REVIEW: SOEGIJA

review-film-indonesia-soegija-kinerasya

Kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya. Semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah. Jangan lagi ada curiga, kebencia, dan permusuhan.

Kata-kata di atas adalah salah satu pikiran Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ, uskup bumiputera pertama di Indonesia, pada masa menjelang kedatangan Jepang ke Indonesia, 1940. Pada tahun itu, Soegijapranata diangkat menjadi penanggung jawab dari Vikariat Apostolik Semarang yang menaungi urusan Katolik di seluruh Jawa Tengah. Ia terkenal dengan pandangan pronasionalismenya, 100% Katolik, 100% Indonesia. Garin Nugroho mengangkat cerita mengenai Soegijapranata melalui film biopik fiksi berjudul Soegija. Film ini diadaptasi dari buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang. Catatan Harian Mgr. Alb. Soegijapranata SJ yang ditulis oleh G. Budi Subanar SJ.

Soegija, menceritakan tentang perjalanan dan sumbangsih Soegijapranata sebagai seorang uskup Jawa kepada bangsa Indonesia dalam rentang 1940—1950. Dengan posisinya sebagai seorang pemuka agama, Soegijapranata berusaha untuk melakukan apa pun untuk rakyat Indonesia. Sepenuh hati, ia mempertahankan gereja yang akan dijadikan markas tentara Belanda, memberikan ceramah-ceramah kebangsaan untuk menguatkan rakyat dan para pejuang, mendorong gencatan senjata dengan tentara Belanda dan Jepang, memimpin pelayanan terhadap korban perang, memindahkan keuskupan Semarang ke Yogyakarta untuk mendukung Republik, hingga mendapatkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Vatikan. Soegijapranata adalah sosok religi yang memberikan sumbangsing besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Dalam film ini, Garin Nugroho mencoba menyampaikan dilema yang terjadi pada masa perang menuju kemerdekaan, baik melawan Belanda atau pun Jepang, serta perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dilema Soegijapranata sebagai uskup yang harus melindungi rakyat tanpa harus mengangkat senjata, dilema tentara Jepang yang harus merindukan keluarganya dan harus terus berperang, dilema wartawan Belanda yang berada di antara cintanya pada seorang perempuan Indonesia dan bangsanya yang terus menggempur Indonesia, dilema seorang anak Tionghoa yang merasakan bahwa Tionghoa selalu menjadi korban, dan dilema-dilema lain yang ada dalam cerita berhasil disampaikan dengan baik. semua dilema tersebut disampaikan dengan sangat sederhana, tanpa adegan-adegan besar seperti perseteruan, mobilisasi massa, dan pertempuran penuh ledakan. Soegija adalah film sederhana tentang banyak hal yang tidak sederhana.

Banyak hal yang diceritakan oleh film ini. Dalam kesederhanaanya, Soegija menyimpan banyak pandangan kebangsaan yang disampaikan melalui simbol-simbol. Dilema Hendrik, wartawan Belanda yang mencintai Mariyem, seorang perawat Indonesia, adalah dilema banyak tentara Belanda yang harus memilih antara hati, cintanya kepada kemanusiaan serta bumi Indonesia yang sebenarnya indah, dan cintanya pada negara. Banteng, seorang anak yang bergabung dengan tentara Indonesia adalah perlambang rakyat yang hanya ingin berjuang untuk buminya, tanpa harus tahu banyak hal seperti pengetahuan, pergerakan nasional, dan perang internasional. Dan betapa ia bangga dan merasa cukup ketika bisa menbaca “merdeka”. Bendera merah putih, yang diserahkan oleh Soegijapranata kepada Latip, pemuda yang memimpin perjuangan pemuda Semarang, bersama dengan nasehat untuk menjadi politisi yang baik, adalah perlambang kepercayaan dari rakyat kepada para pemimpin negeri.

Soegija memang tidak mewujud dalam adegan-adegan besar. Bahkan, alur yang membangun keseluruhan cerita dapat dikatakan terasa sangat sepi. Namun, itu semua agaknya memang direncanakan dari awal, karena ada banyak hal yang mewarnai kesepian itu. Iringan scorring dan lagu dari Djaduk Ferianto yang menari-nari sepanjang rol film diputar adalah pengiring yang manis dan indah. Dengan cantik, musik-musik tersebut ditampilkan melalui adegan kelompok orkes, paduan suara, dan penjaga hotel. Humor segar dari Butet Kertaradjasa yang berperan sebagai Toegimin, pembantu Soegijapranata, menjadi bumbu paling segar dan renyah dalam film ini. Lalu, catatan harian Soegijapranata dan siaran radio Perlawanan dari Pak Besut juga menjadi pengantar pemikiran Soegijapranata dan alur cerita yang sangat baik. Rasanya, semuanya begitu lengkap walau alur yang menjalin film begitu sepi.

Soegija adalah karya Garin Nugroho yang tidak seberat Opera  Jawa atau Under The Tree, atau karyanya yang lain. Namun, dengan segala hal yang membangunnya, Garin telah berhasil menjadikan Soegija film yang banyak bertutur dalam kesederhanaan. Suatu hal yang sangat berharga untuk disimpan bangsa Indonesia.

4/5

*Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Gaung tahun 2013

 

Baca juga: Review Janji Joni

Tinggalkan Balasan