SHORT REVIEW – KUNG FU PANDA 3

kungfu panda 3

Saat Inside Out diputar beberapa bulan lalu, ada begitu banyak orang yang terpesona pada ide dan presentasi yang ditampilkan oleh Pixar saat itu. Namun, sesaat setelah keluar dari ruang bioskop, beberapa di antaranya tersadar bahwa ide dan penuturan yang ada pada Inside Out punya jarak yang begitu jauh dengan anak-anak. Kompleksitas yang ada di dalamnya terasa sangat berjarak dari dunia mereka yang sederhana. Pun ketika The Little Prince, salah satu animasi dengan kualitas yang bersaing dengan karya Pixar itu menyusul beberapa saat setelahnya, hal yang sama kembali terjadi. Sederhananya, film-film animasi berkualitas saat ini cenderung menjauh dari masa kecil yang sederhana. Padahal, film animasi, walau pada dasarnya tidak ditujukan khusus untuk itu, punya kedekatan yang erat dengan dunia anak-anak.  Maka, ketika Kung Fu Panda 3 dirilis, ada rasa bahagia yang bersemi karena dapat merasakannya kembali. Kesederhanaan yang menyenangkan itu.

Menonton Kung Fu Panda 3 adalah perjumpaan dengan kesenangan, keseruan, keharuan, dan kehangatan di saat yang bersamaan. Pertemuan Po dengan ayahnya, setelah selama bertahun-tahun menganggap dirinya sebagai panda terakhir yang hidup di seluruh dunia, adalah bekal yang sangat berharga untuk perjumpaan rasa tersebut. Dari sana, kita dapat melihat dilema dua ayah yang telah membesarkan dan merindukan seorang anak selama bertahun-tahun, penemuan makna keberadaan diri, hingga keberanian yang mengantarkan diri pada “kesempurnaan”. Memang, dengan durasinya yang hanya 90 menit itu, ada perasaan terburu-buru yang kadang mengganggu. Namun, bekal terbaik tadi benar-benar telah ditulis dan dituturkan dengan baik sehingga dapat dengan mudah menjalin keterikatan emosi dengan setiap hati yang menontonnya.

Keterikatan emosi yang berhasil diciptakan oleh DreamWorks dalam kelanjutan perjalanan Po ini merupakan hal yang sangat berarti untuk menjadikannya dekat dengan anak-anak. Kedekatan yang kemudian terasa lebih ketika Carloni dan Yuh yang mengarahkannya mau menuturkannya secara sederhana, lengkap dengan kehangatan yang diselimutkan dalam berbagai momennya. Dan rasanya tidak ada yang lebih menarik dari film animasi bagi anak-anak yang menontonnya selain visual yang menawan. Kabar baiknya, Kung Fu Panda 3 telah menjadi juara dalam hal ini. Menontonnya, terutama dalam format IMAX 3D, adalah sebuah pengalaman visual yang luar biasa dengan depth dan koreografi aksinya. Begitu menyenangkan sehingga kita akan melupakan intensitas aksinya yang sebenarnya menurun itu. A master emotion picture. Skadoosh!

★★★1/2

 

Baca juga: Review Zootopia

Tinggalkan Balasan