REVIEW – OO NINA BOBO

review-oo-nina-boboBeberapa tahun terakhir, genre horor di perfilman Indonesia cenderung diisi oleh film-film horor yang “murtad” beralih ke genre-genre lainnya, entah menjual adegan-adegan panas dan perempuan-perempuan seksi atau lelucon garing ala komedian-komedian karbitan. Walaupun film-film horor seperti itu sudah pasti mendapatkan perhatian dari segelintir penonton Indonesia, pencapaiannya seringkali tidak akan berada pada angka satu juta penonton, apalagi dua, tiga, hingga empat juta penonton. Hasilnya? Film-film horor seperti ini hanya akan digarap asal jadi dan dengan dana yang minim yang penting mendatangkan keuntungan. Akibatnya, penonton-penonton Indonesia saat ini sudah terlanjur skeptis dengan masa depan horor Indonesia.
Dengan perkembangan genre horor perfilman Indonesia yang seperti ini, kita memerlukan filmmaker-filmmaker muda idealis yang muncul dengan karya-karya idealisnya. Jose Poernomo mencoba menjawab hal itu melalui Oo Nina Bobo, sebuah film yang ia sebut sebagai karya idealis pertamanya setelah Kuntilanak harus tunduk pada permintaan para produser. Hasilnya? Cukup memuaskan. Masih banyak celah, tapi cukup dapat memberi angin segar di tengah-tengah kegersangan genre horor perfilman Indonesia.
Oo Nina Bobo bercerita tentang seorang anak yang mempunyai masalah dengan lagu nina bobo. Sejak dulu, ada banyak cerita mengenai misteri lagu pengantar tidur ini. Salah satunya, menyanyikan lagu ini dapat memanggil hantu. Jose dengan baik mengangkat cerita mengenai lagu nina bobo ini menjadi premis yang menarik ketika dipadukan dengan hal-hal modern, seperti penelitian psikologi yang dilakukan seorang mahasiswa pascasarjana.
Ada beberapa hal yang menjadikan Oo Nina Bobo film horor yang cukup menarik untuk ditonton. Dalam film ini, Jose berhasil menghadirkan suasana menegangkan ala film-film horor Hollywood yang cukup sukses akhir-akhir ini seperti Insidious dan The Conjuring. Ada banyak momen menegangkan yang dibangun dan diakhiri dengan memunculkan hal-hal tak terduga di saat-saat yang tidak terduga. Hal ini, terutama dalam paruh pertama film, cukup berhasil menjaga tensi pada degupan yang mengasyikkan. Selain itu, Oo Nina Bobo juga memberikan visual yang menarik dengan dukungan dari camera work yang benar-benar membuat kita merasakan apa yang terjadi di dalamnya, lagi-lagi terutama dalam paruh pertama film. Pemilihan warna-warna gelap dalam film ini juga menghasilkan tampilan yang ikut mendukung suasana seram.
Kekurangan yang fatal dalam Oo Nina Bobo sayangnya ada pada naskah. Jose sepertinya belum terbiasa menuliskan idealismenya dalam naskah yang baik. Ada banyak hal kecil yang terlewatkan dan akhirnya menjadi kekurangan yang cukup mengganggu dalam film, seperti suara/hal aneh yang ketika terdengar dari jauh diselidiki, tetapi ketika sudah dalam jarak yang sangat dekat justru sengaja dibiarkan. Peralihan dari satu adegan ke adegan lain juga beberapa kali terasa mengganjal. Hal-hal kecil seperti inilah yang bisa jadi sedikit mengganggu sepanjang film.
Bagaimana pun, Oo Nina Bobo saya rasa dapat menjadi angin segar di tengah kegersangan genre horor perfilman Indonesia. Andai saja penggarapannya didasari dengan naskah yang baik dan menghindari efek-efek tidak penting seperti bayangan tak beraturan pada sosok hantu yang justru membuatnya sangat mengganggu, saya rasa Oo Nina Bobo dapat menjadi film yang sangat menarik untuk diperbincangkan oleh para penikmat horor. Usaha yang cukup layak diapresiasi dari seorang Jose Poernomo.
3/5
*Tulisan ini pernah dimuat di http://www.layar-tancep.com/lokalisasi/detail/oo_nina_bobo_mencoba_horor_yang_idealis_dari_industri_yang_tidak_idealis/

Tinggalkan Balasan