REVIEW: PACIFIC RIM

review-pacific-rim-kinerasya

Pacific Rim rasanya akan menjadi film yang dicintai dengan mudah oleh semua yang mencintai Ultraman atau Gundam dengan segala kekurangannya. Ya, menonton Pacific Rim rasanya seperti bernostalgia dengan cerita Ultraman dan Gundam yang menghibur generasi 90an. Teknik pengambilan gambar, alur pertarungan, gaya bertarung, dan banyak hal lain dalam Pacific Rim akan mengingatkan kita pada kedua film tersebut. Setidaknya itu adalah kesan pertama yang akan muncul ketika film ini dibuka, langsung dengan invasi Kaiju (monster raksasa) ke bumi. Hebatnya, Kaiju ini muncul bukan dari luar angkasa, tetapi dari kedalaman Samudera Pasifik.

Film ini diawali dengan cerita invasi Kaiju, terciptanya Jaeger—robot super besar berpilot yang diciptakan untuk melawan Kaiju, dan sejarah perlawanan umat manusia melawan monster besar itu pada beberapa tahun awal. Guillermo del Toro, sang sutradara, tampaknya tidak ingin berlama-lama memberikan prolog mengenai tahun-tahun awal invasi Kaiju ini. Del Toro lebih memilih untuk menyampaikan beberapa logika penting sebagai prolog, mulai dari Jaeger yang hanya dapat dikendalikan oleh dua pilot karena beban yang terlalu besar, pengendalian Jaeger melalui penghubungan memori kedua pilot untuk menggabungkan pengendalian sisi kiri dan kanan Jaeger, sampai pilot yang akan terjebak dalam memori Jaeger—semacam limbo dalam Inception—jika terlalu fokus pada memorinya sendiri. Perhatian yang baik pada logika-logika dasar inilah yang membuat prolog secukupnya dalam film ini menjadi bekal yang sangat baik untuk membaca cerita sepanjang film.

Visual adalah sajian utama dalam film ini. Visual garapan dari ILM (Industrial Light and Magic), salah satu divisi Lucas Film, kali ini benar-benar akan membuat kita takjub sepanjang film. Pacific Rim adalah ultraman dan gundam dengan visual yang mendekati sempurna. Tampilan Jaeger dan Kaiju yang sangat mempesona, kota yang hancur-hancuran, dan pertempuran Kaiju dan Jaeger yang sangat jegar-jeger, lengkap dengan sinematografi luar biasa sepanjang film ini adalah paket visual lengkap yang akan membuat mata kita tidak berkedip. Yang menjadi menarik dari film ini adalah semua aspek visual itu ditampilkan dengan adegan-adegan yang sangat epik, kapal yang dijadikan pedang, pukulan sambil melompat Jaeger pada Kaiju, sampai Jaeger yang terjatuh dari langit setelah mengalahkan Kaiju yang membawanya terbang.

Semua aspek yang lahir dalam bentuk visual disajikan dengan sangat baik dalam film ini. Semua itu rasanya cukup untuk mengesampingkan storyline yang masih lemah dan akting para pemeran utama yang bisa dibilang sangat mengganggu, berbeda dengan pemeran sampingannya yang justru terasa sangat baik. Apalagi, scorring dari Ramin Djawadi berhasil mengantarkan setiap momen perlawanan Jaeger dalam film ini menjadi epik maksimal.

8/10

Baca juga:

Tinggalkan Balasan