REVIEW: TURBO

review-turbo-kinerasyaBatas adalah sesuatu yang seringkali dipercayai begitu saja di dunia ini. Banyak yang menyerah pada batas-batas dan berhenti berusaha, bahkan berhenti bermimpi untuk melewatinya. Padahal, batas seringkali ada karena pembatasan diri sendiri, sugesti. Inilah yang hendak disampaikan oleh Dreamworks Animation SKG (selanjutnya ditulis DreamWorks). DreamWorks, yang selama ini memang telah banyak berbagi tentang kekuatan mimpi dan rasa percaya, kali ini kembali bercerita melalui Turbo.

Film ini bercerita tentang kekuatan mimpi yang mengantarkan seorang siput melewati batas-batas yang begitu jelas dalam dunianya, dunia siput yang kecil, serba lambat, dan tak berdaya. Film ini bercerita tentang dunia yang setiap paginya dimulai pada jam dan cara yang sama serta diakhiri dengan jam dan cara yang sama pula. Dunia yang membuat semua siput tak pernah berani bermimpi, kecuali seekor siput bernama Theo. Dari dunianya yang serba lambat, ia bermimpi menjadi cepat, menjadi siput yang dapat secepat mobil balap di Indiana 500. Setiap detik hidupnya dilalui dengan mempercayai bahwa mimpi tersebut adalah nyata.

Menikmati Turbo seperti kembali ke masa kecil yang penuh warna. Setiap detik ceritanya adalah warna tersendiri yang akan membawa kita melihat mimpi Theo dari dekat, tanpa jarak yang memisahkan mata dengan dunia dalam layar. Turbo berhasil menyampaikan segala sesuatu yang dimilikinya dengan baik melalui imajinasi menggelitik dan penggambaran serba hiperbolanya. Setiap karakter dalam film ini mempunyai kekuatannya tersendiri, mulai dari empat sekawan siput pemberani yang menjadi rekan setia Theo mewujudkan mimpinya, dua pasang kakak beradik (Chet-Theo dan Angelo-Tito) yang memiliki kesamaan cerita hidup, hingga pembalap mobil nomor satu yang setiap kalimatnya adalah orasi yang menggetarkan. Semua itu dipermanis dengan alur komedi yang disusun dengan baik. Kita akan menemui beberapa teknik seperti call back dalam stand up comedy yang digarap dengan baik dalam film ini.

Sekali lagi, menikmati Turbo seperti kembali ke masa kecil yang penuh warna. Setiap detiknya akan membawa kita ke dalam keseruan masa kecil. Turbo berhasil membuat seorang anak kecil melonjak-lonjak penuh kecemasan melihat perjuangan Theo. Turbo berhasil membuat seisi studio bersorak gembira merayakan kemenangan, menonton dengan lepas dan melupakan segala permasalahan. Logika bukanlah hal yang penting dalam film ini karena Turbo memiliki logika dunianya sendiri, dunia yang penuh mimpi dan imajinasi.

3/5

Baca Juga: Review Ponyo (2008)

Tinggalkan Balasan