REVIEW – LA LA LAND

La La LandSaya masih saja tak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri. Setelah menemui Emma Stone dan Ryan Gosling dalam La La Land, ada banyak rasa yang sepertinya akan tertinggal cukup lama. Musik dan adegan di dalamnya terus menerus berputar di pikiran. Tak henti-henti dan tak mau pergi. Maka, sembari menunggu penyudahan rindu untuk kembali bersua, saya memutuskan untuk menikmatinya dan menuliskan sebuah cerita.

 

La La Land berkisah tentang Mia (Emma Stone), seorang perempuan yang bercita-cita menjadi aktris, dan Sebastian, musisi yang mencintai jazz dan memimpikan untuk mendirikan klub jazznya sendiri. Dua manusia di Los Angeles yang hidup dengan mimpi dan kecintaannya masing-masing. Dan dari bangku penonton, kita akan mengikuti keduanya berlari menuju mimpi dan cinta itu.

 

Saat pertama kali saya membaca tentang La La Land, ada nama Damien Chazelle di sana. Nama yang tahun lalu telah berkarya sebuah masterpiece musikal, Whiplash. Karya sinema yang mengisahkan seseorang dari bagian panggung yang jarang tersorot lampu, yaitu pemain drum. Lalu, saat itu saya berpikir, “jika tahun lalu saya sudah mengalami sebuah masterpiece, akan seperti apakah pengalaman saya kali ini?

 

Chazelle pada akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan lugas. La La Land merupakan perwujudan yang sempurna dari kecintaannya pada musik, gubahan yang sepertinya dapat mewakili dirinya, individu yang sangat passionate pada musik jazz dan film. Dan pencapaiannya pada Golden Globes dengan meraih habis seluruh nominasi yang memungkinkan di usia 31 tahun adalah jawaban yang tidak akan pernah bisa dibantah atas pertanyaan saya. Passion memang selalu bisa mengantarkan siapa saja yang menekuninya dengan jiwa menjadi seorang luar biasa.

 

La La Land benar-benar city of stars. Penuh warna, penuh emosi, penuh cinta. Musikal cantik tentang pemimpi dan jalan hidupnya. Chazelle telah menjadikan pengalaman menontonnya seperti mengalami pertunjukan jazz dan teater dalam waktu yang bersamaan. Kita di bangku penonton dan layar adalah panggung. Sepanjang perjalanan, kita akan menemui banyak sekali momen memesona yang diciptakan dengan tata artistik cantik, perpindahan pencahayaan yang emosional, dan perpaduan-perpaduan visual yang rumit, tetapi mengena. Juga, salah satu koreografi terbaik yang pernah ada dari Mandy Moore.

 

Membicarakan jazz dan mimpi sekaligus menghadirkan gairah yang begitu kuat pada keduanya bukanlah hal yang mudah dilakukan. Namun, Chazelle yang juga duduk sebagai penulis melakukannya dengan baik. Jazz dan mimpi dituturkan dengan baik bersama beberapa kritik yang diselipkan untuk dunia dan industri seni di Amerika. Dan itu semua terasa tidak hanya dalam cerita, tetapi juga dalam gerak, ekspresi, serta dialog-dialog tentang jazz, film, dan seni peran.

 

Musikal tentu tak akan bisa lepas dari musik itu sendiri. Maka, saat setiap nada dalam film bercerita begitu banyak dan memunculkan berbagai emosi yang kuat, ia telah menjadi musikal yang seutuhnya. Justin Hurwitz adalah maestro untuk itu. Kolaborasinya dengan Chazelle sepertinya akan selalu saya nanti. Seluruh lagu dalam La La Land, mulai “Another Day of Sun” hingga “Epilogue” adalah karya indah. Keindahan yang kemudian ditampilkan oleh Ryan Gosling dan Emma Stone dengan menawan.

 

Emma Stone dan Ryan Gosling, bagi saya, adalah nyawa dari La La Land. Merekalah yang menyampaikan begitu banyak rasa di dalamnya dengan utuh ke hati saya yang duduk di bangku penonton. Mereka menyanyi, menari, memainkan piano, dan berekspresi sepenuh jiwa. Mereka saling mencintai dengan chemistry yang tiada dua. Menampilkan dua manusia yang mencintai mimpi mereka dan berlari sekuat tenaga untuk mewujudukannya.

 

La La Land adalah perayaan untuk musik, cinta, dan mimpi. Perayaan yang tidak hanya disesaki kesenangan, tapi juga tekad yang kuat untuk memperjuangkan mimpi. Tekad yang terasa kental dan akan memicu percikan-percikan kegigihan pada setiap hati yang menontonnya. Bahkan, pada mereka yang mungkin saja sudah berpikir untuk berhenti berlari. Setiap jengkalnya adalah magic. Gosling, Emma, musik, cerita, koreografi, camera work, dan presentasinya: magical. La La Land dibuka dengan suasana yang membawa hati menari-menari, lalu diakhiri dengan penutup yang membuat sesak setengah mati. Dan hanya yang mengenal dengan baik mimpi dan cita-cita yang dapat mengisahkan konklusi sebaik itu.

 

★★★★★

 

 

Baca juga: Review Arrival

 

5 thoughts on “REVIEW – LA LA LAND”

Tinggalkan Balasan