[Review] Naura & Genk Juara – Film Anak dan Taman Bermain yang Menyenangkan

Naura dan Genk JuaraLima tahun lalu, saya menonton Cita-Citaku Setinggi Tanah dan merasakan pengalaman yang sangat berkesan. Film anak yang sederhana tersebut telah berhasil mengobati kerinduan akan film anak yang kaya emosi sejak Petualangan Sherina. Lebih bahagia lagi karena film panjang pertama Eugene Panji ini terasa sangat jujur di hati, layaknya seorang anak kecil yang sedang bertutur. Bisa menyimaknya adalah pengalaman tiada dua. Saat itu saya bergumam, “kalau nanti Eugene Panji bikin film lagi, saya tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menonton”. Maka, ketika Naura & Genk Juara, film panjang keduanya dirilis pekan ini, saya bergegas mengunjunginya di bioskop.

Naura & Genk Juara berkisah tentang anak perempuan bernama Naura (Adyla Rafa Naura Ayu) dan dua orang teman, Okky (Joshua Yorie Rundengan) dan Bimo (Vickram Abdul Faqih Priyono), yang terpilih mewakili sekolahnya untuk mengikuti kompetisi sains di acara Kemah Kreatif. Setelah tiba di hutan tropis Situgunung, Sukabumi, yang menjadi lokasi kemah, mereka berkenalan dengan Kipli, ranger cilik yang ikut bertugas di Kemah Kreatif. Namun, ketika sedang berusaha memenangkan lomba, mereka secara tidak sengaja harus berhadapan dengan Trio Licik yang terlibat dalam perdagangan hewan liar.

Berbekal cerita tadi, Naura & Genk Juara dituturkan dalam sebuah petualangan seru yang mengingatkan saya pada Petualangan Sherina. Lengkap dengan pertemanan yang diwarnai dengan percikan-percikan kecil perdebatan khas anak-anak dan lagu-lagu yang menghadirkan banyak nuansa. Bedanya, kali ini ada berbagai eksperimen ilmiah yang tidak berakhir sebagai gimmick saja, tetapi dengan baik digunakan sebagai salah satu unsur utama yang membangun taman bermain imajinasi bagi siapa pun yang menontonnya. Juga, kedekatan dengan alam yang dihadirkan melalui karakter Kipli, monyetnya, dan satwa-satwa yang ingin diselamatkan. Dua hal tadi kemudian menjadi penting karena sekaligus menjadi usaha untuk menumbuhkan kecintaan anak pada alam dan satwa, saat dunia dan teknologinya hari ini menjauhkan kebanyakan mereka dari keduanya. Pun menjadi pesan bahwa belajar memanglah seharusnya terasa menggembirakan.

Petualangan Naura bukanlah tanpa masalah. Beberapa bagian antarcerita di dalamnya terasa absen. Menyisakan beberapa lompatan dalam urutan penceritaannya. Lalu, sebagai karya sinema yang menggunakan hutan sebagai lokasi dan “kejar-kejaran” sebagai bagian penting cerita, Eugene Panji luput memberikan pemahaman akan ruang kepada penontonnya. Akibatnya, saya sibuk menebak-nebak soal jarak, kemungkinan keberhasilan misi, dan hal-hal lain yang tidak tampak di layar. Beberapa kejanggalan juga saya rasakan ketika mengikuti petualangan Naura dan teman-temannya melawan Trio Licik. Perbandingan waktu pengejaran Naura-Bimo-Okky yang berjalan kaki dan larinya Trio Licik menggunakan mobil, misalnya.

Kabar baiknya, semua itu bisa sedikit terlupakan berkat racikan yang pas dari eksperimen ilmiah, unsur alam, dan lagu-lagu hasil kolaborasi Andi Rianto bersama Mhala dan Tantra Numala. Setiap kali Naura beserta teman-temannya bernyanyi dan menari, saya tersenyum. Senang rasanya bisa menikmati sebuah film musikal anak dengan lagu yang tidak hanya baik dalam musikalitas, tetapi juga kaya dalam pesan dan tema, dua hal yang sama pentingnya bagi lagu-lagu anak dan saat ini jarang kita jumpai. Memperdengarkan lagu yang sesuai dengan usia anak-anak tentu hal penting, bukan? Terlebih lagi, semua berhasil dinyanyikan dan diekspresikan oleh Naura dengan maksimal.

Beberapa kelemahan sebelumnya mungkin membuat Naura & Genk Juara belum bisa menyamai Petualangan Sherina atau karya Eugene Panji sebelumnya, Cita-Citaku Setinggi Tanah. Namun, rasanya yang terpenting dari Naura & Genk Juara adalah seberapa berhasil ia menghadiahkan kesan yang baik kepada target utamanya, anak-anak kecil yang masih jujur. Dan soal itu, Eugene Panji masih sangat berhasil karena saya yakin, ada kegembiraan yang hadir saat mereka melihat Naura bernyanyi dan menari, teman monyet Kipli berulah, dan eksperimen-eksperimen ilmiah beraksi. Yang jelas, saya melihat semua anak keluar bioskop dengan bahagia. Sepulang menonton, sangat mungkin anak-anak lebih semangat untuk mencintai dan belajar dari alam. Atau, bereksperimen ilmiah dan mempelajari banyak hal di luar sekolah. Menyenangkan.

★★★

 

Baca juga: Review Pengabdi Setan

Tinggalkan Balasan