[Review] Mengejar Halal – Remaja Islam & Otokritik Kurang Simpatik

Mengejar HalalPerjalanan saya menyimak Mengejar Halal dimulai dengan adegan kekacauan yang terjadi dalam suatu pernikahan. Kekacauan saat akad yang mengawali perjalanan karakter utamanya sepanjang film nantinya. Momen yang sebenarnya diniatkan komikal, tetapi agaknya sedikit sulit ditertawakan. Pada titik ini, saya masih yakin bahwa perjalanan setelahnya akan berbeda.

 

Mengejar Halal merupakan karya sinema yang dikerjakan oleh M. Amrul Ummami dan Tim Daqu Movie bersama Muara Studio dan Go Muslim. Ini merupakan debut perdana bagi mereka setelah mendapat tanggapan yang cukup baik atas karya-karyanya di YouTube. Ceritanya sendiri bertumpu pada karakter Haura (Inez Ayu) yang berusaha mendekati Halal (Abdul Kaafi) setelah insiden yang terjadi pada akad pernikahannya.

 

Saat mengikuti kisah awal Haura saya mendapati usaha yang baik untuk mengangkat sebuah masalah yang terjadi belakangan ini pada anak-anak muda Islam sekitar kita, yaitu obsesi berlebih pada pasangan/pernikahan. Mengangkatnya dalam sebuah karya sinema secara luas jelas sebuah bukti kepekaan yang baik dan sangat layak diapresiasi. Jika dieksekusi dengan baik, bukan tidak mungkin akan memantik diskusi dan refleksi yang layak setelahnya, mengingat orang-orang yang mengerjakan sudah mendapat tempat tersendiri dalam ruang lingkupnya. Menjadi sebuah kritik yang disampaikan dari dalam komunitas itu sendiri. Menjadi sebuah otokritik yang mungkin efektif. Sayangnya, yang terjadi bukanlah demikian.

 

Semua bermula dari pilihan mengemas kritik tersebut dalam sebuah karya komedi. Bukan sebuah hal yang salah, memang. Namun, presentasi komedi tersebut kemudian dikerjakan dengan tidak akurat sehingga pada akhirnya menghasilkan berbagai aspek yang kurang simpatik. Lalu, saya yang berada di kursi penonton, menyimaknya, dan tidak memiliki kedekatan dengan para pekaryanya pun menjadi kesulitan untuk ikut dalam pergumulan karakter di dalamnya. Memahami otokritiknya.

 

Ada tiga hal utama yang rasanya menjadi kelemahan dalam presentasi Mengejar Halal sebagai sebuah usaha kritik yang efektif. Pertama, karakter yang tak berproses. Menampilkan karakter sebagai protret dari remaja Islam dengan obsesi berlebih pada pasangan/pernikahan memanglah perlu. Hanya saja, berbagai kejadian yang dialaminya kemudian rasanya tidak memberi pengaruh apa pun kepada Haura. Seakan-akan tidak peduli dan kukuh pada maunya sendiri. Sulit rasanya untuk juga peduli pada karakter utama seperti ini.

 

Kedua, cerita yang terlanjur lupa diri. Sebagai sebuah karya yang diniatkan komedi, sah-sah saja memperbanyak guyonan sepanjang perjalanannya. Namun, mengingat tujuannya sebagai kritik dengan isu yang cukup spesifik, menyiapkan porsi drama yang cukup juga sangat diperlukan untuk menyelesaikannya dengan tuntas. Sayangnya, sepanjang perjalanan Mengejar Halal hanya disesaki oleh guyonan-guyonan yang lebih mirip dengan sketsa. Bahkan, pada momen-momen akhir yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan obrolan yang sudah dimulai sejak awal. Haura yang tidak berproses tiba-tiba tersadar tanpa penyelesaian yang layak. Menjadikannya sekadar cerita remaja perempuan yang tergila-gila pada pujaan.

 

Yang terakhir, tutur cerita yang tidak berhasil menyelamatkan dua hal sebelumnya. Gaya tuturnya sebenarnya mengingatkan saya pada Jomblo-nya Hanung Bramantyo dulu. Sayangnya, keberhasilan Amrul Ummami masih jauh di bawah itu. Rasanya, ini juga dipengaruhi oleh cerita yang tidak memberi ruang cukup pada drama di antaranya. Terlebih lagi, Amrul Ummami memberi ruang terlalu banyak pada “bisik-bisik dalam hati” Haura untuk menjelaskan cerita.

 

Ketiga hal itu, di samping beberapa kekurangan teknis yang tidak terlalu terkait dengan hal yang saya bahas, memberi jarak kepada saya dan banyak orang yang tidak memiliki kedekatan untuk dapat menerima Mengejar Halal dengan baik. Kesempatan menjadi sebuah pemantik gagal dimanfaatkan karena berbagai aspeknya yang kurang simpatik. Namun, kemauan dan kepekaan nama-nama di belakangnnya untuk mengerjakan sebuah otokritik yang penting saya rasa sangat patut diapresiasi. Semoga bisa berjumpa dengan perbaikan-perbaikan di karya selanjutnya.

 

★☆☆☆☆

 

 

Baca juga: Review Danur

2 thoughts on “[Review] Mengejar Halal – Remaja Islam & Otokritik Kurang Simpatik”

    1. Iya. Hehehe. Masih perlu belajar banyak buat kebutuhan bioskop menurut gue. Makasih, Hana 🙂

Tinggalkan Balasan