REVIEW – MIDNIGHT SHOW: TEROR MENCEKAM PERTUNJUKAN DI TENGAH MALAM

review-midnight-show-kinerasya

Masa lalu, di mana pun ia berasal, seringkali menjadi bagian penting yang membentuk seseorang menjadi “seseorang”. Menjadi seseorang yang “baik-baik” saja atau justru “tidak baik-baik” saja. Ya, tidak jarang masa lalu menjadikan diri seseroang sebagai pribadi yang tidak ia dan orang lain inginkan, yang berperang melawan dirinya sendiri, lalu melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Membunuh, adalah salah satunya. Dan hal ini justru seringkali menjadi ide cerita yang mengembangkan genre thriller dan horor dengan baik.

Sejak muncul pertama kali melalui poster dan video teasernya, Midnight Show telah menjadi salah satu thriller yang ditunggu-tunggu tahun ini. Apalagi, dengan perilisan trailer resminya pada Jakarta Comic Con 2015 beberapa saat lalu. Trailer resmi yang sangat menarik perhatian dan membuat kita semakin menanti-nanti. Penantian itu kemudian secara mengejutkan terpenuhi saat Midnight Showdiputar sebagai surprise movie dalam Korea Indonesia Film Festival 2015. Surprise sekali!

Midnight Show bercerita tentang sebuah film yang mengisahkan kasus pembunuhan keluarga oleh seorang anak berusia 12 tahun bernama Bagas. Pada suatu hari, ia membunuh kedua orangtua dan adiknya karena tidak tahan dengan penyiksaan yang dialaminya dan adiknya. Sebuah kengerian yang benar-benar pernah terjadi. Dan pada suatu hari, saat film ini diputar dalam midnight show di sebuah bioskop yang nyaris bangkrut, tiba-tiba terjadi pembunuhan yang sepertinya terkait dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Bagas. Satu per satu di antara yang hadir mati. Teror mencekam untuk setiap orang yang hadir pada midnight show malam itu pun dimulai.

Menonton Midnight Show adalah pengalaman teror yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan kita akan dihantui rasa takut sambil menebak sosok misterius yang terus mengejar orang-orang di bioskop malam itu, juga “sesuatu” yang sepertinya menggerakkan itu semua di balik sang peneror. Dan dengan sabar, jawaban atas semua pertanyaan itu disimpan untuk kemudian dijawab satu per satu dengan penutupan yang cukup mengagumkan dan “baru”. Ginanti Rona Tembang Sari yang duduk di kursi sutradara benar-benar tahu cara bermain darah dengan meyakinkan. Pengalamannya sebagai asisten sutradara di V/H/S 2, The Raid, dan Rumah Dara sepertinya telah menjadikannya salah satu sutradara thriller-horor yang potensial bagi perfilman Indonesia.

Ginanti Rona memang telah memberikan presentasi atas Midnight Show dengan cukup mengesankan. Sayangnya, itu semua tidak didukung dengan naskah yang sempurna. Sepanjang malam penuh teror tersebut ada beberapa kejanggalan yang mungkin akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari beberapa orang. Pun dengan penampilan para pemerannya yang sebagian besar belum dapat membangun rasa takut di dalamnya lebih kuat. Bahkan, Acha Septriasa yang biasanya dapat berperan dengan maksimal, sepertinya masih belum terlalu siap untuk berperan dalam genre yang mengandalkan rasa takut dan penasaran ini. Ganindra Bimo, di luar dugaan, justru mampu mencuri perhatian dengan karakter yang cukup kuat. Walaupun dalam beberapa momen terasa sedikit berlebihan, Bimo telah berhasil membuat kita takut sekaligus peduli kepadanya.

Selain teror yang mencekam, Midnight Show juga menawarkan visual dengan artistik yang cukup baik. Darah yang terciprat, tercecer, dan terpapar di sana-sini akan menjadi pemandangan yang membuat hati menjadi ngilu dan kemudian mual. Pun dengan konsep “film dalam film” di dalamnya. Cara “baru” yang menjadikan film ini memiliki banyak bahan untuk diperbicangkan setelah kita keluar dari bioskop dengan perasaan bergidik. Dan ya, secara keseluruhan, Midnight Show telah berhasil memberi warna yang berbeda untuk perfilman Indonesia tahun ini. Terlebih lagi, rasanya ini dapat disebut sebagai karya terbaik dari Renee Pictures sejauh ini. Berdarah!

3/5

 

*Tulisan ini telah dimuat di Layar-tancep.com 

 

Tinggalkan Balasan