REVIEW – FILOSOFI KOPI

Meracik kopi paling nikmat di Filosofi Kopi Arsip Visinema Pictures

Kopi punya banyak cerita di mana pun ia berada. Individu-individu di setiap bagian dunia ini mengenal kopi dengan caranya masing-masing. Memaknainya dengan berbagai arti dan bahasa. Menjadikannya bagian dari hidup mereka masing-masing. Ada banyak cerita yang terekstrak dalam setiap biji kopi dan cangkirnya. Mungkin inilah yang mendasari Dewi “Dee”  Lestari menulis sebuah cerita pendek berjudul “Filosofi Kopi”. Sebuah cerita dalam kumpulan cerita pendek dengan judul yang sama dan kemudian menjadi salah satu cerita terbaiknya. Dan seorang sutradara muda Indonesia bernama Angga Dwimas Sasongko menceritakan kembali cerita itu dalam sebuah film berjudul Filosofi Kopi.

Filosofi Kopi bercerita tentang dua orang sahabat, Ben dan Jodi, yang mendirikan sebuah kedai kopi Filosofi Kopi, sebuah kedai kopi yang memaknai setiap cangkir kopi dengan filosofi yang sangat berarti. Kedai kopi ini adalah wujud dari mimpi-mimpi mereka sejak kecil, obsesi yang terus dikejar oleh Ben yang memang telah begitu mencintai kopi sejak kecil. Kedai Filosofi Kopi cukup dikenal karena cita rasanya yang dihasilkan dari idealisme tinggi Ben sebagai baristanya. Namun, ada satu permasalahan yang kemudian membawa Ben dan Jodi kepada pencarian diri mereka dan Filosofi Kopi itu sendiri. Sebuah pencarian yang akan menentukan bagaimana ikatan persahabatan dan keluarga akan terus terjalin.

Filosofi Kopi berhasil diceritakan dengan baik oleh Angga Dwimas Sasongko. Seperti kopi, ia punya rasa yang benar-benar pas. Ada cinta di setiap tegukannya. Angga memang selalu bisa berkarya dengan cinta. Melalui film ini kita kita dapat merasakan kembali segala rasa yang ada dalam Cahaya Dari Timur, film yang setahun sebelumnya mengantarkan Angga menjadi sutradara terbaik dalam Festival Film Indonesia. Hangat, bahagia, rindu, syahdu, dan sendu adalah beberapa rasa yang dapat kita temukan dalam cangkir-cangkir yang dihidangkan di sini.

Menceritakan kembali sebuah cerita yang telah ditulis sebelumnya tentu bukanlah hal yang mudah. Perlu naskah adaptasi yang baik untuk mampu menceritakannya dalam tutur yang lancar. Dan naskah adaptasi film ini ditulis dengan baik oleh Jenni Jusuf. Naskah film panjang pertama yang ditulisnya inilah yang menjadikan cerita Ben dan Jodi menjadi sebegitu bermakna dan dapat tersampaikan dengan baik pada para “pembacanya”. Naskah yang baik ini kemudian divisualisasikan dalam tata produksi yang sangat berkesan. Menikmati Filosofi Kopi akan mengingatkan kita pada Tabula Rasa yang juga menampilkan visualisai kuliner yang sangat indah dan menggoda. Sedap rasanya.

Bercerita tentang Ben dan Jodi, kita akan bercerita tentang Ciccho Jericho dan Rio Dewanto yang menghidupkan keduanya. Keduanya dengan baik memerankan karakter Ben dan Jodi sebagai dua orang sahabat yang telah bersahabat sejak kecil selama belasan tahun. Chemistry antara keduanya adalah ikatan persahabatan yang benar-benar nyata. Dan ya, yang kita temui di Filosofi Kopi sungguh dua sahabat kecil yang sedang melalui sebuah perjalanan hidup. Lalu, penampilan Ciccho dan Rio dengan baik dilengkapi oleh Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, dan para pemeran lainnya.

Perjalanan Ben dan Jodi dalam pencarian diri dan masa depan Filosofi Kopi dituturkan dengan baik di sini. Angga benar-benar selalu bisa berkarya dengan sabar. Segala hal dalam film ini dituturkan secara perlahan. Menyimpan cangkir kopi terbaik sebagai penutupnya. Ya, Filosofi Kopi memiliki salah satu penutup terbaik yang pernah dimiliki film Indonesia. Penutup yang membuat kita ingin kembali berkunjung ke kedai kopi itu merasakannya. Beberapa bagian dalam Filosofi Kopi memang terasa kurang maksimal. Namun, itulah kopi dengan segala rasa yang ia miliki. Sekali lagi, sangat mudah dicintai.

4/5

 

*Tulisan ini pernah dimuat di http://layar-tancep.com/berita/detail/filosofi_kopi_sebuah_perjalanan_menemukan_diri/

Tinggalkan Balasan