Film Indonesia Terbaik 2019

15 Film Indonesia Terbaik 2019

Sepanjang tahun 2019, saya meluangkan waktu dan usaha lebih banyak manyambangi bioskop untuk menonton film Indonesia. Masih dengan alasan yang sama seperti sebelumnya, melengkapi pengalaman dan mengenal lebih dekat sebaik dan seburuk apa film-film yang kita punya. Sebuah usaha untuk memenuhi tanggung jawab sebagai penulis kritik (yang sudah lama tidak menulis panjang. hehe.) dan terbiasa menulis catatan tahunan untuk film-film yang saya tonton. Sayangnya, menjelang pergantian tahun, saya jauh lebih sedikit menonton film karena perlu memberi perhatian lebih pada hal-hal lain yang juga penting dan berharga bagi saya. Tetap saja, saya bersyukur bisa mengalami perjalanan sinematik dalam film-film yang tahun ini pencapaiannya terasa lebih merata. Juga, untuk tema-tema dan genre-genre yang terus dieksplorasi dalam karya-karya sinema kita.

Seperti biasa pula, sebagai salah satu apresiasi, saya menulis catatan berisi daftar film Indonesia yang berhasil memberikan pengalaman terbaik bagi saya setahun ini. Sayangnya, kali ini saya lupa meluangkan waktu untuk menulis catatan tambahan untuk nama-nama terbaik dalam film yang biasanya juga saya sertakan. Mudah-mudahan tahun depan tidak terulang lagi. Dan sebagaimana yang sudah saya mulai dua tahun lalu, catatan ini diisi oleh lima belas film berdasarkan seratus lebih film yang saya tonton di bioskop dan ruang-ruang alternatif dalam pemutaran-pemutaran untuk umum sepanjang tahun 2019. Jika ada yang bertanya-tanya, Keluarga Cemara tidak akan ada di dalam daftar karena sudah saya masukkan dalam catatan di tahun lalu.

  1. Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini

    Film NKCTHIMenyentuh dengan cara yang sangat berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Bagi saya, ini adalah karya Mas Angga dengan beban terberat sejauh ini. Cukup sulit rasanya meresapi act I dan II yang dipenuhi dengan masalah, tapi penyelesaiannya pada act III seketika menenggelamkan saya sepenuhnya dalam emosi yang sangat dalam. Ruang belajar yang perlu dan berharga untuk semua keluarga..

  2. 27 Steps of May

    27 Steps of MayTrauma pada perkosaan seringkali menciptakan dinding-dinding tinggi dan tebal untuk usaha menyembuhkan luka. Korban dan hal-hal di sekitarnya seringkali tak akan lagi sama. Ravi Bharwani menuturkan trauma itu dalam cerita getir dan sunyi melalui simbol-simbol monokrom dan gerak-geriknya yang penuh batas. Penuh sesak. Namun, melegakan.

  3. Dua Garis Biru

    Dua Garis BiruKisah penting untuk seluruh keluarga dan generasi muda kita yang dituturkan melalui interaksi kuat antardua karakter utamanya dan orang tua di dua keluarga. Masing-masing memberi kita perspektif berbeda yang bukan benar-salah. Membiarkan yang menonton belajar dan berproses sepanjang perjalanannya. Debut pengarahan yang sangat mengesankan dari seorang Gina S. Noer.

  4. Imperfect

    ImperfectSebuah diskusi penting nan kompleks tentang insecurity yang dituturkan dengan sederhana, hangat, dan menyentuh. Ditutup dengan sebuah pernyataan bergaris tebal tentang penerimaan diri, memahami yang lain, menjadi unik, dan mencintai diri sendiri. Satu pembuktian kembali bahwa semakin personal materinya, semakin cemerlanglah kedalaman pengarah seorang Ernest Prakasa.

  5. Kucumbu Tubuh Indahku

    Kucumbu Tubuh IndahkuPuisi tentang trauma-trauma seorang manusia kepada tubuh dan pembicaraan gender dalam narasi teatrikal yang dekat dengan tradisi tari Jawa dari seorang Garin Nugroho. Sebuah pernyataan bahwa luka masa lalu seringkali membentuk rupa diri seseorang di masa depan. Menjadi pemicu dari pilihan-pilihan yang akan diambil. Sungguh puitis dan menarik dibicarakan.

  6. Ratu Ilmu Hitam

    Ratu Ilmu HitamKimo Stamboel membuktikan bahwa kualitas pengarahannya yang sesungguhnya ada pada teror semacam ini. Memanfaatkan dan mengeksploitasi bermacam rasa takut dan mengawinkannya dengan teror berdarah yang outstanding. Meresahkan, tapi juga berkemampuan untuk tampil simpatik dalam interaksi antarkarakter yang menarik dan meyakinkan. Sebuah adaptasi yang relevan dan dibutuhkan zaman.

  7. Pretty Boys

    Pretty BoysKomentar sosial tentang industri televisi dan menjaga hal-hal berarti yang “dipanggungkan” dalam sebuah karya komedi dengan sentuhan drama yang sangat-sangat kuat. Menjadikannya pengalaman ketawa-ketawa-ambyar yang mengingatkan saya pada Hello Ghost. Direkam dalam sinematografi dan tata artistik “instagrammable” yang sangat memanjakan mata. Sebuah debut yang sangat impresif dari dokter Tompi.

  8. Love for Sale 2

    Love for Sale 2Meninggalkan patah hati yang berbeda dengan kisah pertamanya. Tidak lebih mengguncang, memang, tapi melaluinya ada kesempatan untuk menemui Arini sebagai karakter yang lebih utuh, mengenal dirinya sebagai manusia yang punya rasa dan terbentuk dari perjalanan yang tidak singkat. Kisah cinta dalam ruang keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Hangat dan terasa dekat.

  9. Perempuan Tanah Jahanam

    Perempuan Tanah JahanamTeror terbaru dari seorang Joko Anwar membicarakan banyak hal tentang perempuan dan perjuangannya, juga banyak karakter perempuan dengan pertaruhannya masing-masing. Menghadirkan rasa takut yang lebih mengerikan daripada ketakutan akan penampakan-penampakan yang menyeramkan, yaitu manusia dan berbagai sisi gelapnya. Pertunjukan horor yang mengguncang.

  10. Bebas

    Film BebasAdaptasi dari Sunny dengan pesan yang sama tentang perempuan dan aktualisasi dirinya. Dituturkan dengan sedikit penyesuaian terhadap kebiasaan yang ada di masyarakat kita. Kisah persahabatan yang direkam dalam sebuah mix tapes pop culture era 90-an. Sebuah potret zaman yang menyenangkan dan penting untuk disimak oleh semua perempuan.

  11. Mantan Manten

    Mantan MantenMembicarakan paes dalam tradisi pernikahan adat Jawa dari sisi yang sangat personal. Membumikannya sehingga terasa lebih dekat dan mudah dipahami, sembari tetap mempertahankan daya magisnya yang memang lekat. Persingunggan dua perspektifnya pun (modern dan tradisional) dilakukan dengan menempatkan keduanya dalam posisi yang sama hormat.

  12. Bumi Manusia

    Bumi ManusiaMenceritakan kembali salah satu karya sastra paling dihormati dalam sejarah kesusastraan Indonesia tentu bukan hal mudah sama sekali. Dan Hanung Bramantyo berhasil melakukannya dengan menjaga keseimbangan antara kedalaman pesan antipenjajahannya dan keperluannya untuk dapat diterima oleh generasi yang lebih baru. Juga, dengan tata produksi yang layak dan meyakinkan.

  13. Twivortiare

    TwivortiareKisah cinta seperti inilah yang dibutuhkan dalam katalog perfilman kita. Perjalanan rasa yang diiringi proses bertumbuh karakter-karakter yang menghidupinya. Lantas, membuat saya berdialog sendiri dengan hati tentang apa yang mungkin juga akan saya lakukan dalam keadaan yang sama. Dan Reza-Raihaanun telah menyampaikan salah satu interaksi terbaik yang pernah ada dalam kisah cinta sinema kita.

  14. Ghost Writer

    Ghost WriterBerangkat dari premis yang sangat unik, “hantu yang membantu seorang penulis dalam menyusun cerita tentang kematiannya”, debut pengarahan Bene Dion ini kemudian berhasil menjadi karya drama komedi dengan sentuhan horor yang cukup. Punya comedic timing yang tepat dan momen-momen dramatik yang dalam. Yang terbaik dari film lebaran kita tahun lalu.

  15. Ave Maryam

    Ada tiga hal dari karya Robby Ertanto ini yang meninggalkan kesan cukup mendalam. Penampilan Maudy Koesnaedi yang dapat mengguratkan emosi batin Maryam dengan baik, sinematografi yang berhasil menuturkan perasaan-perasaan yang ada dengan indahnya, dan komentar sosial tentang ketimpangan gender dalam relasi pastor dan biarawati.

Special mention: Gundala, Dilan 1991, Lagi-Lagi Ateng, Doremi & You, dan Hit & Run.

Baca juga: Film Terbaik Dunia 2019 & Film Terbaik Indonesia 2018

Tinggalkan Balasan