REVIEW: RUMA MAIDA

review-film-indonesia-ruma-maida-kinerasya

Jas Merah, Jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Soekarno)

Berbicara tentang sejarah dan film di Indonesia. Masih sangat sedikit film yang mengusung tema sejarah atau tema-tema bermakna lainnya di Indonesia. Sineas Indonesia seolah takut melawan arus, lalu terbawa derasnya kapitalisme, dan terjebak dalam film-film yang ‘tidak memberikan apa-apa’. Tapi mari lupakan itu semua, saat ini tlah muncul satu dua film yang mencoba melawan arus, dengan memproduksi karya yang tidak sekedar membuat penonton Indonesia mengatakan “o..” ketika kredit muncul mengakhiri film tersebut. Salah satu film tersebut berjudul Ruma Maida.

Ruma Maida adalah film yang mengusung tema sejarah. Ruma Maida bercerita tentang seorang mahasiswi idealis bernama Maida (Atiqah Hasiholan), yang mendirikan sebuah sekolah non formal bagi anak jalanan. Sekolah yang didirikannya menempati sebuah gedung tua peninggalan Belanda dan Jepang. Suatu hari, datang seorang arsitek muda bernama Sakera (Yama Carlos) yang memberitahukan bahwa gedung tersebut adalah milik seorang pengusaha sukses, dan ia ingin membangun perumahan mewah di tempat tersebut. Pengusaha tersebut bernama Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan). Sejak saat itu dimulailah perjuangan Maida untuk menyelamatkan sekolahnya demi masa depan anak-anak jalanan yang disayanginya. Namun, tanpa disangka, perjuangannya justru membawa dia kepada jejak masa lalu dari gedung tua tersebut. Maida kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak-jejak sejarah tersebut, dan mengetahui bahwa gedung tersebut adalah peninggalan dari Ishak Pahing (Nino Fernandez), seorang pemimpin orkes sumpah pemuda. Kemudian, satu persatu kehidupan di sekitarnya terangkai menjadi satu oleh seutas benang merah yang ditemukannya.

Cerita dalam Ruma Maida sendiri sebenarnya bukanlah sebuah sejarah yang berupa fakta. Cerita tersebut adalah fiksi yang ditulis oleh Ayu Utami, yang kemudian dipadukan dengan unsur-unsur sejarah Indonesia. Teddy Soeriaatmadja sebagai sutradara mencoba menceritakan cerita tentang Maida di masa kini dengan cerita tentang Ishak Pahing di masa lampau dengan dua bagian yang muncul bergantian. Melalui konsep tersebut, kita akan dibawa kepada moment-moment penting dalam sejarah Indonesia, mulai dari sumpah pemuda, kolonial, pendudukan Jepang, agresi militer Belanda, dan kerusuhan Mei 1998. Kita juga akan dipertemukan dengan tokoh-tokoh penting dalam pergerakan di Indonesia. W.R. Soepratman, Moh. Hatta, Syahrir, Laksamana Maeda, aktivis pergerakan mahasiswa, dan Seokarno yang menjadi tokoh nyata sentral dalam film ini. Beberapa pemikiran Soekarno juga dituangkan ke dalam kesatuan cerita dengan baik.

Film ini berhasil digarap dengan baik oleh seluruh tim produksi. Satu hal yang menjadi kekuatan utama dari film ini adalah sinematografi dan tata artistiknya yang sangat menawan. Gedung tua yang menjadi sentral film ini berhasil disulap menjadi dua tampilan masa yang berbeda. Tata artistik yang digunakan benar-benar membawa kita ke masa lampau, dengan nuansa nostalgia yang mempesona, walaupun kita belum pernah hidup pada masa tersebut. Gambaran masa lampau digambarkan seperti sebuah foto, lengkap dengan efek vintage dan pengambilan gambar non-zoomnya. Seolah-olah kita melihat sebuah sejarah yang terus hidup dalam foto tersebut. Satu lagi, alunan musik re-aransement dari Naif yang mengiringi film ini benar-benar mampu menghidupkan suasana. Sayangnya, keindahan aritistik tersebut tidak dibarengi dengan akting yang maksimal oleh para pemainnya, hanya Atiqah dan Frans yang bermain cukup baik, itu pun belum maksimal. Selain itu juga ada beberapa scene tidak tergarap dengan maksimal, seperti kerusuhan Mei 1998 dan perebutan kekuasaan oleh tentara Jepang yang seharusnya bisa menjadi poin lebih. Akhirnya, 4 dari 5 bintang dari saya. Sebuah film tentang sejarah yang indah.

Tinggalkan Balasan