[Review] Pengabdi Setan – Karya Ulang dan Usaha Menakuti yang Tidak Sia-Sia

Pengabdi SetanSepanjang mengikuti kisah keluarga Suwono bertahan menghadapi kejadian-kejadian aneh yang beruntun terjadi di rumahnya, saya berkali-kali menggigit siku ibu jari, hal yang hanya saya lakukan saat rasa cemas dan gemas bercampur menjadi satu. Tentu saja, itu bukanlah hal buruk karena pengalaman seperti itu belum pernah saya rasakan ketika menonton film horor kita beberapa tahun belakangan. Dan dalam Pengabdi Setan karya ulang Joko Anwar, semua itu terasa dengan jelas. Malam yang menghadiahi saya rasa takut yang membahagiakan. Aneh, memang, tapi saya bersyukur dapat merasakannya setelah sekian lama.

 

Pengabdi Setan hasil interpretasi ulang memiliki beberapa titik cerita dan kengerian yang sama dengan pendahulunya yang diarahkan oleh Siworo Gautama dan dirilis tahun 1980. Bercerita tentang keluarga Suwono (Bront Palarae) yang kehilangan istri sekaligus sosok ibu untuk empat anaknya, Mawarni (Ayu Laksmi). Setelah kepergian itu, Suwono pergi ke kota untuk bekerja dan meninggalkan Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondi (Nasar Anuz), dan Ian (Adhiyat Abdulkhadir) di rumah. Tanpa pernah ia sangka, keempat anaknya tersebut harus mengalami berturut-turut hal buruk dan berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.

 

Joko Anwar membuktikan bahwa usahanya yang konsisten selama bertahun-tahun “memaksa” Pengabdi Setan versi baru menjadi salah satu karya dalam perjalanan karirnya bukanlah sebuah ambisi kosong. Ia melakukannya dengan sangat baik, sekaligus menjaga jejaknya sebagai sutradara tetap sempurna. Pengabdi Setan dalam filmografinya adalah salah satu film horor terbaik yang kita punya sejauh ini. Dan itu dilakukannya dengan tetap memberi penghormatan yang layak kepada versi aslinya, film yang pernah disebutnya sebagai salah satu film yang membuatnya memutuskan membuat film. Yang Joko Anwar lakukan adalah mempertahankan inti cerita, menyesuaikan beberapa bagian, dan menambahkan beberapa hal sebagai penyempurna.

 

Hasilnya, film horor yang tidak hanya menakutkan, tapi juga punya cerita yang mapan, sinematografi dan artistik yang cantik, serta pernyataan yang bisa dibawa pulang dan direnungkan. Joko Anwar tidak melakukan penyesuaian dan penambahan sekadar untuk gaya-gayaan, tetapi semata sebagai usaha menjadikannya lebih berkesan dan dapat diterima. Bagi saya, juga berarti memaksa karya horor kita setelah ini untuk setidaknya memiliki kualitas yang tidak jauh dari sana. Menyenangkan.

 

Bicara soal kesenangan, yang paling menyenangkan dari Pengabdi Setan adalah caranya menghadirkan rasa takut, jauh sebelum hal-hal menakutkan muncul di dalam layar. Juga memanfaatkan banyak hal yang berhubungan dengan orang-orang yang telah pergi dan melakukannya melalui cara yang menarik. Membuat semua yang ada dalam ruang pemutaran menutup mata, melihat kanan-kiri, berkeringat dingin, atau seperti yang saya lakukan, menggigit siku ibu jari berkali-kali. Dan kengerian tidak melulu dihadirkan melalui wujud-wujud menyeramkan, melainkan bayangan-bayangan tentang yang akan terjadi pada Rini dan ketiga saudaranya. Bahkan, di atas semua itu, rasanya yang paling menyeramkan darinya justrulah manusia dan sifat yang bisa ada dalam dirinya. Sebuah pernyataan yang juga dinyatakan oleh versi 1980nya dengan cara yang berbeda. Dan selepas menonton, selain membawa pulang rasa takut, kita akan memikirkannya, meski selintas saja.

 

Selain seram, Pengabdi Setan juga punya desain karakter yang mengesankan. Sosok ibu, Pak Budiman, mereka yang muncul di akhir, dan yang paling saya saya suka, orang-orang berpayung hitam, semua berhasil tertinggal dalam pikiran. Dan sepertinya, untuk waktu yang akan lama. Pada bagian pemeranan pun semua tampil sesuai yang diperlukan, terutama Tara Basro dan adik-adiknya. Saya yakin, siapa saja yang melihat Adhiyat Abdulkhadir di sini akan berniat membawanya pulang ke rumah. Senang rasanya bisa menikmati penampilan yang mengesankan seperti itu. Kesan yang jarang kita dapatkan dari aktor seusianya di film kita akhir-akhir ini.

 

Dari sisi artistik, Allan Sebastian juga berhasil memberikan kerja terbaiknya. Karyanya tidak hanya akan menjadi ruang dan penunjang yang efektif untuk membangun kengerian, tetapi juga membawa kita ke dekade 1980-an tanpa sebuah keraguan. Menempatkan majalah hai dengan logo sesuai masa, misalnya, merupakan salah satu kerja yang terpuji. Bersama sinematografi dari Arifin Cuunk dan musik dari Aghi Narottama, Tony Merle, dan Bemby Gusti melengkapi Pengabdi Setan menjadi karya horor yang rasanya akan menempati posisi penting dalam perkembangan genre horor kita setelah ini.

 

Hal yang kurang dari Pengabdi Setan adalah beberapa lubang cerita yang akan menyisakan beberapa pertanyaan selesai film berakhir. Juga beberapa lompatan penceritaan yang membuat peralihan antarcerita sesekali terasa kurang nyaman. Ikatan sebagai keluarga pada bapak dan anak-anaknya pun terkadang tidak terasa terlalu kuat, terlepas dari penampilan baik masing-masing individunya. Setidaknya, tiga hal tersebut masih dilakukan lebih baik dari banyak film horor kita sebelum ini. Membuat kelemahan itu lebih mampu diterima dan menjaga keseluruhan film tetap berada di kelasnya.

 

Pada akhirnya, menciptakan kembali Pengabdi Setan jelas bukanlah usaha yang sia-sia. Joko Anwar berhasil melengkapi sekaligus menjadikannya sebagai salah satu film horor terbaik kita sejauh ini, menyusul pendahulunya yang bagi banyak orang sudah lama ada di sana. Menonton versi awalnya lebih dulu rasanya akan memberikan pengalaman yang lebih lengkap saat menonton versi berjarak 37 tahun ini. Dan karena Pengabdi Setan merupakan juga menjadi film nasional pertama yang mendapat format 4Dx, merasakannya dalam kesempatan yang langka ini jelas akan menarik.

 

★★★1/2

 

Baca juga: Review Mantan

Tinggalkan Balasan