Short Review – Dear Nathan

Dear NathanSaya tidak memasang ekspektasi apa pun ketika memilih Dear Nathan sebagai penutup maraton film malam kemarin. Hanya ingin menyudahi malam dengan pengalaman yang ‘ringan-ringan saja’. Sebabnya, karya Indra Gunawan ini punya asal yang sama dengan karya-karya cinta remaja yang begitu-begitu saja belakangan ini, novel remaja yang larisnya bukan main. Maka, beruntunglah saya.

Di luar dugaan, mengikuti kisah cinta Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) terasa cukup menyenangkan. Sebagai sebuah film cinta remaja, Dear Nathan sudah berhasil menjadi kisah yang rikuh, tapi manis dan menggemaskan. Menontonnya akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri, mengingat lagi masa-masa SMA yang bagi banyak orang merupakan bagian termanis dalam hidupnya.

Mengadaptasi sebuah cerita cinta remaja dan sebuah novel bukanlah hal yang mudah. Setidaknya, hal itu dapat terlihat dari pencapaian film-film dalam genrenya sejauh ini. Namun, sepertinya nama-nama yang bekerja di balik adaptasi kali ini mengerti cara memanfaatkan dan mengembangkan materinya yang terbatas menjadi sebuah film yang cukup berkesan. Setidaknya, sebelum menjelang akhir beberapa hal klise kelewat gampang muncul dan menjadikannya tipikal.

Daya tarik paling kuat yang ada dalam Dear Nathan adalah penampilan para pemeran yang menghidupi karakternya. Jefri Nichol dan Amanda Rawles berhasil menghadirkan ikatan yang banyak orang kenal pada cinta masa SMA yang manis, tapi terkadang malu-malu. Penampilan yang dilengkapi dengan debut cukup mengesankan dari Diandra Agatha dan Beby Tsabina. Nichol, khususnya, sudah membuktikan kemampuannya sebagai aktor utama, misal dalam bagiannya bersama Surya Saputra di penghujung cerita yang memperbaiki hal-hal tipikal sebelumnya.

Hal lain yang menjadikan Dear Nathan berkesan adalah dialog yang tepat. Dialog terkadang gombal yang sebenarnya serupa dengan dialog dalam film-film Screenplay, tetapi ditulis dengan sebuah kesadaran menahan diri. Maka, yang mengisi percakapan Nathan dan Salma bukanlah dialog gombal menjengahkan, tapi dialog gombal yang manis dan masih terasa kejujurannya. Dan yang terpenting, relevan dengan masa-masa SMA yang memang demikian.

Dear Nathan memang akan terasa tipikal ketika memasuki bagian permasalahan cinta. Namun, seperti yang sudah saya tulis tadi, Nichol dan Surya berhasil memperbaikinya dengan baik di akhir cerita. Dan pada akhirnya, Dear Nathan, di luar dugaan berhasil menghadiahkan mood yang baik saat saya keluar bioskop. Menyudahi maraton film malam itu dengan menyenangkan. Tonton dan tersenyumlah.

★★★1/5

 

Baca juga: Review Trinity The Nekad Traveler

Tinggalkan Balasan