REVIEW: THE KITE RUNNER

kite-runner-kinerasya

Selamat datang di Afghanistan. Ya, itulah kesan pertama yang akan menyambut kita saat credit title membuka film ini. Barisan huruf yang muncul seolah membentuk sebuah pola kaligrafi modern yang menakjubkan. Lagu pembuka yang mengiringi pertunjukan seni kaligrafi ini pun semakin melengkapi sambutan awal yang sangat berkesan tersebut, selamat datang di Afghanistan. Tapi tunggu dulu, cerita tentang Afghanistan ini tidak akan berhenti begitu saja, setelah pertunjukan seni kaligrafi yang mengesankan tadi, bersiaplah untuk masuk ke dalam dunia Afghanistan, lengkap dengan tari-tarian khas yang sangat komikal, dan alunan musik romansa timur tengah. Sekali lagi, selamat datang di Afghanistan.

The kite runner adalah film yang diangkat dari novel karya Khaled Hosseini, seorang wartawan dan penulis Afghanistan-Amerika. Melalui film ini, kita akan diajak berpetualang ke masa pemerintahan komunis Afghanistan, invasi Rusia, sampai masa pemerintahan Taliban. Sebuah cerita tentang negeri penuh keindahan yang harus terperosok ke dalam lubang hitam yang begitu dalam. Tentang keluarga dan persahabatan yang tak akan pernah lekang. Film ini bercerita tentang persahabatan dua anak Afghanistan dari dua suku yang sangat berbeda. Persahabatan antara Amir, anak seorang politikus dari suku Pashtun, suku mayoritas dan terhormat di Afghanistan, dengan Hassan, anak seorang pembantu dirumah Amir dari suku Hazara, suku yang terpinggirkan di Afghanistan. Persahabatan Amir dan Hassan adalah persahabatan yang sangat erat, Amir sangat mempercayai Hassan, dan Hassan akan melakukan apa pun demi Amir, sampai pada akhirnya sebuah konflik memisahkan mereka. Ketika Rusia melakukan invasi ke Afghanistan, Amir dan ayahnya memutuskan untuk mengungsi ke Amerika. Waktu berjalan dengan cepat, sampai pada suatu hari setelah menikah, Amir menemukan sebuah fakta yang membuatnya memutuskan untuk kembali ke Afghanistan. Ya, ini adalah film tentang pencarian maaf seorang sahabat, seperti tagline utama film ini, “There is a way to be good again”.

Yang paling menarik dari film ini adalah permainan layang-layang, permainan yang menjadi ‘hidup’ anak-anak di Afghanistan sebelum perang berkecamuk. Marc Forster, sang sutradara benar-benar bisa menghidupkan visualisasi permainan laying-layang ini. Dengan perputaran kamera di udara dan layang-layang yang meliuk-liuk dengan indah di udara, hanya akan ada satu kata yang muncul dari benak kita, “wow”. Satu lagi, persahabatan antara Amir (Zekeria Ebrahimi) dan Hassan (Ahmad Khan Mahmodzada) terasa sangat hidup. Zekeria dan Ahmad dapat menggambarkan sebuah persahabatan yang sangat erat dan sangat tulus. Zekeria dapat memerankan Amir dengan sangat baik, perpaduan emosi dan karakter yang sangat rumit, anak dari keluarga kaya raya, pandai menulis, terlihat sangat intelek, sekaligus anak yang menyimpan beban dan tampak tertekan dengan keadaannya sehingga selalu menjaga jarak dengan siapa pun. Ahmad tampak sangat natural sebagai Hassan, eksentrik, tulus, pelindung. Ia seperti menyatu dengan sempurna dalam diri Hassan. Amir dan Hassan adalah salah satu penampilan anak-anak terbaik yang pernah ada dalam film.

The kite runner menceritakan begitu banyak kepedihan tentang Afghanistan. Mulai dari konflik antar suku yang tak pernah reda, orang yang menjual kakinya hanya demi makan dua hari, seorang pemilik panti asuhan yang merelakan seluruh harta dan hidupnya untuk menyaksikan anak asuhnya satu persatu harus dijual kepada salah satu pejabat Taliban demi kelangsungan hidup anak yang lain, dan suasana kelam yang tak pernah pergi dari. Semua itu digambarkan dengan sangat halus dan menyentuh oleh Marc Forster, tanpa harus menjadi sesuatu yang berlebihan. Sebenarnya ada kontroversi dalam film ini, tentang apakan Taliban memang seperti digambarkan dalam film, tetapi tidak adil rasanya jika harus menghakimi salah satu pihak tanpa tahu jelas fakta yang terjadi sebenarnya. Terlepas dari itu semua, apresiasi tinggi rasanya patut disematkan kepada Marc yang telah melukiskan film ini dengan sangat indah. Terlebih lagi, ternyata film ini tidak diproduksi di Afghanistan, melainkan di China. Tak seorang pun yang menyadari tersebut. Keputusan Marc untuk menggarap film ini dalam bahasa Dari, bukan bahasa Inggris, rasanya membuat film ini semakin terasa hidup. Semua hal tadi membuat saya sangat ingin menonton karya Marc lainnya. Brilian. 5 dari 5 bintang dari saya.

Tinggalkan Balasan