Review: Power Rangers

Power RangersSebagai bagian dari generasi 90an yang  masa kecilnya dilalui dengan begitu banyak tayangan menyenangkan di televisi, Power Rangers tentu punya tempat tersendiri dalam hati. Setiap Minggu pagi saya duduk di depan televisi dan menikmati banyak judul seri yang salah satunya adalah Power Rangers dengan berseri-seri. Saya masih ingat setiap Umi dan Abu harus pergi ke luar rumah saat Jason dan kawan-kawan sedang beraksi, saya menangis menjadi-jadi. Tak mau ditinggal, tapi juga tak mau meninggalkan aksi Jason dan kawan-kawan melawan Rita Repulsa. Haha.

 

Maka, ketika berita mengenai proyek film layar lebar Power Rangers terdengar, saya dan banyak mantan anak-anak generasi 90an sungguh punya wajah berbinar-binar. Dan saat kemarin Power Rangers resmi tayang, saya menontonnya di hari pertama. Adaptasinya kali ini berkisah tentang Jason dan kawan-kawan yang tidak sengaja menemukan koin peninggalan Zordon berjuta tahun sebelumnya. Ini adalah kisah awal diberikannya tugas menjaga alam semesta pada mereka.

 

Saya yakin, banyak di antara penonton yang berangkat untuk menonton Power Rangers menyetel ekspetasinya pada aksi seru yang akan ditemui sejak awal cerita. Namun, John Gatins ternyata lebih memilih untuk memberi porsi lebih banyak pada kisah awal Jason dan kawan-kawan sebelum akhirnya berperan sebagai rangers. Keputusan yang berhasil menghadirkan ikatan yang lebih kuat pada Jason dan kawan-kawan sebagai tim, juga nantinya membuat kita yang menontonnya lebih peduli.

 

Bagi beberapa orang, keputusan memberikan ruang lebih untuk kisah awal para rangers yang berarti juga mengisi cerita dengan lebih banyak aspek drama, alih-alih memanfaatkan peluang aksi, mungkin akan mengecewakan. Memang, ada beberapa hal yang sebenarnya dapat dihilangkan untuk lebih memadatkan cerita dan menghindari kejenuhan pada bagian keduanya. Namun, rasanya semua itu akan sepadan saat kita menyadari bahwa kisah latar para rangers ini kemudian menjadi lebih meyakinkan. Langkah awal yang baik untuk seri-seri film berikutnya yang sudah direncanakan.

 

Memilih jalan berbeda dalam penceritaannya tidak lantas menjadikan Power Rangers menjadi asing bagi anak-anak 90an yang sudah menyiapkan diri melepas rindu saat menontonnya. Menontonnya akan membawa kita menemui karakter-karakter masa kecil yang masih khas dengan gestur dan gaya bahasanya. Terlebih lagi, kesenangan yang menanti saat kita mengikuti Jason dan kawan-kawan berproses melawan musuh utama. Dacre Montgomery, Naomi Scott, Ludi Lin, Becky G, RJ Cyler, dan Elizabeth Banks benar-benar berhasil menghidupkan karakter-karakter masa kecil di dalamnya dengan baik, lengkap dengan beberapa penyesuaian dan penyempurnaan.

 

Menonton Power Rangers versi baru ini sebenarnya tidak hanya akan membawa kita pada romantisme dengan karakter dan hal-hal lain di dalamnya. Ada banyak tribute juga yang bisa kita jumpai sepanjang perjalanan. Dan serunya, beberapa di antaranya akan memancing senyum dan tawa kita. Filmnya sendiri akan mengingatkan kita pada banyak referensi, seperti Pacific Rim, Chronicle, Iron Man, atau yang paling kental terasa pada pertarungan akhirnya, Transformers. Menyenangkan rasanya.

 

Obrolan soal Power Rangers rasanya juga tidak akan bisa dilepaskan dari kostum dan pertarungannya. Pada versi ini, para rangers tampil dengan pakaian dan perlengkapan yang lebih menyerupai zirah, dengan detail yang modern. Entah kenapa, bagi saya, detail tersebut justru membuat zirah rangers ini terlihat sedikit berlebihan. Sayangnya, begitu juga dengan pertarungannya yang begitu hancur-hancuran, tetapi kurang maksimal dalam komposisi dan koreografi tempur. Beruntung, momen akhir dalam pertempurannya dapat memperbaiki itu semua.

 

Lalu, pertempuran pun berakhir dan saya tersenyum senang. Power Rangers yang ada di hadapan kita kali ini rasanya sudah berhasil melaksanakan tugasnya sebagai nostalgia yang menyenangkan. Beberapa kekurangan lain, seperti beberapa kejanggalan pada cerita (yang juga sering terjadi pada karya-karya lain dalam genrenya) dan penyuntingan yang cukup mengganggu, dapat dilupakan sejenak sembari berharap seri berikutnya akan dipenuhi perbaikan-perbaikan. Jadi, tonton dan bersenang-senanglah!

 

★★★

 

 

Baca juga: Review Silence

Tinggalkan Balasan