REVIEW – SABTU BERSAMA BAPAK: BAPAK DAN PESANNYA UNTUK LELAKI SEDUNIA

review-sabtu-bersama-bapak

Sabtu Bersama Bapak, bagi banyak orang yang telah menikmatinya saat terbit dalam cetakan prosa, punya kesan yang begitu mendalam. Kesan yang muncul dalam pengalaman menyelami hubungan para laki-laki di dalamnya. Laki-laki yang hidup sebagai Bapak dan sebagai anak. Laki-laki yang hidup di tengah-tengah keluarga dengan seorang perempuan di dalamnya. Hubungan itu dibangun dengan begitu baik oleh Adhitya Mulya melalui berbagai nasehat yang dititipkan oleh seorang Bapak yang harus menyudahi tugasnya saat anak-anaknya masih kecil. Nasehat-nasehat yang disiapkan dan dititipkan menjelang kepergiannya dan diberikan kepada anak-anaknya setiap hari Sabtu seiring perjalanan hidup mereka hingga dewasa. Dan ketika sebuah prosa dengan pesan yang jarang tersebut sampai kepada pribadi-pribadi yang mencintai keluarganya, ada pengalaman emosinal yang tertinggal dalam hati selepas membaca. Maka, saat kabar Sabtu Bersama Bapak akhirnya mendapatkan adaptasi film datang kepada para pembacanya, sebuah tanggung jawab pencapaian yang sama juga datang kepada Monty Tiwa yang mengemban tugas sebagai pengarahnya.

Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang Cakra dan Satya yang tumbuh bersama video-video yang dipersiapkan oleh Bapaknya, Pak Gunawan, sejak kecil. Video-video tersebut diputar setiap Sabtu dan selalu menjadi cara mereka untuk “bertemu” dengan Bapak. Video-video tersebut kemudian membentuk dua pribadi yang berbeda, dua lelaki yang tumbuh dan hidup dari caranya masing-masing menerima dan melaksanakan pesan sang Bapak. Satya yang sangat berprestasi kemudian menjadi laki-laki dengan harga diri dan ekspektasi tinggi. Cakra yang sangat menyayangi ibunya kemudian menjadi laki-laki baik hati yang kikuk di depan seorang perempuan dan kesulitan menghadapi cinta.

Kekuatan Sabtu Bersama Bapak ada pada kemampuannya membangun ikatan dengan orang-orang di luar karya, pada cerita yang ditulis dengan begitu baik sehingga mampu menyampaikan segala rasa yang ada di dalamnya kepada setiap individu yang mengikuti kisahnya. Sesuatu yang kembali mampu dituliskan dengan baik oleh Adhitya Mulya bersama Monty Tiwa. Kemudian, Sabtu Bersama Bapak menjadi benar-benar lengkap dalam hal rasa. Monty Tiwa kembali membuktikan bahwa ia adalah salah satu yang terbaik untuk mengolah dan menyampaikannya. Tutur ceritanya sepanjang film akan mampu membawa setiap kita yang menontonnya merasakan emosi yang berbeda tiap menitnya. Tertawa terbahak-bahak, terharu dan mbrebes mili, kemudian tersenyum-tersenyum sendiri. Ada perpaduan yang tepat dari tawa dan haru di sepanjang ceritanya.

Lebih dari apa pun, yang menjadikan Sabtu Bersama Bapak menjadi istimewa memanglah konten yang mengisinya. Selain kemampuannya untuk membangun ikatan dengan orang-orang di luar karya, ada pesan yang kuat dan berharga untuk setiap diri yang hidup di suatu tempat bernama keluarga. Pesan yang dikirimkan dalam secarik simbolisasi dan dialog-dialog yang meluluhkan hati, sebuah modal yang sangat berarti untuk membangun pondasi drama yang kuat. Setiap individu yang masuk ke bioskop untuk menerimanya akan keluar dengan kenang-kenangan yang berarti. Mereka yang belum berkeluarga akan lebih siap dengan pandangan-pandangan baru tentang mempersiapkan keluarga yang kuat. Mereka yang sudah berkeluarga akan lebih teguh dengan energi baru menghidupi keluarganya. Dan mereka yang laki-laki akan belajar menjadi laki-laki yang lebih kuat, sebagai seorang anak, sebagai seorang bapak.

Di luar kontennya yang begitu berharga dan tersampaikan dengan baik, ada beberapa hal yang menjadikan Sabtu Bersama Bapak terasa kurang sempurna. Salah satu di antaranya adalah potongan kisah Satya dan Risa yang terasa kurang maksimal. Bukan berarti Acha Septriasa dan Arifin Putra berperan jelek. Hanya saja potongan kisah Satya dan Risa akan terasa lemah jika dibandingkan dengan dua potongan kisah lainnya, Bapak Gunawan dan Ibu Itje, juga Cakra dan ‘perempuan yang dicarinya’. Acha dan Arifin berperan dengan baik sebagai dirinya masing-masing, tetapi ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah cerita, chemistry keduanya belum terlalu terasa erat. Pun demikian dengan beberapa detail yang kurang terperhatikan dan pemilihan pemeran anak-anak Satya dan Risa yang terkesan asal saja. Dan dari aspek teknis, lens flare yang berlebih dan penyuntingan yang kurang baik jelas terasa menjadi catatan kelemahannya. Namun, dengan seluruh kelebihannya, catatan-catatan tersebut rasanya akan sangat mudah dimaafkan.

Sabtu Bersama Bapak adalah adaptasi yang baik dari sebuah prosa yang juga baik. Menontonnya, terutama bersama keluarga, akan menjadi pengalaman yang membahagiakan bagi mereka yang mencintai keluarga. Sebuah pengalaman yang dilengkapi dengan penampilan mengesankan dari para pemeran yang menghidupkan karakter-karakter di dalamnya. Apresiasi utama pastilah layak untuk ditujukan pada Deva Mahenra yang sangat mampu menjalankan perannya sebagai Cakra dalam setiap detik dan jengkal film ini. Nama lain seperti Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha, Arifin Putra, Abimana Arysatya, Ira Wibowo, Ernest Prakasa, dan Jennifer Arnelita pun telah berhasil menambahkan kehangatan dalam semangkuk Sabtu Bersama Bapak. Sebuah kado lebaran yang indah. Salah satu yang terbaik dari seorang laki-laki bernama Monty Tiwa.

★★★★

 

Baca juga: Review Casino Kings part 2

Tinggalkan Balasan