REVIEW – ISENG: MANUSIA URBAN DAN PEMBUKTIANNYA

review-film-iseng-kinerasya

Ketika teaser poster film ini muncul pertama kali, ada sesuatu yang menarik perhatian. Iseng, sebuah judul yang rasanya akan menggoda banyak orang untuk iseng melirik, mencari tahu, atau setidaknya memunculkan pertanyaan paling mendasa rbag isebuah karya sinema, “film apa?”. Sebuah pertanyaan yang kemunculannya bagi saya telah menjadi pembuktian keberhasilan pemilihan sebuah judul. Kemunculan yang jika ditanggapi dengan baik oleh para film maker akan menjad ialasan bagi banyak orang untuk datang dan menonton di bioskop. Dan dalam hal ini, bagi saya Iseng telah berhasil.

Iseng adalah cerita tentang manusia-manusia yang hidup di Jakarta dengan segala dinamikanya. Manusia-manusia yang hidup sendiri-sendiri dalam kota besar, tetapi suatu saat dapat saling dipertemukan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa datang dari mana saja. Ide ini diangkat dari kehidupan manusia-manusia biasa di sekitar kita, dapat terjadi kapan saja, dapat berlaku di mana saja dalam suatu masyarakat urban. Ide yang membuatnya akan dengan mudah terasa dekat dengan orang-orang yang menontonnya.

Ada banyak karakter yang hidup dalam Iseng, dalam masing-masing subplotnya. Seorang polisi muda dan komandannya, seorang pengusaha dan selingkuhannya,seorang sekretaris penggoda dan seorang lesbian, seorang PSK dan sahabat masa SMAnya dari desa, seorang pegawai restoran dan pemilik restoran, serta tiga orang preman dan seorang supir. Menyatukannya dalam suatu plot yang utuh adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Dan naskah yang ditulis bersama oleh Husein M. Atmojo, Selvinaeri Cahyani, dan Rosman Mohamed, serta pengarahan dari Adrian Tang berhasil menyatukan potongan-potongan cerita itu dengan baik, setidaknya pada ¾ bagian pertamanya.

Apa yang dikisahkan dalam Iseng, selain merupakan sebuah rekam kehidupan dalam begitu banyak masyarakat urban, juga merupakan manifestasi dari pembuktian seorang manusia. Dalam Iseng, masing-masing karakter yang saling terhubung tadi berinteraksi untuk meraih pembuktiannya masing-masing. Ludi (Donny Alamsyah) dan pembuktiannya sebagai polisi muda yang dapat diandalkan untuk memecahkan sebuah kasus, Irwan (Tio Pakusadewo) dan pembuktiannya atas kekuasaan sebagai seorang pria, Chicha (Evelinn Kurniadi) dan pembuktiannya untuk kemenangan atas masa lalu, serta Denis dan pembuktiannya untuk kekuasaan atas nafsu liar dan imaji. Mereka dan karakter-karakter lain dalam Iseng memiliki obsesi pada pembuktiannya masing-masing, yang seringkali, berdasarkan apa yang disampaikan secara jelas di dalamnya, lahir dari sebuah keisengan.

Iseng, sebagai sebuah crime-thriller, yang sampai saat ini masih jarang dikerjakan di Indonesia, dengan poin positif di atas, berhasil memberikan atmosfir yang cukup menarik dalam memunculkan tanda tanya dan keresahan sejak awal penceritaannya. Cerita yang diawali dengan sebuah kasus yang meninggalkan dua korban tewas di sebuah apartemen. Sebuah kasus yang mengantarkan kita menemui karakter-karakter dengan pembuktiannya masing-masing tadi. Presentasi yang cukup kuat ini sayangnya harus dikacaukan oleh “hilangnya” beberapa adegan dan subplot yang menjadikan keseluruhan cerita yang sudah dirangkai sejak awal menjadi sekadar tanda tanya yang tak terjawab. Dan sensor yang brutal pantas mendapatkan sebuah tudingan di sini. Pemotongan yang dilakukan dalam sensor atas 20 menit durasinya adalah pemotongan yang cukup brutal. Kebrutalan ini mungkin dilakukan karena berbagai konten dalam film yang memang vulgar. Namun, keputusan lembaga sensor ini, di samping berbagai kekurangan eksekusi yang sangat mungkin terjadi,telah terbukti sangat mempengaruhi bangunan sebuah cerita.

Keberhasilan Iseng dalam menuturkan “keisengan”nya, selain hal-hal di atas,juga dihasilkan dari karakterisasi yang kuat dan solid di dalamnya. Bukanlah hal yang mudah menyusun sebuah kesatuan cerita dari begitu banyak karakter dengan tetap memberikan porsi yang cukup dan karakterisasi yang kuat sehingga masing-masing darinya layak untuk diingat. Namun, Iseng berhasil melakukannya. Keberhasilan yang tentunya juga tidak terlepas dari penampilan impresif dari setiap pemerannya. Bahkan, Yayan Ruhian dapat melepaskan baju aksinya dan menghidupkan karakter “biasa” yang diberikan kepadanya dengan baik. Keberhasilan yang melengkapi Iseng, terlepas dari berbagai tanda tanya yang tak terjawab hingga akhir sehingga menjadikannya crime-thriller yang berkesan dan usaha yang layak diapresiasi.

3/5

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Layar-tancep.com

Tinggalkan Balasan