REVIEW: JANJI JONI

 

review-film-janji-joni-kinerasya

Ketika kita melangkahkan kaki menuju gedung bioskop, membeli karcis, lalu duduk manis di kursi penonton untuk menonton sebuah film, pernahkah kita berpikir bahwa ada seseorang yang berjuang mati-matian untuk kita di luar gedung bioskop? Ketika kita sedang berpetualang dalam dunia imajinasi pada layar bioskop ada seseorang yang harus berpeluh keringat agar petualangan kita tidak berakhir dengan kotak-kotak popcorn dan botol-botol minuman yang berterbangan, lengkap dengan sorakan dan hembusan nafas kecewa. Dialah sang pengantar rol film.

Ya, pengantar rol film adalah mereka yang mengabdikan dirinya untuk menyambung ‘nyawa’ film yang sedang diputar di bioskop kesayangan kita. Pasalnya, produsen film hanya menyediakan 1 rol film untuk 2 bioskop sebagai penghematan pengeluaran. Akhirnya dibuatlah sistem jam tayang yang berbeda antara satu bioskop dengan bioskop lainnya, dan sang pengantar rol film inilah yang harus mengantar rol film dari satu bioskop ke bioskop lain secara bergiliran.

Janji Joni adalah sebuah film yang bercerita tentang Joni, seorang pengantar rol film yang sangat berdedikasi. Dalam sejarah pergelutannya di dunia antar-mengantar rol film, belum pernah sekali pun ia terlambat sampai akhirnya di bioskop ia bertemu dengan seorang gadis yang menarik hatinya. Saat ingin berkenalan, gadis itu berkata bahwa ia akan memberi tahu namanya jika Joni berhasil mengantarkan rol film yang ingin ditontonnya. Dan cerita pun segera bergulir dengan menarik dari sebuah premis sederhana tersebut. Langkah Joni untuk menjemput sebuah nama itulah yang akan mengantarnya ke dalam sebuah perjalanan yang tak pernah ia duga.

Menghasilkan sebuah ide cerita yang tidak biasa seperti pengantar rol film bukanlah hal yang mudah. Namun, itu juga bukan hal sulit karena tanpa kita sadari sesungguhnya ide cerita terkadang lebih dekat dan akrab dari yang kita bayangkan. Janji Joni adalah sebuah film yang berangkat dari sebuah realita yang sangat dekat dengan dunia film tetapi sering kali terlupakan oleh dunia film itu sendiri. Kesadaran seorang Joko Anwar lah yang kemudian dengan jeli mengangkatnya. Dan benar saja, film ini tidak hanya menyampaikan rol film dengan banyak hal di dalamnya, tetapi juga menjadi salah satu film yang mengantarkan dunia film Indonesia kepada kebangkitannya saat itu.

Rol film dengan sejuta pesan ini banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi otokritik terhadap kehidupan masyarakat dewasa ini. Kriminalitas yang sering kali berbenturan dengan moralitas, egoisme, kurangnya kesadaran sosial masyarakat, dan realita-realita yang terjadi di sekitar kita adalah cerita yang ingin disampaikan oleh film ini. Judul Janji Joni sendiri sesungguhnya menjadi otokriktik yang sangat tajam bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana sebuah janji sesungguhnya harus ditepati walau seribu rintangan merintang di hadapan kita. Tentang ketepatan waktu yang seringkali diabaikan. Bagaimana sebuah keterlambatan walau hanya sedetik akan merugikan banyak orang. Tentang dedikasi yang kini seakan tidak lagi dihayati. Semua tergambar dari perjalanan seorang Joni, pengantar rol film dengan jiwa yang dipenuhi dedikasi. Dan di samping semua otokritik tersebut, disandingkanlah cinta dari dan untuk orang-orang di sekitar Joni. Sekali lagi Joko Anwar dengan jeli dan apik membungkus semuanya dalam Janji Joni ini menjadi sebuah film dengan petualangan yang seru dan sangat tidak biasa. Out of the box!

Komposisi yang pas adalah  hal yang sepertinya berperan besar untuk mengantarkan film ini menjadi rol film, diputar dalam layar bioskop, dan tersimpan di hati para penontonnya. Nicholas Saputra tampak sangat menikmati peran dan petualangannya dalam diri Joni sang pengantar rol film. Mariana Renata tampil sesuai dengan perannya sebagai Angelique, gadis  yang mempesona. Surya Saputra, sesuai dengan perannya sebagai pacar yang menjengkelkan menjadi benar-benar menjengkelkan di film ini. Dan almarhum Gito Rolies terlihat sangat berkharisma sebagai petugas pemutar film. Dwiky Riza, Rachel Maryam, dan Fedi Nuril menjadi satu kesatuan chemistry yang pas sebagai “barisan jalanan”. Tidak ketinggalan, sebagai film tentang orang di balik sebuah film, ada Yoga Koesprapto yang dengan sangat baik melakukan editing, merangkai film di balik itu semua. Ini terbukti dengan raihan editing terbaik dalam FFI 2005 dan Asia Pasific Film Festival 2005. Dan, 8 dari 10 bintang dari saya.

Tinggalkan Balasan