REVIEW – SURAT DARI PRAHA: POLITIK, CINTA, DAN KENANGAN-KENANGAN YANG TERSIMPAN

review-surat-dari-praha

Dalam rentang panjang kisah perjalanan dunia, ada sebuah tinta bernama politik yang menuliskan kata-kata “kekuasaan” di setiap babnya. Politik dalam begitu banyak teori dan usaha yang pernah ada merupakan sebuah usaha yang dekat dengan kebahagiaan. Namun, dalam setiap bab kisah perjalanan tadi, politik juga seringkali menjadi sekat yang memisahkan manusia-manusia, menciptakan tesis dan antitesis dari begitu banyak kejadian. Nama-nama yang ada di sisi satu akan memegang kendali kuasa, sedangkan nama-nama di sisi seberang akan tertunduk, tersingkir, atau menghilang. Dan nama-nama yang tidak ada pada kedua sisi itu, tetapi terhimpit oleh perbenturan keduanya, dalam banyak sekali kisah, akan terasing dan terlupakan. Dan Surat dari Praha adalah cerita tentang mereka, nama-nama yang terhimpit, terasing, dan terlupakan.

Surat dari Praha bercerita tentang mahasiswa-mahasiwa yang dikirim oleh Presiden Sukarno ke Praha untuk menuliskan masa depan yang lebih baik bagi negeri, tetapi kemudian tidak dapat kembali karena pergantian kekuasaan ke Orde Baru setelah tragedi politik pada tahun 1965. Mereka dipaksa untuk menerima rasa sakit selama berpuluh-puluh tahun diasingkan dari rumahnya sendiri. Hukuman yang dijatuhkan tanpa bersalah. Cerita ini kemudian diwakilkan oleh Jaya (Tio Pakusadewo) dan kenangan-kenangannya akan cinta beserta kegetiran yang kembali hadir melalui kedatangan seorang perempuan bernama Larasati (Julie Estelle) yang sebenarnya sama sekali tidak ia kenali sebelumnya.

Angga Dwimas Sasongko (Cahaya dari TimurFilosofi Kopi) dalam Surat dari Praha memperbincangkan suatu hal yang masih jarang diperbincangkan dalam film panjang kita. Ia bicara tentang suatu hal yang terpendam, tentang kenangan-kenangan yang tersimpan begitu dalam pada manusia-manusia Indonesia yang dijauhkan dari rumahnya hanya karena kuasa. Membuatnya menjadi emosi yang lebih berat. Lebih berat, mungkin karena jarak ruang dan waktu yang teramat jauh memang menghasilkan kerinduan yang teramat berat untuk ditanggung seorang manusia. Kerinduan yang sayangnya sudah ditanggung oleh mereka yang diceritakan dalam film ini selama berpuluh-puluh tahun. Begitu memilukan rasanya ketika kita mengingat ada sarjana-sarjana terbaik yang menimba ilmu dari tempat-tempat terbaiknya harus menjalani hidup dengan keterbatasan paling terbatas yang bisa dipikirkan oleh seorang manusia. Pun ketika segala hal yang begitu berharga dalam hidup seorang manusia, bahkan cinta, dihilangkan tanpa sisa.

Ingatan tentang 1965, bagi banyak nama yang kehilangan hak untuk pulang, adalah kenangan-kenangan yang sampai saat ini masih tersimpan rapat karena kepedihannya, juga karena usaha-usaha untuk mendatangi dan menerimanya belum banyak dilakukan oleh mereka yang peduli. Oleh sebab itulah ingatan tersebut sangat rentan dari hilang. Ingatan itu tidak banyak dimiliki oleh anak dan cucu mereka yang tumbuh hari ini. Oleh sebab itu jugalah usaha untuk mendatangi, menerima, menyambung, dan mewariskannya menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang masih peduli. Usaha tersebut, setidaknyajuga akan menjadi cerita sejarah yang belum banyak diperbincangkan saat ini. Dan Angga dalam hal ini telah berhasil melakukannya.

Keberhasilan Surat dari Praha dalam bertutur dan menjadi usaha untuk mewariskan ingatan yang berharga salah satunya hadir dari kemauan Angga untuk berada sedekat mungkin dengan cerita yang dikisahkannya. Memberi ruang untuk mereka yang menjalaninya mewariskan dan menuturkan sendiri ingatannya. Kemauan yang disempurnakan dengan menghadirkan mereka yang muda, melalui Larasati dan Dewa (Rio Dewanto), yang pada kenyataannya banyak berjarak, justru sebagai yang terdekat dengan Jaya yang mewakilinya. Kehadiran yang memiliki arti sangat besar dalam usaha mewariskan sebuah ingatan yang telah tersimpan begitu dalam dan berjarak teramat jauh. Pun, melalui Larasati, menjadi upaya yang begitu menyentuh untuk mengembalikan hak seorang manusia akan cinta yang telah lama diikhlaskannya.

Kisah cinta dalam Surat dari Praha, melalui Jaya, adalah cerita yang berbeda dari cerita cinta kebanyakan dalam film panjang kita selama ini. Cinta di dalamnya adalah cinta yang begitu tulus, murni, dan menyentuh, tanpa harus dituturkan dengan kata-kata dan gerak tubuh yang nyata. Ada kegetiran yang menggetarkan di dalamnya, tetapi justru ketika ia dirasakan, juga akan memberikan kehangatan. Ia juga memberi ruang bagi kita yang ada di luar untuk ikut merasakan. Cinta yang terkadang menghadirkan rasa tak nyaman, tetapi kemudian mengajarkan kata maaf. Menjadikannya terasa dalam.Apalagi, dengan penampilan seluruh pemerannya, terutama Tio Pakusadewo dan Julie Estelle yang berhasil menampilkan emosi-emosi dengan begitu mengesankan.

Surat dari Praha, dengan segala hal tadi adalah sebuah upaya yang diarahkan dengan segenap perasaan oleh Angga dan dituliskan dengan baik oleh M. Irfan Ramli (Cahaya dari Timur). Keberhasilannya dalam bertutur kemudian disempurnakan oleh visual dan musik yang menakjubkan. Praha telah menjadi latar yang romantis sekaligus sunyi untuk cerita yang dituturkan di dalamnya. Dan musik yang dipersembahkan oleh Glenn Fredly, sekaligus merayakan 20 tahun masa berkaryanya, telah menjadi persembahan yang sangat dapat dikenang sampai kapan pun. Persembahan yang dilantunkan oleh Julie Estelle dan Tio Pakusadewo bersama piano dan harmonikanya dengan sangat indah. Surat dari Praha adalah cerita tentang politik, cinta, dan kenangan-kenangan tersimpan yang sangat mudah dicintai.

4,5/5

 

Baca juga: Review Surat dari Praha

Tinggalkan Balasan