SHORT REVIEW: CINT(T)A

review-film-cinta-kinerasya

Brilian. Itulah kata yang pantas diraih oleh ‘cin(T)a’, sebuah film independen karya anak bangsa yang disutradarai oleh seorang sutradara muda berbakat bernama Sammaria Simanjuntak. Film ini bercerita tentang kisah cinta Cina (Sunny Soon), seorang mahasiswa baru sebuah Universitas di Bandung yang beragama Kristen dengan Annisa, mahasiswi arsitektur yang beragama Islam. Perbedaan yang kemudian menimbulkan konflik di antara keduanyalah yang menjadi topik utama film ini.

Film ini bersetting Bandung pada tahun 2000, saat isu perbedaan agama sedang menjadi hal yang sangat sensitif pada masyarakat. Melalui film ini kita diajak untuk berfilsafat tentang Tuhan. Seperti mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda jika Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara? Namun, yang paling penting dari film ini sebenarnya adalah pesan bahwa seharusnya perbedaan bukanlah hal yang menjadi alasan untuk memecah belah kita.

Sebagai film indie, cin(T)a tergolong sangat baik. Mulai dari sinematography, ide cerita yang sangat orisinil (terbukti dengan terpilihnya cin(T)a sebagai skenario asli terbaik FFI 2009), scorring dan sound track dari homogenic yang begitu mempesona di film ini, sampai aktrisnya yang sangat cantik dan mempesona, saya rasa, hehe.. Hanya saja ada beberapa kekurangan dalam film ini, terutama pada suara yang kurang natural, mungkin karena dana yang terbatas. Dana pulalah yang mungkin yang menjadi alasan cin(T)a hanya ditayangkan di Blitzmegaplex. Namun hal itu ternyata berdampak positif bagi film ini, karena memancing feed back yang sangat banyak lewat screening dan diskusi di berbagai event.

Dialog dalam film ini mengalir dengan sangat cerdas. Salah satu quote yang sangat cerdas adalah, “Kalo Tuhan gue aja berani gue khianati, apalagi lo nanti.” Dalam film ini juga terdapat banyak sekali simbol, seperti semut yang memancing banyak penafsiran dari penonton. Ya.. jika semut saja bisa memancing banyak penafsiran, apalagi Tuhan. Jadi, tidak akan ada ujungnya kalau kita mau berdebat dan bertengkar karena hal tersebut.

Baca juga: Review film Korea: Taegukgi

Tinggalkan Balasan