Review – Guru Bangsa Tjokroaminoto: Hijrah Diri, Hijrah Bangsa

review-guru-bangsa-kinerasya
Negeri bernama Indonesia dibangun melalui sebuah perjalanan panjang sejak masa Nusantara hingga masa kemenangan terhadap usaha-usaha penjajahan tanah yang begitu kaya ini. Perjalanan tersebut ditapaki oleh beribu-ribu dan berjuta-juta jiwa yang teguh dan kukuh pada semangatnya. Di antara jiwa-jiwa itu, tersebutlah satu nama yang kini sering terlupa, nama yang sebenarnya telah melahirkan begitu banyak nama lainnya yang kemudian menyelesaikan untaian panjang kata Indonesia, HOS Tjokroaminoto. Nama yang kian terlupa itulah yang berusaha diingatkan kepada kita oleh Garin Nugroho dan Picklock Films melalui sebuah film berjudul Guru Bangsa: Tjokroaminoto.

Guru Bangsa: Tjokroaminoto berkisah tentang perjalanan seorang lelaki yang telah menjadi guru bagi para pendiri bangsa, ia yang disebut sebagai “Raja Tanpa Mahkota”, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto (selanjutnya ditulis Cokro). Film ini berfokus pada perjalanan seorang Cokro dalam menemukan jalan hijrahnya, pesan yang diamanahkan kepadanya oleh sang kakek ketika kecil, pesan tentang hijrah seorang manusia ke kehidupan yang lebih baik. Pesan itulah yang terngiang di kepalanya terus-menerus dan akhirnya mengantar ia kepada pergerakan memimpin sebuah organisasi massa tersebesar pertama di Indonesia, Sarekat Islam, sebuah pergerakan yang kemudian mengawali hijrah bangsa kepada kemerdekaannya.

Satu kata yang dapat disematkan untuk Guru Bangsa: Tjokroaminoto: indah. Ini adalah puisi untuk negeri, persembahan untuk Indonesia. Keindahan itu berasal dari sinematografinya yang menawan, akting yang brilian, dan rasa yang diciptakan dengan hati. Garin benar-benar tahu cara berkarya dengan cinta. Setiap detik dari film ini adalah bait-bait yang dilantunkan dengan begitu puitis. Begitu indah sehingga tiga jam bukanlah waktu yang terasa lama. Garin dengan baik memadupadankan setiap aspek film dengan elemen-elemen teater yang ia ketahui sehingga film ini terwujud dalam visual yang berbeda, dalam detail-detail yang memesona seperti yang telah ia wujudkan dalam karyanya selama ini. Pesona itu dibalut dengan musik, warna, dan tarian yang bercita rasa juara. Begitu menyenangkan melihat seorang ibu dari Suharsikin tiba-tiba menyanyi untuk mengusir kegundahan hati anaknya itu. Atau ketika Cokro dan Suharsikin tiba-tiba menyanyi dan menari bersama keluarganya memberi warna yang berbeda dalam film ini. Atau ketika seorang pemberontak yang diperankan oleh Didi Petet berpidato diiringi oleh lantunan seruling. Begitu indahnya.

Guru Bangsa: Tjokroaminoto dapat terwujud dengan baik bukan hanya karena Garin seorang. Ada begitu banyak nama yang memberi sumbangsih terbaiknya dalam mewujudkan cerita tentang sosok menginspirasi berkumis gatotkaca ini. Reza Rahadian sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah salah satu aktor terbaik yang dimiliki oleh negeri ini. Ia Tjokroaminoto! Dan nama-nama seperti Christine Hakim, Sudjiwo Tedjo, Didi Petet, dan Chelsea Islan turut memerankan karakternya dengan baik. Nama-nama seperti Tanta Ginting, Ibnu Jamil, dan terutama Putri Ayudya, di luar dugaan tampil dengan menawan.

Film panjang mengenai Cokro ini tidak akan dapat terwujud dengan baik tanpa naskah yang kuat. Namun, naskah yang ditulis bersama oleh Ari Syarif, Erik Supit, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho, dan Kemal Pasha Hidayat ini telah berhasil manjadi pondasi yang kuat bagi pewujudan Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Modal sejarahnya pun dengan meyakinkan ditulis oleh Hilmar Farid dan Bonnie Triyana, dua sejarawan muda Indonesia yang tentu punya semangat yang muda pula. Dan itu semua divisualisikan melalui tata artistik yang begitu megah dan klasik. Lengkap sudah.

Sepanjang tutur kisah tiga jam film ini, tentu ada beberapa kekurangan di beberapa bagiannya. Pun mungkin gaya teatrikal dengan detail-detailnya  kurang dapat diterima sebagian penonton. Namun, sungguh segala hal tersebut adalah keindahan jika kita mau duduk sejenak dengan sabar dan menikmatinya. Bukankah keindahan adalah harmoni dari apa-apa yang ada dalam suatu kehidupan ini? Senang sekali rasanya dapat tersenyum puas setelah keluar dari bioskop kemudian berbagi cerita manis tentang “Bapak Para Pendiri Bangsa” kepada anak dan cucu kita nanti.

4/5

Tinggalkan Balasan