[Review] Critical Eleven – Cinta & Hal-Hal Yang Tumbuh Bersamanya

Critical Eleven“Only in New York” dari David Tobin, Jeff Meegan, dan Charley Harrison memenuhi ruang bioskop. Lalu, fragmen-fragmen perjalanan cinta Aldebaran Risjad (Ale) dan Tanya Baskoro (Anya) di kota New York terangkai di layar besar selama beberapa menit. Berfoto di jalanan ramai, berbincang di berbagai tempat yang cantik, menonton pertandingan football di stadion bersama berjubel warga Amerika. “Ah, Amerika sekali”, gumam saya sambil tersenyum lebar bahagia mengalami salah satu momen awal Critical Eleven itu.

 

Critical Eleven merupakan adatasi film dari novel yang ditulis oleh Ika Natassa. Bercerita tentang Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) yang saling jatuh cinta pada pertemuan pertama mereka di pesawat. Kisahnya sendiri bertumpu pada sebuah teori dalam dunia penerbangan bahwa tiga menit saat take off dan delapan menit sebelum landing merupakan sebelas menit paling penting dalam sebuah perjalanan udara. Bagi Anya, begitu pula dengan perjumpaannya dengan Ale yang diawali dengan manis, tetapi entah akan disudahi seperti apa.

 

Fase New York yang saya tulis di atas adalah satu di antara beberapa momen yang berhasil dituturkan dengan baik dalam Critical Eleven. Masih ada banyak momen yang akan kita jumpai sepanjang perjalanan dan hampir seluruhnya dapat diterjemahkan melalui bahasa sinema dengan baik. Momen-momen yang akan membawa kita mengalaminya secara langsung, bukan hanya duduk di kursi penonton dengan sebuah jarak yang memisahkan. Keberhasilan yang datang melalui paduan karya musik Andi Rianto, visual Yudi Datau, suntingan Ryan Purwoko, dan arahan Monty Tiwa – Robert Ronny.

 

Menemui Ale dan Anya dalam buku dan film merupakan dua pengalaman yang sangat berbeda. Dalam film, Jenny Jusuf bersama Ika Natassa, Robert Ronny, dan Monty Tiwa berusaha menuliskannya dalam detail dan rangkai kejadian yang berbeda. Jika membacanya akan memosisikan kita sebagai pendengar curhatan Ale dan Anya atas permasalahan yang sudah terjadi sejak awal cerita, mengalaminya dalam film akan memosisikan kita sebagai teman perjalanan Ale dan Anya sejak awal pertemuan mereka. Pengubahan yang rasanya tepat dilakukan, mengingat ruang sinema yang memang terbatas dalam waktu.

 

Mengubah detail dan rangkai kejadian memang menjadikan Critical Eleven lebih efektif sebagai sebuah adaptasi sinema. Mengadakan yang tidak dapat dicapai oleh novelnya dan meniadakan hal-hal yang dirasa kurang signifikan perannya dalam tuturan sinematografi. Bersama itu, juga memungkinkan kita yang menyimaknya untuk tumbuh bersama Ale dan Anya dalam cerita. Sayangnya, penyesuaian itu kemudian juga menimbulkan sebuah konsekuensi, yaitu menumpuknya konflik pada paruh kedua cerita.

 

Menumpuknya permasalahan di akhir berakibat pada perjalanan yang terasa melelahkan bagi beberapa orang. Terlebih, bagi yang tidak punya relasi batin dengan pemasalahan itu sendiri. Sebenarnya, hal ini sudah cukup dapat direduksi melalui dialog-dialog yang ditulis dengan cukup dalam. Hanya saja, ada proses dan alasan yang hilang dalam upaya menjembatani tautan dari satu permasalahan ke permasalahan lainnya, juga penyelesaiannya. Tuturannya kemudian menjadi terasa terbata-bata. Maka, ketidaknyamanan akan sangat mungkin hadir dalam dinamika emosi yang sebenarnya sudah cukup baik dibangun pada paruh awal cerita.

 

Kehilangan proses dan alasan tersebut rasanya bisa terjadi karena kesulitan memindahkan permasalahan dan penyelesaian dari cara dan medium yang berbeda. Pada dasarnya, permasalahan dalam Critical Eleven memang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Dan secara tidak langsung, juga berdampak pada kesulitan pengelolaannya. Sejak dalam novel, itu terjadi. Atau, bisa jadi juga kehilangan tersebut terjadi karena pemadatan durasi yang pada awalnya mencapai 3,5 jam itu. Selisih yang cukup besar dari durasi akhirnya yang ‘hanya’ 2 jam 15 menit.

 

Kabar baiknya, hal itu akan termaafkan dengan dialog yang ditulis dengan baik sepanjang perjalanan cinta Ale dan Anya. Dialog yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan pembelajaran Ale dan Anya, juga kita yang mengikuti mereka dari kursi penonton. Dialog yang menjadi sempurna ketika dituturkan oleh Reza dan Rasti yang menghidupi Ale dan Anya begitu baik. Mendengarkan suara Ale akan menghadirkan perasaan yang dalam dan mendengarkan Anya bicara akan menghadiahkan kenyamanan. Pun interaksi suami-isteri yang sangat nyata di dalamnya. Bukti bahwa keduanya benarlah pasangan romantis terbaik yang kita punya saat ini.

 

Dari kisah cinta Ale dan Anya, kita akan belajar banyak mengenai cinta serta cara laki-laki dan perempuan menghidupinya. Dua pasangan yang memutuskan mengawali hidup bersama dan “membakar jembatan di belakangnya” untuk merangkai ulang arti rumah dan pulang. Dan dalam perjalanannya, ada fase yang bernama menerima dan merelakan. Dua hal yang akan dibawa pulang setiap manusia yang datang menonton dan tumbuh bersama sepanjang dua jam lebih durasi cerita. Menjadi penting karena belum banyak karya sinema kita yang berani membicarakannya. Dan terlebih, ini juga karya yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dalam production value yang meyakinkan.

 

Critical Eleven bukanlah karya romantis yang sempurna. Bisa jadi, ada rasa kurang nyaman yang hadir saat pertama kali menontonnya. Namun, di luar itu, ini adalah karya yang akan menghadiahkan banyak hal bagi setiap kita yang menontonnya. Juga perasaan bahagia, hangat, dan sesak yang ikut ditanam di dalamnya. Menontonnya juga akan mengingatkan kita dengan film romantis Hollywood yang sudah banyak kita tonton. Pengalaman yang berbeda dalam menikmati karya sinema kita. Maka, kunjungilah Ale dan Anya di sana dan berproseslah bersamanya.

★★★1/2

 

 

Baca juga: Review Surau & Silek

 

Tinggalkan Balasan