Danur – Potensi Besar dan Kegagalan Mempertahankan Ketakutan

DanurSaya sudah siap dalam antrian pembelian tiket petang itu. Siap menonton Danur yang publikasinya cukup viral di berbagai konsep media. Dan seperti dugaan, pemutaran yang ingin saya ikuti sudah penuh terisi. Sama dengan yang terjadi di banyak kota Indonesia. Penonton Danur membludak dalam hari pertamanya. Kabar yang sungguh menggembirakan. Saya lalu memilih untuk mengikuti pemutaran yang masih tersedia di bioskop jaringan lain.

 

Danur merupakan film horor yang diadaptasi dari cerita yang ditulis oleh Risa Saraswati. Kisahnya sendiri bertumpu pada karakter Risa (Prilly Latuconsina) yang sejak kecil dapat melihat mereka yang tidak bisa dilihat semua manusia. Ia lalu berteman dengan Peter dan kawan-kawan, hantu anak-anak dari masa kolonial Belanda, sampai suatu hari dipisahkan dengan suatu cara. Sembilan tahun kemudian, satu hal terjadi saat Risa dan adiknya, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki), mengunjungi rumah yang sama untuk menjaga nenek mereka.

 

Danur memiliki materi dengan potensi yang besar untuk menjadi film horor yang baik. Kehadiran Peter dan kawan-kawan yang sebenarnya sudah digunakan cukup baik sebagai materi publikasi, walau terkadang berlebihan, merupakan potensi pertama yang sangat mungkin dimaksimalkan. Lalu, latar budaya Sunda yang sebenarnya juga sudah sedikit dimanfaatkan sebagai lagu pengiring. Aspek budaya merupakan materi yang seringkali efektif membangun kengerian yang meyakinkan.

 

Sayangnya, nama-nama di Danur gagal memanfaatkan itu semua dengan baik. Peter dan kawan-kawannya berakhir seperti gimmick yang hanya muncul dalam pembuka dan penutup, tanpa diberi ruang kehadiran yang cukup. Diniatkan sebagai karakter penting dalam cerita, tetapi pada nyatanya tidak terasa signifikan kehadirannya. Terlebih lagi, anak-anak yang memerankannya pun jauh dari kesan “keturunan Belanda”. Dan mereka jelas masih perlu belajar banyak dalam berperan.

 

Latar budaya Sunda di dalamnya pun hanya dimanfaatkan sebatas musik pengiring. Padahal, jika Lele Laila dan Ferry Lesmana mau menuliskannya dengan pengembangan yang lebih baik, memberi ruang pada latar budaya Sunda yang lebih kental, Danur akan meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam. Ada ruang tambah cukup besar yang dapat dimanfaatkan, mengingat durasinya yang hanya 78 menit itu.

 

Saat aspek-aspek yang membangunnya tidak terlalu mampu memanfaatkan potensi yang sebenarnya cukup besar, harapan terakhir ada pada kemampuan Awi Suryadi membangun kengerian. Kemampuan yang ditunjukkannya dalam Badoet dengan materi terbatas satu setengah tahun yang lalu. Sayang, Awi justru terlalu berambisi memanfaatkan Shareefa Danish dalam menghadirkan kengerian. Lupa membangun atmosfir yang meyakinkan. Maka,  yang terjadi pada Danur adalah tensi yang gagal dipertahankan. Dan formula pengadeganan yang serupa berulang-ulang sepanjang cerita pun melengkapinya. Danur menjadi lebih mudah memancing tawa daripada memicu takut.

 

Beruntung, Danur masih memiliki Prilly Latuconsina dan Shareefa Danish di dalamnya. Prilly mampu mempertahankan kualitas pemeranannya yang belakangan ini memang sudah cukup baik dan mencuri perhatian. Dan Shareefa Danish memang sudah tidak perlu lagi diragukan. Kehadirannya tanpa riasan berlebihan sudah menjadi bekal yang kuat untuk membuat mental menciut. Justru, ketika ekspresi berlebihan diharuskan ada, semuanya menjadi kurang menakutkan.

 

Begitulah, setelah 78 menit berharap ditakut-takuti, saya harus keluar ruang pemutaran dengan perasaan yang kurang terpuaskan. Keberhasilan Danur membangun publikasi memang patut diakui, terbukti juga dengan antusiasme tinggi yang biasanya tidak terjadi pada film horor kita belakangan ini. Namun, sayangnya, kemampuannya sebagai film horor belumlah sama. Danur adalah horor dengan potensi besar yang gagal bertahan dalam menghadirkan ketakutan.

 

★1/2

 

 

Baca juga: Review Baracas

 

Tinggalkan Balasan