[Review] Mooncake Story – Kue Bulan dan Warisan Ingatan

Mooncake StorySebelum menyudahi malam bersama cinta-cintaan Nathan dan Salma, saya terlebih dahulu memulai maraton film kali itu dengan Mooncake Story. Memulainya bersama seorang pengusaha muda bernama David (Morgan Oey) dan seorang joki 3 in 1 bernama Asih (Bunga Citra Lestari) dalam sudut-sudut kampung Jakarta di suatu pinggiran rel kereta. Kali itu, Garin Nugroho, salah satu sutradara panutan saya, memilih untuk menceritakan kue bulan dan warisan sebuah keluarga yang ada di dalamnya. Warisan yang sekaligus menjadi pengingat bagi David yang mengalami alzheimer.

 

Mooncake Story meningatkan saya pada Rindu Kami Padamu yang dikerjakan Garin pada tahun 2004. Suasananya, hal-hal kecilnya yang berarti, dan cara bertuturnya. Mengunjungi kampung tempat tinggal Asih akan menghadirkan rasa yang hampir sama dengan mengunjungi kampung tempat tinggal si Cantik 13 tahun yang lalu. Melihat potret yang terasa nyata dari masyarakat marginal Indonesia.

 

Garin memang seringkali memusatkan cerita pada kisah-kisah yang jarang terjangkau pada film-film kita yang masih terasa “kekotaan” hari ini. Dan kemampuannya dalam memotret kisah tersebut dalam bahasa yang dekat, tetapi puitis, memberikan ciri tersendiri. Hal-hal sehari-hari apa adanya yang diwarnai dengan musik dan unsur-unsur teater yang menjadikannya dekat pada realitas. Pun demikian pada kisah kue bulan sekali ini.

 

Pada Mooncake Story, ada beberapa momen sederhana yang berhasil memberikan rasa tersendiri dalam perjalanan mengikuti. Salah satu yang terkuat di antaranya adalah insiden yang melibatkan karakter Sekar (Melati Zein) dan Jaka (Sas Widjanarko). Ada dialog tak dibuat-buat yang menjadikannya, dan beberapa momen lainnya, menjadi penting, menyentuh, dan relevan.

 

Sayangnya, tepat setelah pencapaian yang baik pada momen tersebut, ada satu lompatan cerita cukup fatal yang membuat langkah kisahnya menjadi goyang. Lompatan ini membuyarkan emosi yang sudah dibangun cukup baik sejak awal. Memaksa penontonnya untuk menata lagi emosi agar dapat masuk sepenuhnya dalam cerita. Terlebih lagi, penyuntingan yang merangkai kejadian-kejadiannya juga terasa kurang tertata.

 

Catatan lain ada pada kemampuan Garin merangkai kejadian-kejadian sebagai suatu hal utuh. Hal yang sebenarnya diawali cukup baik dengan pondasi cerita yang menarik, tetapi gagal diselesaikan dengan maksimal sebagai sebuah rangkai cerita yang saling memengaruhi. Kejadian-kejadian yang melibatkan karakter-karakternya tidak dapat memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan karakter dan alur ceritanya. Menjadikannya terasa terpisah-pisah sebagai potongan cerita yang tidak terlalu berhubungan. Ditambah, penggambarannya terhadap alzheimer yang banyak dipertanyakan.

 

Perjalanan saya bersama David dan Asih dalam Mooncake Story, dengan lompatan cerita cukup fatal dan beberapa catatan tadi, memang tidak terlalu meninggalkan kesan yang dalam. Namun, dengan potretnya akan realitas dan beberapa momen sederhana yang penuh makna di dalamnya, Mooncake Story tetaplah sebuah karya sinema yang layak diikuti. Kisah menyentuh tentang warisan dan ingatan-ingatan yang cukup berarti.

 

★★★

 

 

Baca juga: Review Dear Nathan

Tinggalkan Balasan