinta Pesantren dalam daftar segera tayang, saya putuskan untuk menontonnya.

 

Cahaya Cinta Pesantren bercerita tentang Shila, anak perempuan seorang nelayan yang tinggal di sekitar danau Toba. Selulus SMP, ia terpaksa melanjutkan sekolah ke pesantren karena beberapa keterbatasan dan keinginan mamaknya. Namun, di dalam hati ia memiliki cita-cita menjadi seorang penulis novel. Kemudian, ini akan menjadi kisah Shila kehidupan pesantren yang sebenarnya tidak disukainya dan usahanya mengejar mimpi, ditemani dengan Icut dari Aceh, Manda dari Malaysia, dan Aisyah dari Padang, tiga orang sahabatnya di pesantren.

 

Cahaya Cinta Pesantren sebenarnya memiliki cukup bekal untuk menjadi kisah yang baik. Walau hal-hal yang diangkatnya masih berada pada lapisan luar, belum terlalu digali, ia punya keberagaman latar budaya pada persahabatan Shila dan kawan-kawannya. Pun demikian dengan keterbatasan kedua keluarga dan latar budaya danau Toba yang sebenarnya sempat disinggung. Namun, semua itu gagal digali dan ditampilkan lebih mendalam.

 

Seperti biasa, saya mencoba untuk mengikuti dengan baik guliran ceritanya. Namun, Cahaya Cinta Pesantren, terutama babak awalnya, lebih terasa seperti kumpulan sketsa yang dituturkan berturut-turut begitu saja. Kelemahannya yang paling besar adalah konsistensi karakter dan ceritanya. Ada banyak ketidaksinambungan yang terasa sepanjang perjalanannya. Kelemahan yang menjadikannya kurang utuh sebagai sebuah tutur cerita. Dan keakraban pada persahabatan Shila dan aspek komedinya juga terasa terlalu dilebih-lebihkan. Chaos dan saling menutupi.

 

Dan demikianlah, perjalanan Shila pada akhirnya menemui penutup. Saya lalu menyadari bahwa penantian saya pada karya berlatar pesantren yang memuaskan belum akan terhenti. Beruntung, Cahaya Cinta Pesantren masih punya aspek drama yang berjalan cukup efektif. Saya dapat merasakan dengan baik hubungan Bapak dan anak perempuannya di dalam cerita. Juga momen-momen haru Shila bersama teman-teman, serta penutupannya. Untuk keberhasilan itu, Yuki Kato dan Vebby Palwinta layak mendapat apresiasi.

 

★★1/5

 

 

Baca juga: Review Sabtu Bersama Bapak

Tinggalkan Balasan