REVIEW – GALIH DAN RATNA

Review Galih dan RatnaMendengarkan lagu Sakura-nya Fariz RM membuat saya tersenyum-senyum. Sejak kecil, saya seringkali mengkrabi lagu-lagu lama yang digemari pada zamannya karena Umi dan Abu, panggilan saya kepada Bapak dan Ibu, memutarnya sehari-hari. Lagu-lagu itu menemani pagi hari kami melalui pemutar musik yang cukup canggih saat itu. Pun demikian perjalanan kami ke berbagai tempat sampai hari ini, dalam saat-saat saya pulang dan berkumpul bersama mereka. Mengalaminya lagi dalam Galih dan Ratna merupakan nostalgia yang manis bagi saya.

Galih dan Ratna bercerita tentang dua sejoli yang menjalin cinta dari SMA. Kisahnya diawali dari Galih (Refal Hady) yang memiliki kenangan bahagia bersama Bapaknya dalam musik. Kenangan yang menjadikannya mencintai rekaman musik dalam kaset dan toko musik peninggalan ayahnya. Sayangnya, toko musik itu harus rencananya akan dijual oleh Ibunya untuk menyelamatkan ekonomi keluarga. Lalu, datanglah Ratna (Sheryl Sheinafia), murid pindahan yang cantik dan punya ketertarikan pada musik.

Kisah cinta dua sejoli ini sebenarnya adalah versi baru dari Gita Cinta dari SMA (1979) yang menampilkan Rano Karno dan Yessy Gusman sebagai Galih dan Ratna. 38 tahun kemudian, Lucky Kuswandi dan kawan-kawan mengisahkannya kembali kepada generasi yang mungkin sudah sangat berjarak dari karya awalnya. Menjadi menarik karena subjek dan temanya adalah remaja, generasi yang berjarak itu.

Sebagai sebuah karya ulang, Galih dan Ratna bisa dibilang tidak terlalu setia pada cerita dan gaya tutur sebelumnya. Lucky Kuswandi lebih memilih untuk merangkai cerita yang berbeda dalam latar dan detail, menyesuaikannya dengan berbagai hal yang ada sekarang. Pilihan yang diambil untuk menjadikannya lebih dekat dengan realitas sehingga dapat diterima oleh rentang penonton yang lebih luas.

Galih dan Ratna boleh jadi tidak setia pada cerita awalnya. Namun, bukan berarti ini adalah karya ulang yang tidak hormat. Ada begitu banyak tribut yang baik di dalamnya. Penghargaan yang hadir melalui mix tape, titik-titik cerita, tempat, dan adegan pembuka yang sangat luar biasa itu. Hanya saja, penghargaan itu disampaikan bersama penyesuaian zaman yang menjadikannya lebih relevan. Mix tape, misalnya, adalah upaya yang baik untuk memberikan kebaruan cara bercinta, sekaligus menghadirkan masa lalu yang penuh kesan. Pun demikian dengan karakter Galih dan Ratna yang sudah bukan lagi juara kelas, puitis, atau malu-malu seperti dulu.

Yang menarik dari versi milienial Gita Cinta dari SMA ini bukan hanya penyesuaian-penyesuaian yang membuatnya lebih relevan. Ada pilihan lagu dan musik yang romantis, visual yang cantik, dan chemistry yang hangat di dalamnya. Saya merasa perlu memberikan apresiasi pada pilihannya pada Refal Hady dan Sheryl Sheinafia. Keduanya berhasil memberikan pengalaman yang canggung sekaligus manis sepanjang cerita. Pengalaman yang terasa pas dalam sebuah film cinta remaja. Sheryl, terutama, sudah membuktikan bahwa pencapaiannya dalam Koala Kumal bukanlah sebuah kebetulan.

Ada satu hal lagi yang tidak bisa dipisahkan dari Galih dan Ratna. Sepanjang tutur cerita disampaikan, kita akan merasakan pernyataan-pernyataan yang tegas akan banyak hal kekinian. Ujaran-ujaran yang hadir melalui kehidupan sekolah, aturan-aturan, cara pandang pada hal-hal dalam hidup, interaksi Galih dan Ratna, serta interaksi keduanya sebagai yang muda dengan orangtua yang mewakili generasi tua. Hanya saja, pernyataan-pernyataan tersebut hadir dengan kesan yang baik dan sesekali menyentuh.

Galih dan Ratna sebenarnya bukanlah tanpa kelemahan. Beberapa momennya sempat kehilangan dinamika emosi karena kurangnya eksplorasi. Pun begitu dengan obrolan-obrolannya mengenai musik yang, walaupun tidak perlu terlalu njlimet sebagai sebuah film cinta remaja, seharusnya dapat ditulis secara lebih mendalam mengingat pilihannya menjadikan musik sebagai salah satu aspek yang cukup penting.

Mendengarkan Sakura-nya Fariz RM, lagu-lagu lama lainnya, lalu mengikuti kisah cinta Galih dan Ratna bersama berbagai pernyataannya benar-benar terasa menyenangkan. Bahagia rasanya bisa menonton lagi film cinta remaja yang membuat saya jatuh cinta. Apalagi, melihat rekaman berbagai zaman di dalamnya. Galih dan Ratna adalah film yang semanis masa SMA. Dan juga jelas film ini dibuat dengan cinta. Lovely.

★★★★

 

Baca juga: Review Bukaan 8

Tinggalkan Balasan