REVIEW – THE ACT OF KILLING / JAGAL: INGATAN YANG BERARTI

review-the-act-of-killing

Ada begitu banyak kisah pembantaian yang ditulis dengan tinta darah pada catatan perjalanan umat manusia. Dan banyak di antaranya tidak diakhiri dengan kemanusiaan. Salah satu kisah itu ada di negeri ini, pada suatu hari yang dinamakan dengan Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Sebuah titik kecil dalam rentang panjang sejarah bangsa ini dan kemudian menjadi tolakan yang menciptakan tragedi pembantaian jutaan orang manusia yang diberi tanda PKI (Partai Komunis Indonesia), serikat buruh, petani tanpa lahan, intelektual, keturunan Tionghoa, dan tanda-tanda “berbahaya” lainnya. Sebuah kekejaman yang dirayakan oleh jutaan orang lainnya dan diingatkan terus-menerus melalui sebuah film propaganda setiap tahunnya. The Act of Killing / Jagal muncul sebagai antitesis bagi “kebenaran” yang ditanamkan selama puluhan tahun di setiap kepala manusia Indonesia sejak saat itu. Sebuah antitesis yang mendapat pengakuan dari begitu banyak kusala film dunia, salah satunya dalam kategori Best Feature The 87th Academy Awards tahun lalu.

The Act of Killing / Jagal adalah sebuah dokumenter yang dikerjakan oleh Joshua Oppenheimer bersama Christine Cynn dan salah satu Anonymous di antara begitu banyak Anonymous lainnya. Dokumenter ini bercerita tentang orang-orang yang berada di balik pembantaian yang menjadikan PKI dan komunisme sebagai hantu tak berbentuk yang didongengkan untuk menciptakan “kemapanan bernegara” selama kekuasaan Orde Baru. Mereka adalah Anwar Congo dan kawan-kawannya, para jagal yang melakukan eksekusi pada orang-orang yang dianggap berbahaya di Sumatera Utara pada saat itu. Tanpa pengadilan, tanpa pembelaan. Sebuah dokumenter yang dengan terang benderang menyatakan kekejaman yang justru dirayakan dan hubungannya dengan kekuasaan, seperti organisasi paramiliter Pemuda Pancasila dan kawan-kawan Anwar yang berkuasa di negeri ini.

Melalui Anwar dan kawan-kawannya, kita dipertontonkan sebuah kekejaman yang begitu jujur dalam rekonstruksi eksekusi yang pernah mereka lakukan pada salah satu masa terkelam dalam sejarah itu. Kekejaman yang dipertontonkan dengan penuh kebanggaan dan sepertinya, kejujuran. Kebanggaan yang rasanya hadir karena Anwar dan kawan-kawannya sejatinya berangkat sebagai preman bioskop yang begitu mencintai film dan terinspirasi dari film-film gangster Amerika saat itu. Dari sinilah muncul kesiapan dan keyakinan akan “kebenaran” karena sentimen pada orang-orang PKI yang menentang masuknya film-film barat yang pada saat itu memenuhi bioskop, diminati, dan secara tidak langsung menguntungkan mereka. Dan dari film-film gangster itu pula metode-metode eksekusi yang mereka gunakan diambil. Inspirasi yang menghasilkan pembantaian menggunakan kawat, meja, dan alat-alat eksekusi lainnya. Anwar dan kawan-kawannya menggunakan kamera sebagai panggung pertunjukan dari imajinasi yang telah mereka bangun sejak menonton film-film gangster Amerika dulu. Imajinasi yang setidaknya sangat terlihat dari cara mereka bersikap dan berpakaian.

Rekonstruksi yang dipertunjukkan oleh Anwar dan kawan-kawan itu menghadirkan ketidaknyamanan dan kengerian yang sangat mendalam bagi kita yang menontonnya. Dan ini adalah salah satu keberhasilan The Act of Killing / Jagal dalam bertutur dan menyampaikan pesannya, kemampuan Joshua untuk menghadirkan kengerian dalam aspek-aspek visualnya yang berbeda. Keberhasilan ini dibangun dari pergumulannya bertahun-tahun dengan para pembunuh dan penyintas pembantaian 1965 di Sumatera Utara sejak kolaborasinya dengan para buruh kebun dan film dalam The Globalization Tapes (2003). Kedekatan dari pergumulan bertahun-tahun yang kemudian memudahkannya membuat Anwar dan kawan-kawan terlibat sepenuhnya dalam proses kreatif, menulis naskah dan menyutradarai sendiri rekonstruksi ingatan mereka dengan imajinasi dari kedekatan dengan film-film gangster yang diidolakannya dulu. Menjadikan mereka lebih leluasa dan memiliki film ini sepenuhnya. Menjadikan Joshua bisa lebih leluasa menggali hal-hal yang “tabu” tanpa halangan yang berarti.

Selain kecerdasannya dalam bercerita, yang menjadikan The Act of Killing / Jagal sebagai dokumenter yang berhasil adalah kemampuannya untuk adil. Tidak hanya mengeluarkan “kebenaran-kebenaran” yang selama ini tersimpan rapat, tetapi juga memberi ruang pada perbincangan emosional para karakter di dalamnya, terutama sang Anwar Congo. Mengikuti perjalanan rekonstruksi ingatan yang panjang ini, kita juga akan melihat Anwar sebagai seorang manusia biasa. Bukan hanya seorang pembunuh yang telah mencabut hidup ribuan manusia, tetapi juga lelaki yang dekat dengan anak-anaknya dan berlaku lembut pada itik peliharaannya. Bukan hanya seorang algojo, tetapi juga seorang manusia yang dapat merasa salah, jatuh pada pergumulan emosi, penyesalan, dan menitikkan air mata tanpa pernah terduga. The Act of Killing / Jagal adalah dokumenter tentang kekejaman, sekaligus cerita tentang manusia biasa dan sisi humanisnya.

Pada akhirnya, penting bagi saya untuk berpendapat bahwa titik berat rekaman ini bukan pada komunisme dan idelogi yang dibawanya, tapi pada kemanusiaan, kekejaman pembantaian yang tak diadili, dan banyak hal sekitar yang dibicarakan di dalamnya. Sepanjang 159 menit perjalanannya, The Act of Killing / Jagal bicara tentang banyak sekali hal di luar sana. Hal-hal yang begitu dekat dengan kita, tetapi jarang diperbincangkan. Ia bicara tentang kebenaran atau maksud baik yang sering kali sulit didefinisikan, seperti yang ditulis Rendra pada sajaknya, “maksud baik untuk siapa?”. Ia juga bicara tentang kejahatan perang dan sejarah yang seringkali dibuat untuk pemenang. Dan setiap orang dengan berbagai maksud, dapat saja menjadi pemenang. Ya, pada akhirnya memang tidak ada di antara kita yang dapat menyatakan kebenaran yang sebenar-benar kebenaran. Namun, yang rasanya lebih penting dari itu adalah usaha terbaik untuk mendekati dan bicara kebenaran yang kita yakini. Dan dalam hal ini, The Act of Killing / Jagal telah berhasil melakukannya. Berhasil. Sangat berhasil. Dan dari sanalah, ia menjadi ingatan yang berarti.

☆☆☆☆

Tinggalkan Balasan