REVIEW – THE RAID 2: BERANDAL

review-the-raid-2-kinerasya

Epic! Entah harus mencari kosakata apa lagi untuk menggambarkan apa yang dipertunjukkan oleh Gareth Evan dalam The Raid 2: Berandal. Sepanjang saya menonton film di bioskop, hanya The raid 2 yang dapat membuat penonton tepuk tangan sebanyak lima kali dan berisik tanpa mengundang kritik. Semua terlampau senang disuguhi aksi-aksi baku hantam dengan koreografi yang menakjubkan sepanjang 2,5 jam. Terlampau senang sampai-sampai tidak peduli pada etika tidak tertulis menonton bioskop. Teriak ya teriak aja, jingkrak-jingkrak ya jingkrak-jingkrak aja, berkata kotor karena takjub ya silakan aja. The Raid 2 benar-benar bisa membuat semua orang yang datang untuk nonton lupa diri.

Cerita dalam The Raid 2: Berandal berawal sesaat setelah pertarungan mati-matian Rama, anggota kesatuan khusus polisi yang menyerbu gedung markas sekelompok mafia, dalam The Raid: Serbuan Maut. Setelah berpisah dengan kakaknya, Rama bertemu dengan seorang kepala polisi intelijen dan mendapat misi untuk menyusup ke dalam kelompok mafia elit. Setelah awalnya menolak misi tersebut, Rama akhirnya menerima ketika mengetahui bahwa kakaknya telah dibunuh oleh salah satu anggota kelompok mafia elit tersebut. Dan babak baru perjalanan Rama pun dimulai, bukan di sebuah gedung bertingkat dalam satu hari saja, tetapi perjalanan panjang di penjuru kota Jakarta.

Dalam The Raid 2, Gareth Evans tidak sekadar menawarkan aksi baku hantam mencengangkan saja, tetapi juga cerita yang setidaknya lebih baik dari film pertamanya. Gareth kali ini benar-benar memperhatikan hubungan sebab-akibat dalam film ini. Sepanjang cerita Gareth menempatkan beberapa momen yang menjadi titik penting untuk berlanjut ke titik penting yang lain. Walau tetap meninggalkan beberapa lubang di sana-sini, setidaknya usaha Gareth kali ini berhasil membuat The Raid 2: Berandal lebih dapat bercerita.

Naskah yang telah ditulis dengan baik oleh Gareth menjadi lengkap ketika dibangun dengan karakter-karakter yang berwarna dan sangat menarik dalam film ini. Penempatan Hammer Girl, Baseball Bat Man, Ucok, Bejo, Eka, Bangun, Prakoso, dan The Assasin dalam film menjadikan jalan cerita menjadi lebih berwarna. Karakter-karakter tersebut berhasil dibangun dengan kuat oleh naskah dan para pemerannya. Dan rasa-rasanya, Julie Estelle sebagai Hammer Girl dan Very Tri Yulisman sebagai Baseball Bat Man layak diberikan standing applause atas pertunjukannya yang memukau dalam porsi yang sebenarnya tidak terlalu banyak.

The Raid 2 memang sudah lebih baik dalam bercerita, tetapi Gareth masih meninggalkan beberapa lubang kecil dalam cerita tersebut. Ya, bagaimana pun, The Raid 2 tetaplah film yang jualannya utamanya adalah soal hajar-menghajar. Hal ini benar-benar dibuktikan oleh Gareth dengan aksi bag-big-bug-crotnya yang semakin menggila. Sepanjang cerita, begitu banyak patahan-patahan tulang dan darah-darah yang bermuncratan dengan brutal. Kegilaan semakin tak terbendung dengan koreografi yang benar-benar luar biasa hebat. Hantaman dan tusukan palu, pukulan bertubi-tubi, ayunan tongkat pemukul baseball, hingga tawuran massal di atas lumpur dipertunjukkan dalam koreografi yang akan membuat kita kehabisan kata-kata.  Itu semua adalah modal yang sangat sangat cukup untuk membuat seluruh momen dalam film ini menjadi luar biasa epic. Yayan Ruhian dan Iko Uwais rasanya sudah benar-benar gila.

Ya, The Raid 2 sudah sangat luar biasa dalam mempertunjukkan aksi-aksi yang jarang kita lihat dalam film-film Indonesia, Cina, atau Hollywood sekali pun. Namun, film ini tidak akan puas sampai di situ saja. The Raid 2 benar-benar berhasil menampilkan sebuah rangkaian gambar bergerak bersuara yang mengesankan. Camera worknya super asik, scorringnya mengiringi film dengan menggetarkan, dan tata artistiknya menghadirkan visual yang sulit dilupakan. Overall, The Raid 2: Berandal adalah serbuan maut yang dua kali lebih maut. Gareth Evans telah sangat sukses membuat The Raid 2 menjadi film yang layak untuk diingat, dibicarakan, dan ditonton berulang kali. Epic!

4/5
Baca juga: Review Soegija

Tinggalkan Balasan