Kuroko no Basket: The Last Game

Kuroko no Basket Last GameSaya menghabiskan masa kecil dengan menikmati banyak komik dan animasi Jepang yang sempat tayang di televisi. Berhubung, unduh mengunduh belum populer juga. Salah satu yang menjadi kesukaan saya ketika itu adalah Slam Dunk, komik basket yang ditulis oleh Takehiko Inoue dengan karakter utama yang ikonik, Hanamichi Sakuragi. Saat itu, saya pernah bermimpi punya rambut merah sekeren dia. Setelah itu, rasanya belum ada lagi lagi animasi dengan tema basket yang saya suka. Real dari Takehiko Inoue sebenarnya bagus sekali, tapi kemungkinannya kecil untuk diadaptasi ke animasi, pun ceritanya yang juga belum kunjung selesai.

 

Lalu, Kuroko no Basket muncul tahun 2012 dengan animasi adaptasinya dari komik yang ditulis Tadatoshi Fujimaki. Saya lalu tertarik karena konsepnya yang berbeda. Menggabungkan basket dengan kemampuan khusus dari beberapa orang karakternya dan menjadikan karakter yang kehadirannya sulit disadari sebagai karakter utama. Last Game adalah film keempat yang melanjutkan cerita ketika Kuroko dan Kagami, dua karakter utamanya, sudah naik ke kelas dua. Ini adalah pertandingan mereka bersama Kiseki no Sedai, lima karakter dengan kemampuan khusus terbaik, melawan Jabberwock, tim street basket terkenal dari Amerika.

 

Kuroko no Basket: Last Game punya hal yang sedikit berbeda dengan serinya. Sejak awal, tidak akan terlalu banyak cerita di luar pertandingan yang kita jumpai. Bisa dibilang, hampir seluruh cerita adalah pertandingan. Keputusan yang rasanya sudah benar karena rentang waktu yang memang tidak akan seluas seri. Maka, mengeksplorasi pertandingan sebagai konten utama tentu sudah menjadi prioritas. Hanya saja, hal ini berkonsekuensi menjadikan film ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang sudah mengikutinya serinya dengan utuh.

 

Penonton yang belum pernah mengikuti Kuroko no Bakset sebelumnya pasti akan kebingungan dengan kilatan yang tiba-tiba muncul dari mata Aomine atau Kagami. Atau Kuroko yang tiba-tiba bisa muncul dari mana saja tanpa ada yang menyadari. Atau Kise yang punya bayangan teman-temannya ketika beraksi melewati lawan-lawannya. Pada akhirnya, Last Game memang akan jadi film khusus penonton serinya.

 

Nah, dengan begitu, Last Game akan jadi ajang reuni untuk penonton dan karakter-karakternya. Reuni yang menyenangkan karena setiap aspek yang ada dalam serinya dapat dilihat kembali sepanjang pertandingan melawan Jabberwock berlangsung. Semakin menyenangkan karena hampir setiap karakter juga diberi kesempatan untuk tumbuh dan memberi kesan perpisahan yang mengesankan. Sayangnya, Kuroko dan Kagami bisa dibilang kehilangan ruang untuk memukau dengan kombinasi cahaya-bayangan yang sejak awal dibicarakan dalam serinya. Walau pada akhirnya mereka tetap punya peran dan meninggalkan kesan dengan caranya masing-masing.

 

Kelemahan Kuroko no Basket: Last Game ada pada pilihannya menjadikan tim street basket sebagai lawan tanding Kuroko dan kawan-kawan. Pilihan yang pada awalnya berhasil menarik pertandingan karena aksi jalanan yang Jabberwock tunjukkan dalam pertandingan pertama melawan Strky, senior Kuroko dan kawan-kawan. Sayangnya, hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik dalam pertandingan “balasan” melawan Vorpal Swords yang menggabungkan Kiseki no Sedai, Kuroko, dan Kagami. Street basket kemudian berakhir sebagai gimmick yang tidak memberi perbedaan berarti.

 

Setelah pertandingan berakhir, saya rasa, siapa pun yang menyukai serinya akan senang dengan reuni ini. Menyaksikan pertandingan yang kemudian memberi ruang bagi hampir seluruh karakternya berkembang dan menjumpai kembali berbagai hal dari serinya. Jika ini merupakan perpisahan bagi seluruh cerita Kuroko dan kawan-kawan, setiap penggemarnya dapat tersenyum dan memberi salam yang cukup membanggakan.

 

★★★

 

Baca juga: Review Ponyo

Tinggalkan Balasan