[Review] Ziarah – Cinta & Duka Yang Tak Biasa

ZiarahMenyusuri jejak langkah Mbah Sri mencari makam suaminya dalam Ziarah yang ditulis dan diarahkan oleh BW Purba Negara terasa begitu emosional. Menjejaki pencarian dalam 87 menit perjalanan menanyakan keberadaan makam berpahatkan nama Pawiro Sahid. Suami Mbah Sri itu pergi untuk berperang pada Agresi Militer Kedua Belanda, 1948, dan tak pernah kembali pulang. Puluhan tahun berlalu, dan didasari sebuah mimpi, Mbah Sri pergi untuk mencari.

 

Pencarian Mbah Sri mengingatkan saya pada banyak hal. Perang yang selalu punya dua sisi berlawanan. Menciptakan kemerdekaan (di samping kekuasaan yang juga ada di antaranya) sekaligus menyisakan rindu tak terbayar bagi mereka yang ditinggalkan. Lalu, kemiskinan dan keterpinggiran, “nasib” yang seringkali dijatuhkan penguasa kepada yang dirasa pantas menerimanya. Juga rumah yang terkadang hilang atau dihilangkan. Meniadakan tempat untuk pulang dan berziarah. Dan tentu saja, cinta.

 

Usaha Mbah Sri, di usianya yang sudah 95 tahun, itulah cinta. Kepatuhan untuk menunggu dan merelakan, sesuai dengan pesan lelaki yang dicintai, yang kemudian juga mendorong keinginan untuk mencari kebenaran. Bukan hal mudah tentu, merelakan sebuah kepulangan untuk hilang dan mempercayainya tanpa sebuah kepastian. Pada akhirnya, ada pilihan yang dijalani tanpa sebuah basa-basi. Jujur dengan keyakinan dan rasa sendiri. Menonton Ziarah akan mempertemukan kita dengan cinta yang seperti itu.

 

Ziarah merupakan potret yang sangat nyata dari sejarah dan realitas yang ada pada masyarakat desa kita, terutama Jawa, yang memang menjadi ruang jalan Mbah Sri. Yang dulu mau pun kini. Percakapan dan kelakarnya, fisiknya, interaksi antarkarakternya, kepercayaannya pada simbol, cerita, dan hal-hal yang tak tampak, serta sikap dan keputusan-keputusan yang ada di dalamnya. Keseluruhan hal itu adalah masyarakat desa di Jawa. Mbah Sri sendiri benar-benar sosok yang mewakili dengan baik “mbah-mbah Jogja-Solo dan sekitarnya”. Sebuah kesederhanaan. Menontonnya sungguh menghadirkan kerinduan pada saya untuk pulang dan merebahkan diri dalam kesederhanaan semacam itu.

 

Satu hal yang membedakan Ziarah dari film cerita panjang biasanya adalah pendekatan dan gaya tutur yang digunakan. BW Purba Negara memilih untuk memadukan cerita dengan “kenyataan” yang memang ada di sekitar dan membangun nuansa dokumentasi yang cukup kental. Menjadikannya catatan perjalanan Mbah Sri mencari makam suami yang penuh dengan emosi. Pun demikian dengan tata kamera yang seringkali tidak biasa. Sudut-sudut pengambilan yang tidak banyak digunakan dan pengadeganan yang terasa sangat apa adanya.

 

Pilihan itu membuat Ziarah terasa dekat dan nyata bagi banyak orang. Namun, secara bersamaan, juga menghadirkan ketidaknyamanan bagi beberapa orang karena sinematografinya dalam kualitas kemudian menjadi kurang konsisten. Seperti menyelipkan berbagai tambahan footage di antara adegan-adegan yang memang diciptakan dengan kualitas gambar yang sudah mapan. Tetap saja, pada akhirnya hal ini tidak akan terasa signifikan pengaruhnya karena memang toh yang ditampilkan sepanjang cerita adalah kesederhanaan.

 

Dari segi pemeranan, Mbah Ponco Sutiyem yang kabarnya tiba-tiba terkenal karena terpilih sebagai nomine untuk nominasi aktis terbaik di Asean International Film Festival & Award (AIFFA) memang berhasil menghidupkan Mbah Sri dengan baik. Dialog, laku, gestur, dan ekspresi wajahnya terasa tepat menghadirkan Mbah Sri yang sedang mencari. Apresiasi khusus memang rasanya layak diberikan mengingat usia dan latar belakangnya yang sama sekali tidak bersinggung dengan dunia peran.

 

Nama-nama lain yang ada di sepanjang perjalanan Mbah Sri juga berhasil dengan baik menampilkan warga desa yang nyata. Terlebih lagi, ketika seluruh dialog yang ada dituturkan dalam bahasa Jawa. Dari sinilah saya semakin percaya bahwa itulah kekuatan film dengan bahasa dan konten kedaerahan yang dikerjakan utuh oleh putra daerah. Karya yang terasa begitu nyata. Dan rasanya kita memerlukan lebih banyak lagi karya sinema yang demikian di layar-layar besar.

 

Mbah Sri akhirnya sampai di batas perjalanan. Akhir yang menghadiahkan kita sebuah perenungan dan juga pencarian. Saya melihat ke sekitar dan sebagian besar penonton ternyata masih duduk membaca kredit akhir di layar. Bukan untuk menunggu post credit scene karena ketika kredit berakhir dan tidak ada adegan tambahan semua beranjak dengan tenang tanpa ngedumel karena kecewa. Saya yakin, semua duduk karena merenung atau menghormati karya yang sudah mereka dalami tadi. Menghormati Mbah Sri dan ziarahnya.

 

★★★★

 

Baca juga: Review Critical Eleven

Tinggalkan Balasan