SHORT REVIEW – PESANTREN IMPIAN

pesantren impian

Pascakemunculan Ayat-Ayat Cinta pada tahun 2008, genre religi telah menjadi salah satu modal terbesar, jika tidak dapat dianggap sebagai jaminan, untuk mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia kebanyakan. Hal ini, setidaknya dibuktikan dengan begitu banyaknya film dengan genre religi yang dirilis setelah itu. Dan di antaranya selalu ada yang berhasil mendapat tempat dalam daftar film Indonesia dengan perolehan terbanyak setiap tahunnya. Namun, sayangnya pencapaian itu tidak selalu diiringi dengan pencapaian lebih dalam proses kreatif. Banyak di antaranya terjebak dalam satu konsep yang sama dan menjadikannya “kering” walau basah dengan air mata. Kabar baiknya, kemunculan beberapa karya seperti Mencari Hilal dan Talak 3 belakangan ini setidaknya dapat memberikan warna dalam proses kreatif film di lingkar religi ini. Dan Pesantren Impian yang diadaptasi dari novel karya Asma Nadia punya potensi yang cukup kuat mengikutinya.

Pesantren Impian muncul dengan sebuah tawaran genre religi yang di luar kebiasaan. Bahkan, bisa dibilang baru, thrillerreligi. Tawaran yang bagi banyak orang mungkin terasa janggal dan membuat enggan untuk mencoba. Film ini bercerita tentang sepuluh perempuan yang mendapat sebuah undangan ke pesantren impian, tempat terpencil yang didirikan untuk memberi kesempatan kedua bagi mereka yang datang dengan masa lalu kelam. Namun, dalam perjalanannya, kematian demi kematian yang aneh datang sebagai teror. Sebuah premis menjanjikan yang sayangnya dibuyarkan dengan penulisan naskah yang begitu lemah. Pola cerita yang seharusnya tampil sebagai jalan untuk memberikan tanda tanya, justru muncul sebagai sebuah pola berulang yang digunakan untuk menghadirkan teror di dalamnya. Begitu berulang sehingga semakin lama tensi cerita akan semakin terus menurun. Pun demikian pada presentasi Ifa Isfansyah, yang  jika dipandang sebagai sebuah thriller, masih jauh dari keberhasilan menghantar teror.

Keberhasilan Pesantren Impian justru muncul dari aspek religinya. Padahal, sebagai sebuah thriller yang pada akhirnya harus menempatkan dimensi “religinya” ke tengah-tengah teror, ada begitu banyak hal yang dapat dipertanyakan. Salah satunya adalah “ketidakberhasilan” ibadah ritual untuk menyelematkan manusia, berbeda dengan konsep yang ada dalam agama mana pun, termasuk Islam. Namun, di luar hal itu, rasanya Ifa Isfansyah telah berhasil menghadirkan emosi dengan benar di dalamnya, aspek yang bagi saya sangatlah penting dalam genre religi yang terkait erat dengannya, tanpa harus terjebak pada dramatisasi dan ceramah-ceramah tekstual. Emosi itu, hadir dengan hangat melalui hubungan karakter-karakter di dalamnya dengan harapan-harapan dan “jalan pulang”. Sebuah kehadiran yang akan membuat kita lebih peduli dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya.

Pesantren Impian mungkin belum berhasil menjadi sebuah “percobaan” teror yang efektif. Namun, usahanya sebagai sebuah proses kreatif tetaplah kabar baik bagi dinamika genre religi di Indonesia. Dan dengan penampilan yang cukup baik dari para pemeran di dalamnya, terutama Prisia Nasution, rasanya Pesantren Impian tetaplah sebuah “teror” religi yang penting untuk dirasakan kehadirannya.

★★★

 

Baca juga: Review Stay With Me

Tinggalkan Balasan