[Review] The Guys – Persahabatan, Cinta, dan Dilema Kerja

Film The GuysSaya mencoba hal baru saat menunggu rilisnya karya sinema Raditya Dika kali ini. Mengikuti vlog yang merangkum perjalanan produksinya setiap hari. Selepas pulang kerja, sambil merebahkan diri biasanya saya membuka YouTube dan mengikuti proses belakang layarnya. Ternyata, The Guys kemudian menjadi karya yang lebih dekat dan personal bagi saya. Menarik juga rasanya.

 

The Guys merupakan kali pertama Raditya Dika menggunakan latar kehidupan kantor dalam filmnya. Ceritanya sendiri memiliki tiga subplot yang bertumpu pada karakter utamanya, Alfi, yang Dika perankan sendiri. Pertama, persahabatan dengan teman-teman kantor sekaligus teman mengontraknya, yaitu Sukun (Pongsiree Bunluewong), Rene (Marthino Lio), dan Aryo (Indra Jegel). Kedua, dilemanya pada keinginan untuk hidup dari hal-hal yang ia senangi, tetapi di saat yang bersamaan belum siap untuk melepas kepastian gaji bulanan yang sedang ia nikmati. Ketiga, kisah cintanya dengan Amira (Pevita Pearce) yang dibarengi perjumpaan ibunya (Widyawati) dengan ayah Amira (Tarsan).

 

Berangkat dari judulnya, The Guys seharusnya dapat menjadi cerita persahabatan yang menarik jika berfokus pada pertemanan dan dilema anak muda kantorannya. Menarik karena belum terlalu banyak karya sinema kita yang bermain di kedua hal tadi, terutama menyoal mimpi anak muda kantoran yang sudah pasti terhubung dengan kegelisahan banyak orang sehari-hari. Sayangnya, Dika bersama Sunil Soraya dan Donny Dhirgantoro di meja penulisan lebih memilih memberi ruang terbesar untuk cerita cinta, seperti banyak karyanya sebelum ini. Subplot yang sebenarnya paling tidak terkait erat dengan judulnya.

 

Pilihan itu kemudian membuang cukup banyak potensi The Guys untuk tampil berbeda dan menjadi karya terbaik Dika sejauh ini. Padahal, The Guys punya karakter empat sahabat yang cukup kuat untuk menghidupkan banyak momen, terutama Sukun yang berasal dari Thailand. Pun demikian dengan proses menyelesaikan obrolan soal anak muda kantoran dan mimpinya. Tidak ada alasan yang cukup kuat dalam keputusan yang diambil oleh Alfi pada akhirnya sehingga penonton dengan kegelisahan yang sama pun rasanya tidak akan membawa pulang jawaban yang berarti setelah keluar dari ruang pemutaran.

 

The Guys, dengan pilihan itu, telah melewatkan kesempatan untuk tersampaikan dengan maksimal. Namun, ia sama sekali bukan sebuah karya yang buruk. Bahkan, The Guys bisa dibilang merupakan salah satu karya terbaik Dika sejauh ini. Setidaknya, 115 menit perjalanannya sudah menjadi salah satu pengalaman paling menyenangkan yang saya lewati bersama karakter utama yang diperankan oleh Dika selama ini.

 

Menonton The Guys adalah menyadari bahwa kedewasaan terus bertumbuh secara pasti dalam karya-karya Dika. Sama seperti buku, berbagai aspek di dalamnya semakin lama akan terasa semakin matang. Pun demikian dengan komedinya yang kali ini lebih banyak dapat berhasil. Selain komedi-komedi absurdnya, set up dan punchline yang ada seringkali efektif memecahkan suasana, alih-alih mengundang kecanggungan karena tawa yang gagal tercipta. Sebagai sebuah karya komedi, keberhasilan dalam hal ini tentu sangat berguna.

 

The Guys, seperti halnya karya-karya Dika sebelum ini, juga punya kemampuan yang baik dalam melewati momen-momen dramanya. Bahkan, di luar akting yang sepertinya tidak terlalu berkembang itu, rasanya Dika punya kepekaan yang lebih baik dalam mengelola aspek emosi dalam karya-karya sinemanya. Membuat kita tertegun sejenak dan merasakan kehangatan. Kemampuan ini, dalam subplot cinta The Guys, dilengkapi dengan penampilan Widyawati dan Tarsan yang rupawan.

 

Dua hal tadi rasanya cukup menjadikan The Guys sebagai salah satu pengalaman paling menyenangkan dalam mengikuti karya-karya Raditya Dika. Dan ada visual cantik, debut cukup baik dari Indra Gejel dan Marthino Lio, penampilan unik Pongsiree Bunluewong, lagu tema yang menggembirakan dari Nidji, dan Baifern Pimchanok di akhir cerita. Sebuah komedi cinta-persahabatan yang hangat dan menyenangkan.

 

★★★1/2

 

 

Baca juga: Review Mengejar Halal

 

 

Tinggalkan Balasan