REVIEW: SILENCE

SilenceKabut masih memenuhi ruang visual malam itu. Lalu, ombak di tepi laut pecah menerjang karang dan keyakinan manusia-manusia di sekitarnya. Menghantarkan kesunyian dan kepedihan yang dalam. Saya, duduk di antara manusia-manusia lainnya, tenggelam dalam perjalanan 160 menit yang disesaki kesunyian, tetapi terjaga seutuhnya. Dari antara manusia-manusia itu, saya menonton sebuah Silence.

 

Malam itu saya mengikuti perjalanan dua misionaris Katolik bernama Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) yang pergi ke Jepang untuk mencari guru mereka, Ferreira (Liam Neeson), sembari meneruskan hal yang sudah dilakukan para pendahulunya, menyebarkan ajaran Katolik. Silence adalah film yang mengisahkan dilema batin mereka sebagai misionaris di tengah penolakan keras Jepang pada ajaran Katolik yang mereka bawa saat itu. Penolakan yang kebanyakan berakhir dengan pembantaian untuk mereka yang menolak melepaskan keyakinannya.

 

Mengikuti perjalanan Rodrigues dan Garupe merupakan pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Sepanjang jalan saya menemui kepahitan-kepahitan yang berserakan di antara keyakinan yang tumbuh dan tenggelam di saat bersamaan. Hal-hal yang berasal dari begitu banyak perbenturan yang dirangkai seorang Martin Scorsese dengan sempurna. Dilema berat dalam persinggungan dua budaya dan masyarakat yang berbeda dan sama-sama kukuhnya. “Jepang adalah rawa yang tidak akan membiarkan satu akar pun tumbuh”. Maka, setiap yang berani memasukinya diharuskan untuk tenggelam dan lumpuh.

 

Dilema Silence adalah dilema sama yang terjadi dalam begitu banyak bagian sejarah manusia. Scorsese bersama Jay Cocks merangkainya dengan baik sebagai sebuah cerita yang baik tentang manusia. Lalu, Scorsese membahasakannya melalui dialog-dialog yang dalam antara manusia dengan yang diyakininya, juga antara manusia dengan manusia lainnya. Reflektif, tanpa harus menjadi terlalu provokatif. Dialektika yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang universal, tidak hanya bermakna bagi para Katolik, tetapi juga relevan pada saya yang muslim atau umat beragama lainnya di setiap jengkal dunia.

 

Melalui dialektika itu, Silence membicarakan seluruh hal mendasar dari seorang manusia. Harapan, keyakinan, cinta, yang di antaranya seringkali terdapat keragu-raguan. Hal-hal tentang manusia yang selalu mungkin terjadi dalam pertemuan dengan hidup dan mati seseorang. Maka, dapat dibilang, Silence merupakan sebuah perjalanan spritual. Silence adalah kecamuk batin di titik nadir yang dipresentasikan dengan efektif oleh Scorsese, bersama pewujudan sinematik menyentuh dari Rodrigo Prieto. Karya yang kemudian dijawab dengan kandidat kusala Oscar untuk kategori sinematografi terbaik tahun ini.

 

Sebenarnya, yang menjadikan Silence berkesan bukan hanya nama-nama seperti Martin Scorsese, Jay Cocks, dan Rodrigo Prieto. Pada bagian pemeranan, seluruh nama di dalamnya menghidupi karakter masing-masing dengan luar biasa. Silence tidak akan sebaik itu jika tidak dihadirkan melalui Andrew Garfield, Liam Neeson, Adam Driver, Tadanobu Asano, Issei Ogata, dan Yosuke Kubozuka. Garfield, terutama, menghidupi diri Rodrigues dengan baik sepanjang cerita dituturkan. Menghadirkan dilema batin seemosional itu melalui dialog dengan diri sendiri bukanlah satu hal mudah. Silence adalah pembuktiannya sekali lagi setelah Hacksaw Ridge yang menggetarkan.

 

Lalu, kabut putih yang memenuhi ruang visual malam itu perlahan menghilang. Saya sudah selesai mengikuti Rodrigues dan Garupe. Selepas menonton, saya merenung. Hollywood rasanya mengerti sekali cara membicarakan iman dengan mendasar dalam bahasa sinema yang mengesankan. Begitu juga Iran yang sudah membuktikannya sejak lama. Maka, kita di sini rasanya membutuhkan lebih banyak “Mencari Hilal” untuk dapat beranjak dari obrolan-obrolan di permukaan yang selama ini kita saksikan. Menyampaikan tutur religi yang terasa penting dan dalam. Karya sinema yang bisa menghadirkan keinginan untuk bersujud atau berdoa sepulang menontonnya. Semoga.

 

★★★★1/2

 

 

Baca juga: Review La La Land

Tinggalkan Balasan