Review – Trinity: The Nekad Traveler

The Nekad TravelerSeingat saya, belum ada film Indonesia tentang traveler yang berakhir memuaskan sejauh ini. Tahun lalu, Jilbab Traveler sebenarnya cukup bekerja dengan baik. Namun, bagi saya, tetap belum memuaskan sebagai sebuah film tentang traveler. Alih-alih ditulis dalam cerita yang baik, utuh, dan relevan sebagai kisah tentang traveler yang mampu menjelajahi dan membaca dunia dari sudut pandang yang lain, karya-karya yang sudah ada justru terjebak pada obsesinya pada pameran visual berbagai tempat di dunia. Tidak salah memang. Namun, ketidakmampuan cerita merangkainya dalam satu hal yang utuh menjadikannya kurang lengkap sebagai karya sinema.

 

Trinity: The Nekad Traveler, sayangnya, melakukan hal yang sama. Berbekal premis tentang seorang traveler dalam realitasnya sebagai pekerja kantoran, sebenarnya adaptasi dari seri buku The Naked Traveler ini punya potensi untuk menjadi tontonan piknik yang menarik. Dan sebenarnya hal itu cukup dimanfaatkan dengan baik dalam babak awalnya saat masih berkisah tentang kehidupan kantoran dalam “curi-curi waktu untuk traveling”nya. Sesuatu yang menarik dan bisa jadi sangat dekat dengan pengalaman hidup banyak pekerja kantoran yang hobi menjelajah.

 

Sayangnya, ketika mulai memasuki sesi jelajah yang seharusnya jadi jualan utama, kekacauan mulai terasa. Trinity: The Nekad Traveler menjadi seperti potongan-potongan rekaman yang dipaksa menjadi satu rangkaian kejadian. Terlebih lagi, karakter Trinity yang seharusnya menjadi ‘panduan’ dalam mengajak para penontonnya berpetualang justru tampil tidak simpatik. Kekeliruan yang terjadi akibat narasi yang lemah sehingga keseluruhan cerita, termasuk karakternya, menjadi tidak konsisten. Beruntung, Maudy Ayunda cukup dapat memerankannya dengan baik.

 

Kelemahan dalam narasi dan penuturannya pada akhirnya menjadikan Trinity: The Nekad Traveler sebagai petualangan yang kurang mengesankan. Pun rasanya terlalu banyak hal yang ingin diceritakan di dalamnya sehingga seluruh hal tersebut akhirnya pun tidak selesai memuaskan. Kabar baiknya, masih ada banyak visual cantik, termasuk keindahan Maldives, yang akan memanjakan mata setiap yang menontonnya (meski saya masih tidak paham gunanya memaksakan gambar pecah yang diambil dari jauh masuk ke dalam film). Jika memang hanya ingin melihat rekaman-rekaman cantik di dalamnya, berkunjung saja ke Trinity: The Nekad Traveler.

 

★★1/2

 

 

Baca juga: Review Bid’ah Cinta

 

2 thoughts on “Review – Trinity: The Nekad Traveler”

  1. Iya, gom. Ndak apik ya filmnya. Ceritanya gak kuat, mungkin karena naratornya kebanyakan ngasih tau. Jadi kebanyakan telling drpd showing. Konfliknya remeh, penyelesainnya juga ya cuma gitu doang. Sesungguhnya, menurut gue sinematografinya juga kurang memuaskan sih di beberapa adegan. Bagusan film indie. Ahahahaha. Jahat ih, gue. Tapi yaudahlah ya, Hamish cakep. Ahahahaha

    1. Iya, narasinya juga kebanyakan nggak nyambung. Hihihi. Beberapa adegan memang juga kurang oke. Contohnya ya gambar-gambar pecah yang dipaksakan masuk 😀

Tinggalkan Balasan