[Review] Wonder Woman (IMAX 3D) – Perempuan dan Manusia dalam Perang

Wonder WomanSejak perjumpaan pertama dalam Batman v Superman, putri Diana (Gal Gadot) sudah menarik banyak hati yang menontonnya. Saya, tentu salah satu di antaranya. Putri Amazon yang muncul sebagai Wonder Woman itu punya banyak syarat untuk menjadi perempuan super yang didukung banyak orang karena sikap, kecantikan, keperempuanan, juga gestur dan ekspresinya yang unik. Karakternya sendiri sudah menjadi satu dari tiga karakter paling penting dalam DC Universe bersama Batman dan Superman. Maka, saat film solonya dirilis sebagai pendalaman karakter menjelang Justice League, saya tentu menyambutnya dengan bahagia.

 

Film yang diarahkan oleh Patty Jenkins (Monster) ini berkisah tentang masa kecil Diana hingga tumbuh dewasa di Themysicra dan pijakan langkah pertamanya beraksi sebagai Wonder Woman. Langkah yang diawali dari pertemuan dengan Steve Trevor, seorang agen intelijen Inggris pada masa perang dunia pertama yang menyusup ke dalam pasukan Jerman dan menemukan rencana mengenai senjata kimia yang sedang dikerjakan oleh ahli kimia Jerman, Dr. Maru (Elena Anaya). Bersama Steve, Diana pergi ke London untuk melakukan hal yang dia yakini harus dilakukannya.

 

Wonder Woman dimulai dengan sebuah narasi tentang manusia. Pembukaan yang kemudian menjadi salah satu pembicaraan paling penting sepanjang cerita. Menjadi penting karena diskusi tentang manusia sepertinya selalu saja akan relevan sampai kapan pun. Dan menjatuhkan pilihan pada perang dunia sebagai latar menjadikannya lebih penting lagi karena pada dasarnya perang adalah tentang manusia dan kemanusiaan.

 

Perbincangan mengenai manusia itu salah satunya hadir melalui sebuah pertanyaan inti tentang jati diri manusia itu sendiri. Garis antara kebaikan dan kejahatan yang seringkali tarik-menarik dalam riwayat hidup umat manusia. Pertanyaan inilah yang mendasari keyakinan Diana untuk berperang, membuatnya ragu, dan menentukan sikapnya saat jawaban atas itu kemudian ditemukan. Menjadikannya bukan sekadar pemanis, tetapi punya peran yang penting dalam jalan seorang putri Amazon.

 

Hal lain yang juga dituturkan dalam film ini adalah perempuan. Jelas karena memang kisahnya bertumpu pada karakter perempuan terkuat dalam genre superhero. Pula karena latar masa dan masyarakat di dalamnya menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat dapat didiskusikan. Hal yang sebenarnya juga masih relevan saat ini dalam beberapa hal dan kejadian. Juga karena aksi Diana di dalamnya adalah perlawanan atas hal-hal yang terjadi pada masanya. Dan di tangan Patty Jenkins, perempuan sutradara pertama di genre ini, seluruh hal mengenai perempuan itu menjadi lebih jelas dan terasa.

 

Kedua hal tadi, perempuan dan manusia, dipresentasikan dengan efektif melalui karakter Diana. Dan Gal Gadot memerankannya dengan nyaris sempurna. Walau rasanya ia lebih dapat masuk dengan maksimal dalam Diana yang lebih dewasa seperti yang kita temui dalam Batman v Superman, penampilannya di sini jelas tetap sangat mengesankan. Rasanya, ia memang diciptakan untuk menjadi seorang Wonder Woman.

 

Gal Gadot dengan baik menampilkan Diana yang masih sangat muda, penuh semangat, dan lugu. Seorang putri yang memang dibesarkan dengan ‘baik’ dalam lingkungan serta situasi yang nyaman dan memandang dunia sebagai ruang dengan batas hitam dan putih yang jelas. Juga Diana yang pertama kali bertemu dengan laki-laki, yang kemudian menciptakan chemistry manis dan sesekali jenaka dengan Steve Trevor. Saya yakin, ikatan di antara mereka akan sangat mudah membuat setiap yang menontonnya jatuh cinta.

 

Dua hal yang terasa lemah dalam Wonder Woman adalah musuh utama yang potensial, tetapi berakhir tanpa kesan, dan pertarungan terakhir yang tensi dan pencapaian koreografinya berada jauh di bawah pertarungan yang ada sebelumnya. Hal yang juga terjadi dalam Suicide Squad dan berarti pekerjaan rumah yang harus dituntaskan segera oleh DC untuk membawa film-film berikutnya pada karya yang baik secara utuh. Bukan hanya pada pembukaan, pertengahan, atau penutupannya.

 

Satu hal yang juga menjadi catatan lemah sepanjang perjalanan Diana bersama Steve adalah peralihan antaradegan yang seringkali terasa terbata-bata. Kelemahan yang dilengkapi dengan suntingan yang kurang rapi dan CGI yang tidak sempurna. Menjadikan aksi yang sebenarnya sudah dikoreografikan dan diadegankan dengan cantik beberapa kali menjadi kurang nyaman diikuti. Beruntung, beberapa momen punya kualitas yang mampu mengesampingkan kelemahan itu. Pertempuran pertama Diana adalah yang terbaik di antaranya.

 

Wonder Woman mungkin belumlah sempurna. Namun, jelas bagian terbaik DC Universe sejauh ini. Pun hal-hal di dalamnya terasa penting untuk diperbincangkan. Wonder Woman juga memiliki diversitas yang tidak terasa dipaksakan melalui Sameer (Saïd Taghmaoui), Charlie (Ewen Bremner), dan Chief (Eugene Brave Rock), tim pendukung di dalam perang. Diversitas yang terasa humanis, dekat, hangat. Format IMAX 3Dnya sebenarnya tidak terlalu mampu menampilkan depth dan pop out, tetapi melihat aksi Diana Prince dalam layar sebesar itu jelas sangat menyenangkan. Jadi, tonton saja di IMAX 3D.

 

★★★★

 

Baca juga: Review Pirates of the Caribbean 5

Tinggalkan Balasan