[Review] Kartini – Dekat, Hangat, dan Hormat

Film KartiniKartini, bagi saya dan sepertinya banyak anak di Indonesia, adalah perlambang dari daya seorang perempuan. Sejak kecil, namanya telah dikenalkan melalui buku-buku sejarah sekolah kita. Sayangnya, pada peringatan setiap tahun, seringkali namanya sekadar dirayakan dengan seremoni yang, bagi saya, jauh dari semangat yang dihidupkanya lebih dari 100 tahun lalu, dengan pawai kebaya atau pemilihan “dimas diajeng” di sekolah-sekolah. Kisah mengenai diri Kartini sendiri seringkali juga merupakan kisah yang itu-itu saja. Maka, kehadirannya dalam karya sinema kali ini rasanya patut kita rayakan sebagai sebuah kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat dan merasakan semangatnya lebih khidmat.

 

Kartini karya Hanung Bramantyo bisa jadi merupakan kisah Kartini yang belum sering kita baca, dengar, dan saksikan selama ini. Ceritanya bertumpu pada kisah Kartini dalam Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, Gelap Terang Hidup Kartini dari Tempo, dan Habis Gelap Terbitlah Terang yang disusun Armijn Pane. Tentu, dilengkapi dengan riset panjang selama satu tahun lebih bersama orang-orang yang mumpuni.

 

Lini masanya dimulai sejak Kartini (Dian Sastrowardoyo) harus masuk ke dalam rumah utama ayahnya, Raden Mas Adipati Sosroningrat (Deddy Sutomo), seorang bupati Jepara, dan harus memanggil ibunya, MA Ngasirah (Christine Hakim), sebagai Yu (Bibi) karena aturan yang berlaku dalam masyarakat Jawa saat itu. Pembukaan ini adalah awal yang kuat bagi perjalanan setelahnya karena pilihan Hanung untuk menggali lebih dalam Kartini dari lingkup terkecilnya, keluarga.

 

Pilihan Hanung untuk menceritakan Kartini dari lingkup keluarganya telah menjadikan kisahnya kali ini menjadi berbeda. Sepanjang tuturan, kita akan mengenal lebih dekat setiap nama yang ada dalam keluarga Raden Sosroningrat. Yang menjadikannya lebih terasa dekat adalah kemauan Hanung bersama Bagus Bramanti di meja penulisan untuk memberikan alasan bagi setiap karakternya. Alasan yang mendasari pilihan-pilihan mereka kemudian dan menempatkan mereka sebagai manusia. Pada akhirnya, saya dan setiap hati yang mengikutinya akan lebih mudah memahami keputusan setiap karakter di dalamnya.

 

Dari keluarga inilah kita akan menemui banyak cerita yang sangat mungkin belum kita kenal sebelumnya. Kisahnya bersama dua orang saudara perempuan, yaitu Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha), rasanya akan menjadi bagian cerita paling diingat oleh banyak orang yang menontonnya. Kesan yang hadir karena ketiganya saling memengaruhi dan bertumbuh dari proses yang dijalani, juga kehangatan yang dibangun dengan baik oleh Dian, Acha, dan Ayushita.

 

Kartini dalam interpretasi Hanung sendiri adalah pribadi yang mampu menghidupkan cerita dengan baik. Pandangannya tentang adat, pernikahan, hak perempuan, masyarakat, dan dunia dihadirkan dengan tepat oleh Hanung melalui sikap-sikap Kartini. Selepas menonton, kita akan menyadari bahwa ini bukanlah biopik tentang manusia yang sempurna dan tanpa celah karena seiring prosesnya kita akan mengenal Kartini yang tidak hanya ideal pemikirannya, tetapi terkadang juga punya ego yang sangat tinggi. Rasanya, itu justru menjadikannya kisah yang baik karena membumi.

 

Kita tidak akan terlalu banyak menjumpai momen sekolah perempuan yang selama ini sangat lekat dengan Kartini. Kita akan dibawa lebih jauh untuk menjumpai proses yang mendasari seluruh perjuangannya, dilema diri Kartini itu sendiri, perlawanannya pada adat dan pernikahan. Namun, alih-alih mendengarkan kritik habis-habisan, kita akan mendengarkan kritik yang disampaikan dengan hormat, tanpa melupakan tujuan dan alasannya. Penutupnya, setidaknya telah menempatkan adat dan pernikahan sebagai renungan bagi Kartini untuk mengalahkan ego dirinya. Kemampuan Hanung dalam mengelola emosi berperan sangat banyak dalam menuturkan semua itu. Dian, meski tidak terlalu mencuri perhatian, telah mampu menghidupi diri Kartini seperti yang diperlukan.

 

Bagi saya yang muslim, ada satu hal lagi yang membuat bahagia dari mengiringi perjalanan Kartini, yaitu melihat perbincangannya dengan Kiai Saleh Darat. Dalam diskusi tersebut, ada hal-hal mendasar mengenai Islam yang membuat saya tertegun, merenung, sekaligus terharu. Juga salah satu soal paling hakiki dari Islam itu sendiri, Quran. Perbincangan itu, walau hanya menjadi bagian kecil di dalam kisah panjang, telah menempatkan nama Kartini dekat dan tak terpisahkan dari entitas muslim nusantara.

 

Menjumpai Kartini tidak hanya menghadiahkan kita pemahaman yang berarti, tetapi juga menghadirkan pengalaman sinema yang berharga. Seperti biasa, saya sangat mengagumi sinematografi yang dikerjakan oleh Faozan Rizal. Visual yang dapat bercerita banyak tentang kisah yang disampaikannya dan memberikan kesan sempurna dalam kualitasnya. Kemampuan yang dilengkapi oleh Allan Sebastian melalui tata artistiknya, lalu Andi Rianto dan Charlie Meliala bersama musik bernada Jawa dan Eropa yang sangat indah. Dan penampilan para pemerannya, terutama Christine Hakim, Deddy Sutomo, Nova Eliza, dan Denny Sumargo, juga terasa begitu matang.

 

Kartini telah menjadi pertemuan berarti bagi saya. Saat kredit akhir tampil menyudahi perjalanan saya bersamanya, ada perasaan hangat yang hadir, walau sepanjang perjalanan ada banyak sesak dan protes yang muncul karena kejadian-kejadian yang ada. Pun dengannya, ada ingatan tentang Kartini yang saya rasa perlu bagi generasi kini yang mungkin hanya mengenalnya dari cerita yang itu-itu saja. Kisah yang dekat, hangat, dan hormat tentang perempuan Indonesia.

 

★★★★☆

 

 

Baca juga: Review The Guys

Tinggalkan Balasan