[Review] Fast & Furious 8 – Awal Baru dan Kegilaan Sepenuh Hati

Fast Furious 8Bermacam mobil tumpah ruah ke jalanan seperti kesetanan dan dari ketinggian gedung meluncur bebas mobil-mobil tanpa kemudi. Saya hanya bisa terdiam dan menikmati pertunjukan sepenuhnya. Kegilaan berlipat ganda adalah jiwa dari seri kedelapan Fast & Furious yang saya tonton malam itu, The Fate of The Furious. Dan kegilaan yang sama juga terjadi pada antusiasme penonton menyambutnya, sama seperti seri-seri sebelumnya. Pertama kalinya, saya masuk ruang pemutaran IMAX Tangerang dan menemui deretan kursi yang penuh sesak oleh penonton. Betapa menggembirakan.

 

Sebenarnya, saat Fast & Furious mengakhiri perjalanan seri ketujuh dengan sebuah perpisahan yang emosional, saya merasa bahwa itu sudah menjadi akhir yang baik dan tepat bagi franchisenya. Maka, ketika seri kedelapan muncul ke permukaan, saya meragukannya. Keraguan yang pada akhirnya dipatahkan dengan tuntas oleh Vin Diesel, F. Gary Gray, Chris Morgan, dan seluruh nama yang menghidupkannya lagi.

 

Fast & Furious 8 bertumpu pada “takdir” yang mengharuskan Dominic Toretto (Vin Diesel) memilih jalan berseberangan dengan teman-temannya. Dan keluarga masih menjadi sentuhan emosi utama di dalamnya. Pilihan-pilihan yang diambil oleh Dom sepanjang perjalanan kemudian mempertemukan kita pada Dom yang telah berproses dalam banyak kejadian. Dom yang semua orang kenal. Pilihan-pilihan itu, walau terlihat sebagai pilihan yang berbeda, pada akhirnya menjadikannya tetap sebagai Fast & Furious yang kita tahu.

 

Perjalanan Dom kali ini diawali dengan emosi yang cukup berat. Charlize Teron punya peran yang cukup penting dalam membangun awal yang emosional dengan tampil sebagai salah satu penjahat paling memuakkan sepanjang franchise. Memasuki pertengahan, komedi efektif menguasai percakapan dan menjadikan kisah kali ini terasa sangat menyegarkan dan menyenangkan. Dan sebagai penutup, ada aksi skala besar dengan ledakan-ledakan yang membuat kita terpaku takjub.

 

Seiring kejar-kejaran kita akan sadar. Meski ruh dan formulanya tetaplah Fast & Furious yang kita tahu, tetapi The Fate of The Furious telah sedikit menggeser genrenya ke spionase. Aksi kali ini akan terasa seperti Mission Impossible atau Bourne dengan dukungan mobil dan ledakan yang lebih besar. Rasanya, perubahan ini cukup efektif untuk menghadirkan pengalaman baru dan mempertahankan antusiasme dalam skala relatif sama dengan seri-seri pendahulunya.

 

Meski sedikit berbeda, Fast & Furious tetap kejar-kejaran dengan aksi yang mengesankan. Kali ini, yang menjadikannya menyenangkan adalah gerakan masif kejaran mobil seperti zombie, pertarungan Dom melawan teman-temannya, Deckard yang tampil dengan aura sangat berbeda, dan aksi penutup eksplosif yang melibatkan sebuah kapal selam. Sungguh sebuah kombinasi kegilaan yang menyenangkan.

 

Dengan segala kesenangan tersebut, memulai kembali perjalanan Dom setelah perpisahan emosional yang sebenarnya dapat menjadi penutup hebat merupakan pilihan yang tidak salah. Lagipula, perjalanan kali ini juga dituturkan bersama penghormatan menyentuh untuk Brian yang telah pergi. Dan keluarga tetaplah ruh yang terasa kuat di dalamnya. Bahkan, terasa lebih kuat dengannya.

 

★★★★

 

 

Baca juga: Review Power Rangers

Tinggalkan Balasan