REVIEW – MAMACAKE

review-film-indonesia-mamacake

Everything happen for a reason. Seluruh rangkaian kejadian yang ada dalam hidup kita selama ini selalu ada untuk sebuah alasan. Kita mungkin seringkali tidak menyadari siapa kita sebenarnya sampai kita berada pada satu titik dalam rangkaian kejadian tersebut. Mamacake adalah sebuah film tentang perjalanan tiga orang anak muda Jakarta untuk membeli browniesMamacake, permintaan terakhir dalam sakit dari nenek salah satu dari ketiganya. Brownies tersebut harus dibeli langsung dari tempat produksinya di Bandung. Permintaan tersebut kemudian mengantar ketiga anak muda Jakarta tersebut pada sebuah perjalanan yang penuh cerita berarti. Perjalanan untuk sebuah alasan.

Mamacake adalah film pertama seorang Anggy Umbara, sutradara muda berbakat Indonesia yang film keduanya, Comic 8, berhasil meraih capaian 1 juta lebih penonton dalam dua pekan penayangannya di awal tahun 2014. Ketika banyak orang terkesan dan berkata bahwa Comic 8 adalah sebuah film yang sangat menarik, Mamacake akan membuat mereka jauh lebih terkesan. Sebagai sebuah drama komedi, ia punya segala aspek yang dibutuhkan untuk menjadi drama komedi yang baik. Premis menarik, storyline yang rapi, sinematografi yang mengesankan, alur emosi yang menanjak, twist yang baik, dan pesan yang kaya nilai.

Dalam film ini, Anggy banyak bercerita tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita, manusia yang kian lama semakin jauh dari kemanusiaan, kehidupan kota yang terjebak dalam hingar bingar, masyarakat yang tak lagi bermasyarakat, jati diri yang tenggelam dalam hal-hal yang selama ini dianggap benar, dan lain-lain. Mamacake adalah petuah-petuah beruntun yang dituturkan oleh karakter dan dunia dalam perjalanan tiga anak muda sebuah kota metropolitan. Film ini adalah film yang sangat menggurui, tetapi anehnya kita tak akan sedikit pun merasa jengah digurui olehnya. Guru yang baik adalah teman yang menyenangkan, bukan?

Mamacake memang punya cerita yang kaya akan nilai. Namun, nilai-nilai tersebut tidak akan tersampaikan dengan baik jika tidak didukung oleh naskah yang baik. Dalam hal ini, Anggy yang juga berlaku sebagai penulis naskah berhasil membuat naskah yang sangat baik sebagai fondasi bertuturnya cerita yang kaya nilai tersebut. Perlu naskah yang baik untuk membuat petualangan-petualangan seperti Janji Joni dalam film ini menjadi rangkaian cerita yang tidak berakhir dengan hasil yang berantakan. Selain itu, penempatan setiap momen dalam film ini juga sangat tepat sehingga tidak ada momen yang ditempatkan dengan sia-sia. Alur emosi yang terus menanjak sejak awal sampai akhir film dan twist-twist yang sangat tak terduga khas Anggy melengkapi tutur cerita Mamacake dengan sempurna.

Dalam hal sinematografi, Anggy banyak mencoba hal-hal yang jarang digunakan dalam film-film Indonesia lainnya. Camera work yang unik, meski tidak segila Comic 8, adalah salah satu hal yang membuat visual Mamacake menarik. Selain itu, Anggy juga mencoba efek-efek animasi komik yang, meski kelihatan sangat sok asik, tetapi entah kenapa justru semakin membuat visual Mamacake menjadi menarik.

Film ini juga rasanya tidak akan menyenangkan jika bertutur begitu banyak dengan jajaran pemeran yang tidak menyenangkan. Untungnya, hal tersebut tidak terjadi karena nama-nama yang mengambil peran dalam film ini tampil dengan sangat baik. Ananda Omesh, Boy William, Arie Dagienkz, Fajar Umbara, dan Dinda Kanya Dewi, di luar dugaan dapat menjalankan perannya dengan sangat berkualitas. Ditambah lagi para pemeran perempuan yang ikut serta seperti Renata Kusmanto, Tyas Mirasih, dan Kinaryosih yang semakin membuat film ini berwarna.

Sebagai sebuah drama komedi, Mamacake punya paket lengkap yang menjadikannya sangat mengesankan. Selain Janji Joni dan Arisan rasanya sudah jarang dunia film Indonesia menghasilkan drama komedi yang begitu baik. Di tengah keadaan tersebut, Anggy Umbara datang sebagai sutradara muda debutan dengan Mamacake yang kembali menghadirkan harapan.

4.5/5

Baca Juga: Review The Raid 2 (Berandal)

Tinggalkan Balasan