REVIEW – MARMUT MERAH JAMBU

review-film-marmut-merah-jambu

Hidup adalah soal berproses. Seseorang akan beproses dari seorang kecil hingga menjadi seorang dewasa. Semua yang ada di dunia ini akan melewati tahapan-tahapan dalam hidup sampa tiba pada suatu garis bernama akhir. Menjadi baikkah atau menjadi burukkah adalah akibat dari sebab yang dipilih oleh setiap hal yang akan berproses. Tiap-tiap kita pasti akan terlibat di dalamnya, pun dengan Raditya Dika. Dari sebuah buku berjudul Kambing Jantan, menjadi komika, webseries Malam Minggu Miko, sampai pada sebuah film panjang berjudul Marmut Merah Jambu.

Dalam Marmut Merah Jambu, kita dapat melihat sejauh apa Radit telah berproses. Sebelum ini, dari beberapa filmnya yang tayang dalam dua tahun terakhir, hanya Cinta Dalam Kardus yang memberikan banyak cerita untuk dibawa pulang dari bioskop. Banyak yang mempertanyakan kemampuan Radit dalam menulis sebuah film panjang, atau apakah kapasitasnya dalam film hanya dapat seadanya. Namun, ia akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sebuah bingkisan manis berjudul Marmut Merah Jambu, sebuah bingkisan yang ia kerjakan, bungkus, dan hias sendiri dari meja pertamanya sebagai seorang sutradara film panjang.

Marmut Merah Jambu bercerita mengenai kilas balik Dika saat masih bersekolah di SMA dan petualangannya dari mulai sekolah, persahabatan, hingga cinta. Ketika menikmati awal ceritanya, kita akan teringat dengan Cinta Dalam Kardus, karena di sini Radit memakai pola yang hampir sama: bercerita lewat cerita, menuturkan hampir sepanjang film sebagai cerita dari tokoh Dika kepada Ayah dari cinta pertamanya di masa SMA. Dan pola ini pun berhasil, seperti dalam Cinta Dalam Kardus, cerita dalam Marmut Merah Jambu mengalir dengan jujur, seperti curhatan seorang teman yang begitu lepas.

Naskah yang ditulis Radit mungkin bukan yang terbaik. Ada beberapa bagian sepanjang film yang tidak terselesaikan dengan baik sehingga terasa sedikit mengganggu. Tiba-tiba saja menjadi seperti ini dan seperti itu. Sepertinya, Radit memang harus lebih mengasah penulisan naskahnya sehingga dapat lebih rapi atau menemukan duet yang pas seperti dengan Salman Aristo. Namun, selain kekurangan yang masih ada dalam naskah, penceritaan dalam Marmut Merah Jambu sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan film-film Radit lainnya. Tutur ceritanya tidak lagi terbata-bata, bertutur lancar seperti cerita yang mengalir dari hati. Sepertinya Radit memang lebih tepat mengerjakan filmnya sendiri dengan duduk di kursi sutradara. Ia berhasil mengajak setiap yang datang dan menonton tertawa sepanjang film. Sebagai seorang komika yang terbiasa menulis materi yang rapi, Radit dengan cerdas memberikan punchline-punchline dalam hampir setiap dialog film menjadi komedi absurd yang, lucunya, sangat dapat dinikmati. Yah, mungkin beberapa bagian absurd dalam film ini berakhir sebagai absurditas yang mengganggu, tetapi itu semua dapat sedikit terlupakan ketika disandingkan dengan absurditas lainnya yang dapat dinikmati.

Salah satu nilai tambah film ini ada pada akting para pemeran utama remajanya. Trio Christoffer Nelwan sebagai Dika, Julian Liberty sebagai Bertus, dan Sonya Pandarmawan sebagai Cindy dapat menyampaikan film ini dengan baik. Chemistry ketiganya sebagai tiga orang sahabat remaja juga dapat dibilang terjalin dengan baik. Sayang, penampilan baik dari tiga pemeran utama film ini tidak dapat diimbangi oleh Radit dan beberapa pemeran pendukung lainnya. Mungkin hanya Kamga, Tio Pakusodewo, dan Bucek Depp yang bermain cukup baik. Radit sepertinya harus mulai mempertimbangkan untuk memilih aktor lain menjadi pemeran utama dalam film-filmnya. Pemilihan sebagian cast seperti Ge Pamungkas dan Andani Da Lopez sebagai anak SMA juga meninggalkan sedikit pertanyaan yang tidak akan terjawab, bahkan ketika film telah selesai.

Ada yang berkesan ketika mengikuti Marmut Merah Jambu dari awal hingga akhir. Di sela-sela tawa di sepanjangnya, film ini bercerita tentang hal-hal kecil tapi berarti, tentang sesuatu yang lebih berarti daripada eksistensi untuk dapat “berarti”, tentang tanda-tanda yang seringkali tidak dapat kita baca, atau tentang pertanyaan mengenai saat yang tepat untuk cinta harus berhenti berjalan. Dalam film ini, Radit bicara banyak hal tanpa harus banyak berkata. Menjadikan setiap jengkal dari perjalanan hidup kita pantas untuk dikenang. Hal yang sama dengan yang dilakukannya dalam buku-buku terakhirnya setelah berproses lama dari buku yang pertama kali ia tulis.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang tidak dapat dimungkiri masih ada di sana-sini, Marmut Merah Jambu adalah film yang terasa manis untuk dinikmati. Lagipula, saya memang selalu suka dengan film yang memberikan sebuah bingkisan untuk dibawa pulang, untuk kemudian disimpan di sudut kamar dan dikenang ketika rindu. Film terbaik Radit bersama Cinta Dalam Kardus. Merah jambu.

3.5/5

 

Baca juga: Review Mamacake

Tinggalkan Balasan