REVIEW – GODZILLA (2014)

review-godzilla-kinerasya

Bagi anak-anak yang lahir pada dekade 80an dan 90an pasti akrab dengan sosok monster besar bernama Gojira atau Godzilla yang pernah muncul dalam beberapa film masa kecilnya. Rasa-rasanya monster besar bukanlah tema yang sering diangkat sebagai tema utama cerita. Sebagian besar anak mungkin hanya mengenal beberapa sosok monster besar yang dapat dikenang sebagai sesuatu yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Godzilla adalah cerita yang tidak dapat dipisahkan dari film tentang monster besar. Dan pada tanggal 14 Mei 2014, sang “dewa” dari para “monster besar” ini hadir kembali dalam film yang disutradarai Gareth Edward.

Setelah kemunculan Pacific Rim pada tahun 2013, sepertinya banyak yang menanti-nanti untuk dapat melihat kembali sesuatu yang besar memenuhi layar bioskop dan membuat takjub luar biasa para penontonnya tanpa bisa berkata-kata. Visual serba besar yang ditampilkan oleh Pacific Rim pada saat itu memang benar-benar membekas di pikiran banyak orang yang menontonnya. Satu tahun setelah itu, saat Godzilla akan muncul kembali di layar lebar, tentu banyak yang menaruh harapan dan ekspektasi tinggi. Dan itu dijawab tuntas oleh Gareth Edward dengan Godzilla yang benar-benar menakjubkan.

Visual epic yang digunakan oleh Legendary Studio dalam Pacific Rim kembali mereka gunakan untuk menampilkan Godzilla dalam visual yang mengesankan. Hasilnya, Godzilla benar-benar terlihat nyata. Kengerian saat monster besar itu muncul dan beraksi adalah hadiah yang mengasyikkan. Tetapi, Gareth tidak melakukannya dengan begitu terang-terangan seperti dalam Pacific Rim. Dalam film ini, Gareth lebih mencoba untuk bermain dengan detail-detail lain seperti debu dan kabut yang menghadirkan suasana kelam tetapi tidak terduga atau asap-asap merah yang membelah langit dengan indah juga mencekam. Menonton Godzilla adalah pengalaman visual yang tidak akan terlupakan.

Selain visual yang tidak lagi diragukan, ada perubahan hal mendasar yang membedakan Godzilla 2014 ini menjadi versi yang berbeda dengan versi-versi sebelumnya. Dan itu adalah hal yang membuat versi ini menjadi menarik. Dalam film ini, Gareth rasanya ingin bercerita tentang sesuatu yang lebih penting dari aksi-aksi heroik pahlawan-pahwalan yang seringkali kita lihat dalam film-film Hollywood serupa. Ia ingin menceritakan sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang menyentuh nilai kemanusiaan, tetapi sekaligus mempertanyakan manusia itu sendiri. Sesuatu yang akan membuat versi ini dikenang dan “tersimpan”.

Apa yang dihadirkan oleh Gareth dalam Godzilla memang benar-benar menjadi hal yang baru. Tetapi, hal-hal baru tersebut sepertinya akan lebih sempurna ketika dibangun di atas naskah yang baik. Dalam film ini, ada hal-hal yang terasa sedikit mengganggu karena naskah yang kurang baik. Dalam bagian pertengahan film ada sesuatu yang terasa hilang dan membuat kita menjadi gamang, apakah film ini akan berjalan dengan baik atau berakhir sebagai sesuatu yang mengecewakan. Namun, kekurangan dalam naskah tersebut untungnya tidak diperburuk dengan penampilan para pemeran utama dan pendukungnya. Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Bryan Cranston, Ken Watanabe, dan para pemeran lainnya terlihat cukup baik memainkannya perannya masing-masing.

Gareth Edward telah melakukan sesuatu yang luar biasa dengan Godzilla. Begitu menyenangkan mendapatkan kembali rasa takjub yang sama ketika  menikmati Pacific Rim satu tahun yang lalu. Rasanya seperti kembali ke masa kecil dan hanya bisa takjub sekaligus ngeri melihat sang dewa monster besar beraksi. Gareth Edward telah memberikan kita sebuah tontonan monster besar yang membanggakan. Monster Besar film monster besar.

3.5/5

 

Baca juga: Review Pacific Rim

Tinggalkan Balasan