REVIEW: THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS

review-the-boy-in-the-striped-pyjamas-kinerasya

Ini adalah film yang sukses membuat saya stres beberapa saat setelah kredit film muncul mengakhiri film. Sang sutradara, Mark Herman, dengan mudah mampu membawa penonton ke dalam permainan emosi yang mengalir dan meningkat dengan halus, kemudian menutupnya dengan ending yang mencengangkan. Setelah film selesai, penonton akan terlibat dialog psikologis dengan dirinya sendiri,atau paling tidak menghela nafas panjang, kemudian merebahkan diri dan melihat langit-langit dengan pikiran galau.

The Boy in The Striped Pyjamas adalah film karya sutradara Mark Herman yang diangkat dari sebuah novel karya John Boyne. Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Bruno (Asa Butterfield), anak seorang perwira NAZI yang dipindahtugaskan ke sebuah kamp konsentrasi Yahudi, pada masa perang dunia II. Film ini dibuka oleh sebuah adegan yang menceritakan kehidupan Bruno di tengah kemelut politik Jerman. Dalam adegan ini Bruno berlari bersama teman-temannya menirukan sebuah pesawat terbang, di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kota Berlin. Film ini memang tidak menceritakan sosok pemimpin NAZI, Adolf Hitler, tetapi film ini benar-benar dapat memberikan kesan keotoriteran seorang Hitler saat itu. Satu hal yang menjadi kekuatan film ini adalah kisah persahabatan Bruno dengan seorang anak Yahudi bernama Shmuel, dan konflik antara NAZI dan Yahudi dari sudut pandang ‘anak kecil’ mereka

Saat film memasuki babak kepindahan keluarga Bruno ke kamp konsentrasi Yahudi, saya mulai merasakan bahwa film ini pasti akan memberikan sesuatu yang hebat, dan itu memang benar. Sepanjang film, sebagian  besar aktor yang berperan dalam film ini dapat menampilkan pergulatan emosi masing-masing karakter dengan baik. Asa dapat menampilkan seorang anak kecil yang masih lugu, tetapi juga berada dalam tekanan, kesepian, dan kebimbangan yang hebat dalam usianya yang masih delapan tahun. Asa dapat menampilkan gabungan karakter tersebut dengan komposisi yang pas, walaupun dalam beberapa scene ia terlihat lebih dewasa dari usianya. Amber Beattie, yang berperan sebagai kakak perempuan Bruno yang berusia 12 tahun, dapat menampilkan sosok gadis yang terlalu cepat dewasa dan terdoktrin oleh nasionalisme yang berlebihan, sehingga membunuh masa remajanya. Jack Scanlon, yang memerankan Shmuel, juga dapat menggambarkan kehidupan seorang anak kecil dari keluarga Yahudi yang pedih di sebuah kamp konsentrasi, dengan baik, walaupun hal tersebut membuatnya kelihatan kurang fokus beberapa saat. Sebuah apresiasi lebih saya berikan kepada Vera Fermiga yang berperan sebagai Ibu Bruno. Vera dengan sangat baik dapat menggambarkan perasaan seorang isteri yang dilematis, yang berperang dengan batinnya ketika mengetahui keadaan tentang tugas suaminya yang sangat bertentangan dengan nuraninya. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi oleh David Thewlis, yang terkesan ragu sebagai seorang perwira NAZI.

Semua manusia adalah sama, itulah salah satu pesan yang diusung dalam film ini. Saat film selesai, kita akan mendapatkan banyak hal, cerita tentang Holocaust (pembantaian Yahudi oleh NAZI dalam perang dunia II) yang sampai saat ini masih diperdebatkan, keluarga, persahabatan, dan kemanusiaan. Sebuah film yang berbeda tentang perang dunia II. 5 dari 5 bintang dari saya.

Tinggalkan Balasan