REVIEW: SCOTT PILGRIM VS THE WORLD

scott_power_of_love

“Hati-hati jika ingin berpacaran dengan perempuan yang mempunyai banyak mantan jahat”, mungkin itulah tagline yang akan muncul jika Scott Pilgrim v.s. The World (selanjutnya ditulis Scott Pilgrim) diproduksi di Indonesia dan diproduksi oleh produser-produser gagal di sini. Tapi lupakan, kalimat di atas hanyalah sebuah kalimat tidak penting yang menjadi pembuka tulisan ini.

Dunia Scott Pilgrim adalah kombinasi antara dunia video game dan komik Marvel. Menarik? Ya, tapi jangan banyangkan dan harapkan Scott Pilgrim akan menjadi sebuah film yang akan membuat kita berdecak “Wow, keren”, karena dengan aktor, aktris, kru, cerita, dan segala kompleksitas yang ada di dalamnya, Scott Pilgrim menjelma menjadi sebuah film yang: konyol. Ya, Scott Pilgrim adalah sebuah film konyol yang bercerita tentang kekonyolan.

Scott Pilgrim bercerita tentang seorang pemuda yang mempunyai nama seperti judul film di atas. Scott yang berusia 25 tahun ternyata berpacaran dengan seorang gadis SMA bernama Knives. Namun, suatu hari Scott bertemu dengan Ramona, seorang perempuan yang unik dan menarik hatinya. Singkat cerita, Scott berkenalan dan dekat dengan Ramona. Sayangnya, kedekatan Scott dan Ramona ini tidak direstui oleh 7 mantan jahat Ramona, dan Scott ditantang bertarung dalam Liga Evil Exes. Scott harus mengalahkan mereka semua untuk mendapatkan Ramona. Akhirnya, Scott harus bertarung melawan 7 mantan jahat Ramona tersebut, band-band saingannya dalam sebuah kontes band rock, dan cintanya dengan Ramona, Knives, dan Envy yang berbentuk segi empat tak beraturan. Dan, semua itu disajikan dengan kekonyolan dan ketidaknyambungan yang berujung keren.

Yang menarik dari film ini adalah.. banyak. Konsep film yang digambarkan menyerupai video game dengan tabel keterangan, bar stamina, dan scorring yang sangat khas seperti games yang kita mainkan beratus-ratus tahun yang lalu, serta efek seperti komik Marvel dan games guitar hero yang begitu seru menjadikan film ini terasa sangat asyik dan seru, walaupun sekali lagi, konyol. Pada awal film, mungkin kita akan sedikit bingung dengan segala ketiba-tibaan yang ada dalam film ini, mimpi dalam mimpi yang ada dalam mimpi, pergantian scene yang tiba-tiba, agresi anti klimaks yang terjadi sepanjang film, dialog yang tidak nyambung, dan segala keunikan lainnya. Tapi seiring film yang berjalan dengan konyol, kita akan sepakat bahwa segala keunikan tadi adalah kekuatan film ini.

Ya, film ini memang memiliki segudang keunikan, begitu pun dengan aktor dan aktrisnya, pas. Michael Cera yang berperan sebagai Scott Pilgrim tampil sangat natural sebagai orang konyol yang sering bengong. Mary Elizabeth juga dapat memerankan Ramona sebagai perempuan yang berada dalam sebuah dilemma akan masa lalunya, tanpa menghilangkan sense komedi film ini. Teman-teman Scott yang diperankan oleh Alison Pill, Mark Webber, dan Johnny Simmons juga melakukannya dengan baik. Khusus untuk Johnny yang berperan sebagai Young Neil, dia benar-benar tampak seperti orang konyol yang polos dan lugu. Mungkin kalau ada yang ingin memproduksi film God Must be Crazy 7, mungkin ia cocok memerankan tokoh seorang kulit putih yang terdampar di suatu daerah di Afrika. Selain aktor dan aktris, serta segudang faktor yang telah diketik di atas, seluruh lagu yang ada dalam film ini juga patut diberi 5 jempol untuk dukungannya terhadap film ini.

Scott Pilgrim, dengan sejuta keunikaannya, menjadikan film ini sebagai sebuah visual yang segar, lebih tepatnya sebuah komedi gila untuk membuat kita sejenak menjadi orang gila yang melupakan segala masalahnya. Standing Applaus untuk Edgar Wright, sang sutradara. 8 dari 10 bintang dari saya.

Tinggalkan Balasan