[Review] Mantan – Jodoh dan Usaha-Usaha Meyakininya

Film MantanBagaimana jika jodoh bagi kita ternyata justru orang yang pernah bersama dengan kita di masa lalu?”. Bagi saya, ini adalah pertanyaan yang sederhana, tetapi cukup menarik untuk disimak. Berbekal pertanyaan itu, Adi (Gandhi Fernando) dalam Mantan pergi ke beberapa tempat untuk menemui empat orang mantannya, beberapa waktu menjelang pernikahannya. Perjalanan yang dimulai dengan sebuah tujuan untuk menguatkan keyakinannya akan jodoh.

Dari premisnya, Mantan adalah film yang sangat “kekinian”. Menyoal keraguan soal jodoh, cinta, dan kebingungan untuk move on yang sering dialami oleh anak-anak muda kita akhir-akhir ini. Namun, bukan berarti “kekinian” itu berarti niatan untuk sekadar mengobrol soal yang remeh temeh dan menye-menye. Perjalanan Adi dengan bekal pertanyaan seperti tadi sangat punya potensi untuk menjadi perjalanan yang berarti dan relevan dengan hidup banyak orang.

Sayangnya, sebagai film yang mengandalkan dialog sebagai dinamikanya, Mantan kurang berhasil menyudahi pertanyaan tadi dengan tuntas. Keputusan mengawali perjalanan Adi dengan rentang waktu yang dekat dengan pernikahan, terlebih dengan status dalam sebuah pertunangan, tidak dapat dimungkiri akan membuat karakter Adi sulit mendapat simpati. Walau sebenarnya ada sebuah kejutan di akhir yang dapat sedikit mengubah pandangan soal itu, tetap saja sepanjang perjalanan Adi akan tampak seperti laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

Lalu, perjalanan Adi kemudian membawa kita pada pertemuan-pertemuan dengan mantan-mantan kekasihnya. Mencoba menjawab pertanyaan yang sudah dituturkannya sedari awal. Sayangnya, tujuan yang sudah tertanam di dalamnya tidak pernah benar-benar terasa jelas dalam dialog-dialog saat Adi menjumpai Daniella (Ayudya Bing Slamet), Frida (Karina Nadila), Juliana (Kimberly Rider), dan Tara (Luna Maya) di kamar hotel empat kota yang berbeda.

Pertemuan Adi dengan empat mantannya lebih terasa seperti rengekan yang kurang jelas juntrungannya. Tidak ada tujuan yang jelas dan konsisten dalam dialog dan sikap yang ditampakkan oleh Adi pada setiap perjumpaan itu. Entah itu permintaan maaf, perpisahan yang baik, modus untuk balikan, atau menentukan orang yang bertanggung jawab dalam kegagalan-kegagalan yang terjadi. Sesekali, dialognya dapat disimak dengan sangat nyaman dan meyakinkan, seperti awal pertemuan dengan Juliana yang rasanya memang segmen terbaik dalam Mantan. Namun, memasuki akhir percakapan, semuanya selalu menjadi samar.

Tidak mudah memang, mengandalkan dialog dalam sebuah karya sinema. Perlu penulisan yang baik untuk dapat menjadikan keseluruhan ceritanya menjadi relevan dan sampai kepada orang-orang yang menyimaknya. Gandhi, rasanya belum berhasil melakukan tugas itu dengan baik. Pengarahan Svetlana Dea dalam film panjang pertamanya yang sebenarnya sudah cukup baik pun rasanya belum mampu menghasilkan dampak yang signifikan.

Mantan memang masih jauh dari sempurna. Namun, ini jelas karya yang menarik untuk disimak. Menontonnya semakin meyakinkan saya bahwa Gandhi dengan Renee Picturesnya punya semangat yang besar dalam berkarya. Karya-karyanya sejauh ini selalu punya pembeda yang jelas. Ide-ide yang membuatnya menjadi unik. Mantan menampilkan hal yang sama, yaitu passion, atau setidaknya, usaha yang besar untuk bertumbuh dan belajar. Bahkan, penampilan Gandhi sebagai Adi rasanya juga merupakan usaha yang besar untuk belajar dan membuktikan diri, meski pada akhirnya seringkali terasa terlalu meluap-luap.

Seluruh hal itu sepertinya sudah cukup bagi saya. Maka, menonton Mantan bukanlah pengalaman yang buruk. Premis dan idenya, seperti yang sudah saya tulis tadi, jelas punya kesederhanaan dan keunikan yang menarik. Dan menjumpai ide seperti itu dalam karya sinema kita yang bagi beberapa orang masih dianggap “begitu-begitu saja”, meski anggapan itu jelas suatu hal yang salah, merupakan satu hal yang menyenangkan. Dan saya masih akan menanti karya-karya Renee Pictures setelah ini.

★★1/2

 

Baca juga: Review Ziarah

Tinggalkan Balasan